Oleh : Ahmad Dhiyaurrahman S.Ag
Selama ini kita sering memandang kebiasaan saling meminta jajan, menumpang sabun cuci, atau meminjam perlengkapan kawan di asrama sebagai hal yang wajar dan lumrah, seolah-olah atas nama kebersamaan dan solidaritas, seorang santri bebas menggantungkan kebutuhan pribadinya pada milik orang lain.
Kita kerap menganggap sepele hal-hal kecil tersebut karena merasa hidup seatap, tetapi kita lupa bahwa membiarkan kebiasaan itu terus berulang perlahan dapat mengikis rasa malu dan menumbuhkan mentalitas ketergantungan. Padahal, jika kita melihat lebih jauh, hakikat kekayaan di lingkungan pesantren sama sekali tidak diukur dari kelimpahan materi, ada kehormatan diri serta rasa malu, kemandirian, dan integritas yang semestinya dijaga agar santri tidak terbiasa bermental meminta-minta.
Kebersamaan di pesantren sejatinya bukan pembenaran untuk menumpang pada orang lain, melainkan sarana untuk melatih hidup minimalis serta menumbuhkan keluhuran jiwa sebagai pemberi dan tidak bermental sepeti pengemis, sebagaimana yang dicontohkan oleh kelompok ahlussuffah, didalam firman Allah QS. Al-Baqarah: 273 berbunyi :
لِلْفُقَرَاۤءِ الَّذِيْنَ اُحْصِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ ضَرْبًا فِى الْاَرْضِۖ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ اَغْنِيَاۤءَ مِنَ التَّعَفُّفِۚ تَعْرِفُهُمْ بِسِيْمٰهُمْۚ لَا يَسْـَٔلُوْنَ النَّاسَ اِلْحَافًا ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ ࣖ ٢٧٣
(apa pun yang kamu infakkan) diperuntukkan bagi orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan allah dan mereka tidak dapat berusaha di bumi. orang yang tidak mengetahuinya mengira bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka memelihara diri dari mengemis (yakni Ahlus Suffah), engkau (Nabi Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya (karena) mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain. kebaikan apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah maha tahu tentang itu.
Mengenai ayat ini, At-Ṭabarī menjelaskan bahwa, melalui konsep ta’affuf yang ada pada penggalan ayat yang berbunyi :
يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ
menafsirkan ini sebagai orang-orang yang tidak mengetahui keadaan mereka mengira bahwa mereka kaya, karena mereka menjaga diri dari meminta-minta dan tidak berusaha mengetahui apa yang ada di tangan orang lain, mereka bersabar menanggung kesulitan dan penderitaan sehingga tampak seolah-olah berkecukupan. Hal ini sebagaimana yang nabi katakan وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللّه وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللّه “barang siapa menjaga kehormatan dirinya maka allah akan menjaganya dan barang siapa yang merasa cukup maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya”
Dari sini kita mengambil hikmah bahwa ayat ini mengajarkan kepada kita mengenai kemuliaan seorang hamba justru terletak pada kemampuannya menjaga kehormatan diri dengan tidak meminta-minta kepada sesama manusia, dengan Meneladani kelompok Ahlus Suffah yang tekun dan hidup sederhana namun pantang merendahkan harga dirinya, santri semestinya dididik untuk memiliki rasa cukup dan mentalitas sebagai pemberi bukan peminta, sebagaimana yang dikatakan didalam hadist اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرُ مِّنَ الْيَدِ السُّفْلَى yakni “tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah”.
Dengan mengubah kebiasaan dari gemar meminta barang milik kawan, menjadi pribadi yang mandiri, hemat, dan gemar berbagi, santri sejatinya menanamkan fondasi mental kaya yang berwibawa dan bermartabat.
Alih-alih menunggu diberi atau meminta milik kawan, santri dibiasakan untuk berbagi secara sukarela, ketika seseorang berniat memberi, tangan di atas bekerja, ketika seseorang selalu menunggu uluran tangan teman, mental ketergantungan dibiarkan tumbuh.
Oleh karnanya, untuk mengatasi fenomena ini, diperlukan langkah terpadu di lingkungan asrama pesantren:
Pertama, Ustadz-Ustadzahnya memberikan pelajaran tentang adab kepada teman yakni dengan menanamkan pemahaman bahwa menjaga barang-barang kecil milik teman adalah akhlak mulia serta solidaritas dan kebersamaan itu seharusnya tidak boleh disalahartikan sebagai pembenaran untuk menggantungkan kebutuhan pribadi temannya, meskipun ia adalah teman yang setiap hari dijumpai.
Kedua, Mengajarkan manajemen kebutuhan : Ustadz-Ustadzah perlu melatih mengelola uang saku dan membuat jadwal kebutuhan logistik harian (seperti sabun cuci, pasta gigi, dan cemilan) kepada santri. Dengan membiasakan hidup hemat dan terencana, supaya santri tidak mudah kehabisan bekal di pertengahan waktu yang memicu kebiasaan meminta-minta.
Dengan adanya 2 langkah ini, Insya Allah bisa mengurangi kebiasaan meminta-minta dan menumbuhkan budaya untuk saling berbagi.
Ingatlah: “Jangan menunggu kaya untuk memberi, tapi berbagilah agar hatimu menjadi kaya, sekecil apa pun yang dimiliki, jika dibagikan dengan niat tulus, akan melatih jiwa santri menjadi jiwa dermawan dan pemurah”
