Oleh: Asrida Adetry, S.IP.

Apakah kita masih mengingat kisah Hind Rajab? Anak perempuan Palestina berusia 5 tahun tewas ditembaki militer Israel bersama enam anggota keluarganya saat mereka mencoba mengungsi, dan dua paramedis yang dikirim untuk menyelamatkan Hind di Tel al-Hawa, Kota Gaza, juga ditembaki.
Apakah kita masih mengingat Saleh Al-Jafarawi? Seorang jurnalis sipil dan kreator media sosial Palestina yang menjadi salah satu sumber informasi utama dalam memberikan laporan keadaan di Gaza. Ditembak mati hanya beberapa hari setelah Israel dan Hamas mencapai kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza.
Rabu, 7 Oktober 2026, menandai 3 tahun genosida Israel di Palestina dan hingga saat ini korban masih terus berjatuhan. Tidak hanya kisah tentang Hind Rajab atau Saleh Al-Jafarawi, tetapi setidaknya 74.245 orang Palestina telah menjadi korban, termasuk di antaranya 21.000 anak-anak dan lebih dari 175.000 orang terluka, dilansir dari Kementerian Kesehatan Gaza.
Sekitar 82% bangunan, 92% rumah dan hampir 98% sekolah telah rusak dan hancur, sementara semua 36 rumah sakit telah terkena serangan dan hanya 19 rumah sakit yang masih berfungsi. 90% infrastruktur air dan sanitasi yang telah rusak. Sekitar 9 dari 10 penduduk telah pindah dan sekitar 10.000 orang hilang di bawah reruntuhan. Penangkapan massal terjadi secara sewenang-wenang dan serangan militer harian
Tapi pertanyaannya, apakah baru 3 tahun ini?
Eskalasi konflik yang terjadi sejak pecahnya perang Palestina-Israel tiga tahun terakhir seharusnya menjadi pengingat bahwa masyarakat Palestina tidak menderita sejak tahun 2023, tetapi bertahun-tahun sebelumnya telah mengalami penderitaan dikarenakan harga “tanah”.
Semuanya dimulai sejak tahun 1948, yaitu peristiwa Nakba Palestina. Pasukan Zionis melakukan pembersihan etnik terhadap penduduk Palestina dengan menghancurkan ratusan desa Palestina, melakukan pembunuhan dan pembantaian, serta mengusir penduduknya, yang mengakibatkan sebagian besar penduduk Palestina kehilangan tempat tinggal dan mengungsi ke negara-negara Arab lainnya. Masyarakat Palestina hidup dalam penindasan dan kehancuran negara sendiri.
Istilah Nakba kembali disebutkan pasca-27 Oktober 2023. Lembaga kemanusiaan internasional seperti Amnesty International menilai bahwa blokade total, pengusiran paksa, dan tingginya angka kematian warga sipil di Gaza memiliki kemiripan pola pembersihan etnis yang mengerikan dengan yang dialami pada tahun 1948.
Kemiripan peristiwa kerap dikaitkan dengan konteks peristiwa, aksi militer, dampak pengungsian, hingga kerusakan wilayah. Pemboman udara intensif dan peluncuran operasi darat penuh oleh IDF (Israel Defense Forces) atau Pasukan Pertahanan Israel. Perintah evakuasi total yang memaksa jutaan warga Gaza Utara mengungsi ke wilayah selatan hingga penghancuran massal infrastruktur kota, rumah sakit, dan kamp pengungsian di Gaza.
Tidak hanya itu, berbagai serangan dan peristiwa sejak 7 Oktober 2023 memperlihatkan bagaimana militer Israel melampaui batas kemanusiaan. Pelanggaran yang mereka lakukan sudah tidak bisa didefinisikan dengan kata-kata. Termasuk dalam pelanggaran Hukum Internasional dalam Hukum Perang (Laws of War). Hukum ini menjadi suatu norma yang harus dipatuhi oleh masyarakat internasional dalam perang dan konflik bersenjata. Hukum mengatur secara ketat batasan-batasan dan objek sasaran militer. Di antaranya adalah penyerangan terhadap warga sipil, tenaga medis dan rumah sakit, korban perang, benda cagar budaya, kota dan desa. =
Akan tetapi, jumlah korban masyarakat sipil , perusakan infrastruktur, bahkan hingga penyerangan di kamp-kamp pengungsian menunjukkan semua pelanggaran yang dilakukan oleh Israel. Termasuk di antaranya penyerangan terhadap jurnalis. Melalui Kantor Media Pemerintah Gaza (per Oktober 2026), jumlah jurnalis Palestina yang tewas dalam perang di Gaza telah mencapai 263 orang. Hampir 500 orang terluka dan puluhan jurnalis ditahan di penjara Israel. Para jurnalis yang telah kehilangan rumah, tempat kerja, dan anggota keluarga harus berpindah dari lokasi pengeboman, kamp pengungsian, hingga rumah sakit untuk terus menjalankan tugas jurnalistik. Dalam kondisi di mana hidup mereka juga tidak pasti, mereka tetap menjadi sumber utama informasi langsung dari lapangan karena pelarangan Israel terhadap jurnalis asing untuk memasuki wilayah Gaza.
Selain itu, serangan Israel telah merusak atau menghancurkan sebanyak 16 kantor televisi satelit, 12 kantor surat kabar dan majalah, 11 lembaga radio, 23 organisasi media digital, 27 percetakan, serta lima organisasi serikat pekerja dan lembaga hak asasi yang bergerak di bidang media. Perkiraan kerugian sektor media mencapai sekitar $1 miliar. Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) mengatakan jumlah jurnalis yang tewas di Gaza menjadi yang tertinggi dalam sejarah jurnalisme modern, bahkan daftar korban terus ditinjau dan diperbarui seiring munculnya informasi baru.
Sindikat Jurnalis Palestina memperkirakan terdapat sekitar 1.200 jurnalis di Gaza, yang lebih seperlima di antaranya telah tewas selama genosida. Kita telah melihat bagaimana para jurnalis berjatuhan, seperti Direktur Jenderal Press House-Palestine, Bilal Jadallah, tewas pada November 2023 setelah serangan Israel menghantam kendaraannya di Kota Gaza. Jurnalis lepas Anadolu, Saed Abu Nabhan tewas ditembak penembak jitu Israel pada 10 Januari 2025 pada saat menjalankan tugas jurnalistik dan kemanusiaan di kamp pengungsi Nuseirat, Gaza Tengah. Semua ini adalah bentuk pelanggaran dan salah satu alasannya adalah agar suara dan informasi tentang kenyataan apa yang terjadi di Gaza tidak tersebar luas.
7 Oktober 2026
Hingga saat ini, kita masih melihat foto dan video yang menunjukkan kondisi Gaza yang masih diserang dan korbannya adalah seluruh masyarakat Palestina yang merupakan masyarakat sipil yang tidak bersalah.
Apakah kita sudah terbiasa melihat semua video dan informasi tentang Palestina, sehingga ketika melihat hal tersebut, kita dengan gampangnya menggulirkan apa yang kita lihat di media sosial?
Apakah sekarang kita sudah kembali membeli berbagai produk boikot yang menyalurkan uangnya untuk pembunuhan orang-orang di Gaza?
Apakah kita masih terbatas pada batas “nation-state”, terjebak dalam paradigma “negara kita saja sedang banyak masalahnya”. Padahal, ketika kita peduli pada yang jauh, bukan berarti kita akan abai terhadap yang dekat.
Dalam suatu video yang berjudul (Are We Doing Enough For Gaza) oleh Dr. Omar Suleiman (Cendekiawan Islam dan aktivis hak-hak sipil Amerika Serikat), beliau mengungkapkan “Bayangkan kita kelak di hadapan Allah ketika ditanya tentang mereka. Jika jawaban kita saat ini belum cukup di hadapan-Nya, maka teruslah berbuat lebih, karena kita tidak pernah tahu usaha mana yang akan membuka jalan pertolongan yang besar.”
Maka jadikan momen ini untuk melihat kembali, hal-hal kecil apa yang bisa kita lakukan. Teruslah menyebarkan informasi tentang Gaza, teruslah membantu dalam donasi, teruslah memboikot produk-produk dan perusahaan yang memberikan sumbangannya kepada Israel serta teruslah belajar dan bersuara!
Seperti yang dikatakan Bisan (seorang jurnalis, pembuat film dan aktivis kemanusiaan asal Palestina) yang hingga detik ini masih menyuarakan Palestina melalui konten dan beritanya “ My message on the third anniversary of the ongoing genocide. We need all to use our strength to liberate our people! That’s it!”
FREE PALESTINE

Add a Comment