ALAM BUKAN OBJEK, TETAPI MITRA

Oleh: Muh. Akram J. Said, M.Ag.

Selama ini kita sering memandang alam sebagai sesuatu yang bebas kita manfaatkan. Seolah-olah manusia dapat melakukan apa saja terhadap alam. Pepohonan, gunung, laut, tumbuh-tumbuhan, dan berbagai kekayaan alam lainnya terkadang kita hanya fokus pada manfaat dan keuntungannya, tetapi kita lupa memikirkan keberlangsungannya.

Padahal, jika kita melihat lebih jauh, manusia sendiri tidak dapat hidup tanpa alam. Ada hubungan ketersalingan antara manusia dan alam, sehingga hubungan tersebut tidak sesederhana menempatkan manusia sebagai subjek dan alam sebagai objek.

Al-Qur’an memberikan pengingat agar manusia memperhatikan hubungan tersebut. Salah satunya terdapat dalam QS. al-Jâtsiyah [45]: 13:

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ۝١٣

“Dia telah menundukkan (pula) untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

Jika dibaca sekilas, ayat tersebut memang menunjukkan bahwa alam telah disediakan Allah untuk kemaslahatan manusia. Namun, perhatian kita sering kali hanya tertuju pada kata “menundukkan”, sehingga pemanfaatan alam terkadang dipahami secara berlebihan. Alam seakan-akan bebas dieksploitasi selama dapat memberikan keuntungan bagi manusia.

Padahal, ayat tersebut juga mengajak manusia untuk berpikir dan melihat tanda-tanda kebesaran Allah melalui apa yang ada di langit dan di bumi. Artinya, pemanfaatan alam seharusnya tidak membuat manusia lupa bahwa ada tanggung jawab yang harus dijalankan terhadap alam.

Kalau kita menerima bantuan dari seseorang, tentu kita merasa perlu mengucapkan terima kasih. Lalu bagaimana dengan alam yang setiap hari memberikan begitu banyak manfaat kepada manusia? Alam menyediakan makanan, air, udara, tempat tinggal, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Kita memang tidak dapat mengucapkan terima kasih kepada alam sebagaimana kepada manusia, tetapi rasa terima kasih tersebut dapat diwujudkan melalui sikap bertanggung jawab, seperti tidak mengambil secara berlebihan, tidak merusak, dan menjaga keberlangsungannya.

Persoalannya, saat ini kita masih sering melihat berbagai kerusakan alam yang dilakukan secara sadar. Penebangan pohon secara liar, pengikisan gunung, pencemaran sungai, hingga berbagai bentuk eksploitasi alam dapat dengan mudah kita temukan di berbagai media.

Mereka yang melakukan kerusakan tersebut bukan berarti tidak mengetahui akibatnya. Namun, kepentingan pribadi dan kelompok terkadang membuat manusia lebih mengikuti hawa nafsunya daripada memikirkan dampak yang akan dirasakan oleh orang lain dan lingkungan.

Dalam konteks ini, peringatan Rasulullah tentang hawa nafsu menjadi penting untuk direnungkan. Terdapat ungkapan yang dinisbatkan dalam hadis: وَإِنَّمَا أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَهْوَاءَكُمْ الْمُضِلَّةَ, “yang aku khawatirkan atas kalian adalah hawa nafsu kalian yang menyesatkan.”

Peringatan tersebut menunjukkan bahwa hawa nafsu dapat membuat manusia lebih mengutamakan keinginan pribadi daripada kebenaran dan kemaslahatan. Dalam persoalan alam, hal tersebut dapat terlihat ketika manusia hanya mengejar keuntungan tanpa mempertimbangkan kerusakan yang ditimbulkan.

Manusia memang membutuhkan alam dan boleh mengambil manfaat darinya, tetapi pemanfaatan tersebut tidak berarti boleh dilakukan sesuka hati. Dalam buku Al-Mîzân: A Covenant for the Earth terdapat ungkapan, “we are to take from the environment and to give to it, to uphold its rights or due (haqq)”.

Kalimat tersebut dapat dipahami bahwa manusia memiliki hubungan timbal balik dengan lingkungan. Manusia mengambil manfaat dari alam, tetapi pada saat yang sama memiliki kewajiban untuk memberikan sesuatu kepadanya, menjaga hak-haknya, dan memenuhi apa yang menjadi hak alam.

Dengan cara pandang seperti ini, alam tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang memberikan manfaat kepada manusia, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan yang perlu dihormati dan dijaga.

Hubungan manusia dengan alam terkadang kurang mendapatkan perhatian. Kita sering berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah dalam bentuk keimanan dan ibadah, begitu pula hubungan manusia dengan sesama dalam kehidupan sosial. Namun, ada hubungan lain yang juga penting, yaitu hubungan manusia dengan alam.

Setiap hari manusia bergantung kepada alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Makanan yang kita makan, air yang kita minum, dan udara yang kita hirup semuanya memiliki hubungan erat dengan alam. Karena itu, perhatian terhadap alam seharusnya menjadi bagian dari tanggung jawab manusia.

Guru kami pernah menyampaikan bahwa alam, seperti pepohonan, gunung, dan laut, sebenarnya merupakan mitra manusia dalam menjalani kehidupan di dunia. Alam dan manusia saling melengkapi dalam menjaga keseimbangan dan keberlangsungan hidup.

Memang manusia memiliki kedudukan yang istimewa dibandingkan makhluk lainnya karena diberikan akal dan kemampuan untuk berpikir. Namun, keistimewaan tersebut bukan alasan untuk mengabaikan alam. Justru dengan akal tersebut manusia seharusnya mampu memahami bagaimana memanfaatkan alam dengan baik sekaligus menjaganya.

Hubungan manusia dengan alam merupakan hubungan yang tidak dapat dipisahkan dari keberlangsungan kehidupan. Alam memberikan berbagai manfaat kepada manusia, sementara manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan melestarikannya.

Relasi tersebut tidak semestinya hanya dibangun atas dasar penguasaan dan eksploitasi, tetapi melalui sikap saling menghargai dan bertanggung jawab. Manusia tidak hanya mengambil manfaat dari alam, tetapi juga memiliki kewajiban untuk menjaga keberlangsungannya.

Karena itu, alam bukan sesuatu yang diciptakan untuk diabaikan setelah manfaatnya diambil, melainkan sesuatu yang perlu diperhatikan, dirawat, dan dihormati. Dengan demikian, alam tidak lagi hanya dipandang sebagai objek, tetapi sebagai mitra manusia dalam menjaga keberlangsungan kehidupan.

Pemuda sebagai Aktor Inovasi

Oleh: Nurafni Bisinda, M.Ag.

Di berbagai penjuru Indonesia, fenomena desa yang perlahan-lahan kehilangan generasi mudanya semakin nyata terlihat. Perkotaan tumbuh semakin padat dan riuh, sementara di sudut-sudut pedesaan, sawah dan ladang mulai kehilangan para penerusnya. Pemandangan ini bukan sekadar tentang pergeseran demografi, melainkan cerminan dari persoalan sosial dan ekonomi yang mendalam tentang bagaimana generasi muda memandang masa depan mereka.

Bagi banyak anak muda di pedesaan, keputusan untuk merantau berakar pada realitas hidup yang terbilang sulit. Bayangan akan tempat tinggal yang sepi, keterbatasan pilihan lapangan kerja, serta penghasilan yang pas-pasan menciptakan dorongan kuat untuk mencari peruntungan di tempat lain. Kota besar hadir bagai magnet yang menjanjikan beragam peluang: pendidikan yang lebih berkualitas, variasi profesi, tingkat pendapatan yang lebih menjanjikan, hingga akses pada gaya hidup modern.

Keputusan untuk pergi ini pada dasarnya bukanlah bentuk rasa tidak sayang pada tanah kelahiran, melainkan sebuah strategi bertahan hidup dan bentuk investasi masa depan bagi keluarga mereka. Ketika desa belum mampu menyediakan ruang yang memadai untuk menyalurkan bakat dan cita-cita, merantau menjadi pilihan yang sangat masuk akal dari keterbatasan ekonomi yang ada.

Namun, gelombang perpindahan yang terus berlanjut ini membawa dampak yang sangat serius bagi kelangsungan hidup pedesaan. Desa yang ditinggalkan generasi mudanya perlahan kehilangan energi dan vitalitas. Sektor pertanian yang menjadi tulang punggung kehidupan desa kini berada di titik kritis akibat krisis regenerasi. Banyak pemuda enggan mengolah lahan karena membayangkan pendapatan yang rendah dan pekerjaan fisik yang melelahkan.

Akibatnya, sawah-sawah kini digarap oleh populasi lanjut usia dengan kapasitas fisik yang kian terbatas. Kondisi ini membuat desa tidak hanya kehilangan tenaga fisik untuk mengolah tanah, tetapi juga kehilangan ide-ide segar dan keterbukaan terhadap teknologi yang sangat dibutuhkan untuk membawa inovasi pada sektor pertanian serta menjaga ketahanan pangan nasional.

Meski demikian, fenomena migrasi ini tidak sepenuhnya harus dipandang secara negatif. Hubungan antara desa dan kota sebenarnya memiliki potensi untuk berkembang menjadi relasi dua arah yang saling menguntungkan. Pemuda yang bekerja di kota secara rutin mengirimkan sebagian penghasilan mereka kembali ke kampung halaman. Uang kiriman ini tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan harian keluarga, tetapi juga dapat menjadi modal untuk menggerakkan usaha kecil lokal.

Lebih dari sekadar finansial, para perantau yang kembali juga membawa pulang aset yang sangat berharga, seperti ilmu pengetahuan baru, keterampilan teknis, jaringan pertemanan yang luas, hingga mentalitas kerja yang modern.

Tantangan terbesarnya kini terletak pada bagaimana menciptakan daya tarik yang memadai agar modal sosial dan finansial tersebut dapat dimanfaatkan untuk memajukan desa. Selama ini, pembangunan pedesaan sering kali terlalu berfokus pada infrastruktur fisik seperti perbaikan jalan dan pembangunan Gedung tanpa diimbangi oleh penyediaan peluang ekonomi yang kompetitif.

Fenomena urban bias membuat pusat perputaran uang dan kemajuan terus menumpuk di kawasan perkotaan. Selama desa belum mampu memberikan alasan yang cukup kuat dan ruang yang menjanjikan bagi masa depan mereka, kota akan selalu dipandang sebagai satu-satunya tempat untuk meraih kesuksesan.

Untuk mengubah keadaan ini, solusinya bukanlah memaksakan desa agar meniru gaya hidup kota, melainkan memaksimalkan potensi lokal dengan sentuhan teknologi modern. Transformasi digital memberi peluang bagi lahirnya desa-desa modern, di mana akses internet cepat mendukung penerapan pertanian pintar (smart farming), pengembangan pariwisata berbasis komunitas melalui media sosial, hingga pemasaran produk kreatif lokal ke pasar global melalui e-commerce.

Dengan konektivitas yang memadai, anak muda tidak perlu lagi berdesakan di kota hanya untuk mencari nafkah, melainkan dapat berkarier secara jarak jauh atau membangun bisnis langsung dari desa mereka. Pada akhirnya, sudah saatnya kita tidak lagi memandang anak muda sebagai kelompok yang harus ditahan agar tidak pergi, melainkan sebagai aktor utama yang dipercaya untuk memimpin pembaruan di desanya sendiri.

EFIKASI DIRI DAN RESILIENSI SANTRI

Oleh: Maknunah, S.Sos.
Santri Pesantren Anwarul Quran

Kehidupan seorang santri di Pesantren memiliki banyak cerita. Setiap hari ada kegiatan yang harus dijalani, mulai dari bangun pagi, melaksanakan ibadah, mengikuti pembelajaran, mengaji, menghafal Al-Qur’an, hingga mengikuti berbagai kegiatan bersama teman-teman. Rutinitas tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya banyak pelajaran yang bisa diperoleh seorang santri dari setiap aktivitas yang dilakukan. Salah satunya adalah belajar untuk percaya pada kemampuan diri sendiri dan belajar untuk tidak mudah menyerah. Dalam psikologi, kedua hal tersebut dapat dikaitkan dengan Efikasi Diri dan Resiliensi.

Efikasi diri merupakan keyakinan seseorang bahwa dirinya mampu melakukan sesuatu atau menyelesaikan suatu tugas. Sementara itu, resiliensi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk bertahan dan bangkit ketika menghadapi kesulitan. Kedua kemampuan ini sangat dekat dengan kehidupan santri karena selama berada di Pesantren, mereka tidak hanya dituntut untuk belajar, tetapi juga harus mampu mengatur diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya.

Di Pesantren Anwarul Quran, santri memiliki berbagai macam aktivitas yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Salah satu kegiatan yang cukup dekat dengan santri adalah menghafal Al-Qur’an. Bagi sebagian santri, menghafal bukanlah sesuatu yang selalu mudah. Ada ayat yang cepat diingat, tetapi ada juga ayat yang membutuhkan pengulangan berkali-kali. Ketika hafalan belum mencapai target, seorang santri mungkin merasa kecewa atau kurang percaya diri. Namun, keadaan tersebut justru menjadi kesempatan untuk belajar.

Santri dapat mencoba kembali, memperbaiki cara menghafalnya, dan meminta bantuan kepada ustadz, ustadzah atau teman-temannya. Ketika akhirnya berhasil menghafalkan ayat yang sebelumnya terasa sulit, muncul pengalaman positif bahwa usaha yang dilakukan ternyata membuahkan hasil. Pengalaman tersebut dapat membuat santri semakin yakin terhadap kemampuannya. Inilah salah satu contoh sederhana dari berkembangnya efikasi diri pada santri.

Efikasi diri juga terlihat dalam kegiatan belajar. Setiap santri memiliki kemampuan yang berbeda. Ada yang mudah memahami pelajaran, ada pula yang membutuhkan waktu yang lebih lama. Perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar. Santri yang memiliki keyakinan terhadap dirinya tidak langsung menganggap dirinya kurang mampu ketika mendapatkan nilai yang belum sesuai harapan. Ia dapat menjadikan hasil tersebut sebagai bahan untuk memperbaiki diri. Dengan berpikir seperti itu, santri akan lebih berani mencoba dan tidak akan takut menghadapi tugas-tugas berikutnya.

Selain kegiatan belajar dan menghafal, kehidupan di Pesantren juga mengajarkan kemandirian. Santri terbiasa melakukan berbagai hal sendiri, seperti mengatur perlengkapan pribadi, menjaga kebersihan, mengatur waktu, dan menyelesaikan tanggung jawab yang diberikan. Hal-hal tersebut mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan secara terus-menerus dapat membentuk rasa percaya diri. Santri menjadi terbiasa mengambil tanggung jawab atas apa yang dilakukannya.

Namun, perjalanan menjadi santri tentu tidak selalu berjalan dengan mudah. Ada saat-saat ketika santri merasa lelah setelah mengikuti berbagai kegiatan yang padat. Ada pula rasa rindu kepada orang tua dan keluarga. Belum lagi ketika menghadapi tugas yang sulit atau masalah dengan teman. Pada situasi seperti ini, kemampuan untuk bertahan dan bangkit menjadi penting. Kemampuan tersebut dikenal sebagai resiliensi.

Resiliensi bukan berarti seorang santri harus selalu kuat dan tidak boleh merasa sedih. Merasa lelah, kecewa, atau rindu kepada keluarga itu merupakan hal yang wajar. Yang penting adalah bagaimana santri menghadapi perasaan tersebut. Santri dapat berbicara dengan teman, ustadz, atau orang yang dipercaya. Setelah merasa lebih tenang, mereka dapat kembali menjalani kegiatan dan mencari solusi atas masalah yang dihadapi.

Kehidupan bersama teman juga dapat menjadi tempat berkembangnya resiliensi. Di Pesantren, santri bertemu dengan banyak orang yang memiliki karakter berbeda. Ada teman yang pendiam, ada yang aktif, ada yang mudah bergaul, dan ada pula yang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Perbedaan tersebut terkadang menimbulkan masalah kecil, tetapi juga mengajarkan santri tentang kesabaran, kerja sama, dan saling menghargai.

Dukungan dari lingkungan Pesantren juga memiliki arti penting. Ketika santri mendapatkan semangat dari teman atau ustadz ustadzahnya, mereka dapat merasa lebih yakin untuk menghadapi masalah. Kalimat sederhana seperti “coba lagi” atau “kamu pasti bisa” terkadang dapat memberikan semangat yang besar. Dukungan seperti ini membantu santri memahami bahwa menghadapi kesulitan merupakan bagian dari proses belajar.

Menariknya, efikasi diri dan resiliensi tidak hanya bermanfaat selama santri berada di Pesantren. Kebiasaan percaya pada kemampuan diri dan tidak mudah menyerah dapat menjadi bekal untuk menghadapi kehidupan setelah keluar dari Pesantren. Tantangan dalam kehidupan tentu akan semakin beragam. Karena itu, pengalaman selama berada di Pesantren dapat menjadi latihan untuk menghadapi tantangan tersebut.

Pada akhirnya, berbagai kegiatan yang dilakukan oleh santri di Pesantren Anwarul Quran bukan hanya sekadar rutinitas. Di balik kegiatan belajar, menghafal Al-Qur’an, mengaji, menjaga kebersihan, bekerja sama dengan teman, dan menjalankan tanggung jawab, terdapat proses pembentukan diri. Santri belajar bahwa setiap kemampuan membutuhkan latihan dan setiap keberhasilan membutuhkan proses.

Efikasi diri membuat santri berani berkata, “Saya bisa mencoba.” Sementara itu, resiliensi membuat mereka mampu berkata, “Kalau belum berhasil, saya akan mencoba lagi.” Kedua sikap tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang santri. Dengan percaya pada kemampuan diri dan tetap berusaha ketika menghadapi kesulitan, santri dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, sabar, dan siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

KONFLIK DI PALESTINA

Sejarah berawal dari Nabi Nuh alaihi salam yang mempunyai cucu bernama Kan’an, kemudian mengembara ke sebuah tanah kosong yang diberi nama suku Kan’an. Seiring berjalannya waktu, Suku Kan’an ini berubah namanya menjadi suku Palestina. Dari anak keturunan Nabi Nuh ini lahirlah seorang Nabi bernama Ya’qub yang mempunyai 12 orang anak.

Istilah Bani Israel ini muncul karena Nabi Yaqub yang amat dekat dengan Allah. Dijuluki sebagai Israel yang artinya “hamba yang dekat dengan Allah” dan kemudian anak-anaknyalah yang dIsebut sebagai Bani Israel (anak dari hamba yang dekat dengan Allah). Mulanya mereka meninggalkan Palestina dan menetap di Mesir hingga saat kepemimpinan Fir’aun, keturunan Bani Israel dijadikan budak disana. Nabi Musa yang pada saat itu datang ke Mesir menyelamatkan mereka dari perbudakan dan membawa mereka ke satu tanah kosong. Namun, pada saat Nabi Musa meninggalkan mereka untuk menerima wahyu, kaum Bani Israel ini mulai kembali menyembah berhala hingga membuat Nabi Musa murka dan membawa beberapa orang dari Bani Israel yang masih tersisa sedikit keimanan dihatinya untuk bertaubat.

Nabi Musa membawa mereka ke gunung Sinai untuk memohon ampunan dari Allah SWT. Setelah bertaubat, mereka mengatakan انا هدنا اليك   asal katanya هادو sifat keadaannya يهود dan orang yang berbuat disebut يهود. Mereka inilah yang kemudian disebut Yahudi dan pada saat Nabi Musa berdoa tentang kemana mereka akan pergi, Allah menjawab “kembalilah kalian ke tanah nenek moyang kalian yang dulunya kalian hidup makmur dan berdampingan disana”. Namun saat mereka akan pergi, kaum Yahudi ini malah menyuruh Nabi Musa untuk mengusir suku asal Palestina. Hal ini yang membuat Allah murka dan melaknat mereka.

_Karena ini Bani Israel selalu berusaha merebut tanah Palestina, karena menganggap bahwa tanah Palestina merupakan tanah nenek moyang mereka yang dijanjikan oleh Allah_

Hamas muncul sebagai gerakan perlawanan Islam di Palestina pada Tahun 1987 selama pemberontakan Palestina yang pertama atau Intifada.

Terjadinya konflik antar Palestina dan Israel ini akan menimbulkan konflik pada negara negara yang mendukungnya. Contohnya pada Indonesia, karena dukungan Indonesia untuk Palestina, Indonesia melakukan aksi pemboikotan pada produk-produk mereka. Jika hal ini terus menerus terjadi, maka hal ini bisa jadi akan menyebabkan terjadinya inflasi serta banyaknya pengangguran.

PBB atau singkatan dari perserikatan bangsa-bangsa merupakan organisasi internasional yang bergerak untuk mendorong terjadinya kerja sama internasional yang meliputi kerja sama persoalan hukum internasional, pengamanan, ekonomi dan perlindungan sosial. Peran utama PBB yaitu memelihara perdamaian serta keamanan dunia.

Namun, pada konflik Palestina dan Israel PBB kurang efektif dalam menjalankan perannya karena adanya hak veto atau hak mutlak yang dipegang oleh lima negara yaitu Amerika, China, Prancis, Rusia dan Inggris. Karena Amerika Serikat merupakan pendukung utama Israel dan pemengang penuh hak veto maka PBB tidak bisa berbuat apa-apa karena ada Amerika yang selalu melindungi Israel.

Dukungan besar yang Amerika berikan juga dilatarbelakangi karena adanya hubungan khusus. Diantaranya, Amerika memiliki beberapa cabang perusahaan besar yang ada di Israel, adanya rancangan pembangunan Ben Gurion yang menjadi tandingan terusan Suez di Mesir yang merupakan jalur perdagangan, serta untuk menjaga negara Arab agar tidak memberontak pada negara Eropa.

_Peran PBB dalam konflik Israel dan Palestina kurang efektif karena adanya hak Veto yang dipengang penuh oleh negara-negara Eropa_

Awal mula konflik terjadi

Pada tahun 1897 berdiri suatu organisasi yang dipimpin oleh Theodor yang bertujuan untuk mendirikan suatu negara Yahudi, yang dinamakan Zionis. Palestina waktu itu masih berbentuk kerajaan yang dipimpin oleh Khilafah Utsmani yaitu Sultan Abdulhamid. Awalnya Zionis ini ingin membeli sebagian tanah di Turki Utsmani untuk ditinggali, namun ditolak.

Pada saat yang bersamaan, orang-orang Arab mulai memprotes kepemimpinan yang dipimpin oleh orang Turki dengan aksi pemberontakan hingga meminta bantuan pada Inggris dan Prancis dengan menjanjikan negara pada Yahudi tadi.

Waktu Inggris mengusai Palestina terdapat dua agama yaitu Islam dan Yahudi. Lalu Inggris yang menjual tanah Palestina dan menyisakan 3 bagian untuk warga Palestina yaitu Yerusalem, Gaza dan Tepi Barat Palestina.

Tahun 1917 mereka hidup berdampingan, namun sehari setelah Inggris meninggalkan tempat itu, Israel langsung membuat proklamasi dan mendirikan negara Israel yang disetujui oleh PBB. Namun PBB tidak menyetujui kemerdekaan Palestina saat Palestina mengajukan proklamasi. Hingga hal ini memicu terjadinya perang antara orang Arab dan Israel yang saat itu dimenangkan oleh Israel.

Tahun 1967 orang-orang Arab bersatu dan berperang selama 6 hari melawan Israel, namun kalah lagi karena Israel mendapatkan sokongan dari Amerika dan Inggris. Akibat dari kekalahan ini,

 diambilnya beberapa wilayah di Mesir dan negara-negara Arab Lain, saat itulah Mesir beserta negara-negara Arab yang lain membuat perjanjian negara dengan Israel untuk tidak mengganggu Israel. Hal ini yang membuat Paletina memperjuangkan kemerdekaanya sendiri pada saat itu. Hingga terbentuknya organisasi Hamas yaitu organisasi bersenjata pembela Palestina yang melawan Israel sampai saat ini. Namun Hamas ini diklaim sebagai organisasi terosis oleh PBB, sehingga negara manapun yang membantu Hamas sama saja membantu teroris.

Dalam hal ini mengapa negara Eropa mendukung Israel? Sejujurnya dukungan yang diberikan negara Amerika dan Inggris merupakan bukti bencinya negara Eropa terhadap kaum Yahudi sebab mereka menganggap kaum Yahudi sebagai anak nakal dan tidak ingin mereka Kembali ke Eropa. Hal ini yang membuat mereka mendukung orang Yahudi mendirikan negara sendiri.

Lalu apakah konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina adalah konflik agama? Jawabannya dilihat dari siapa yang membela, apakah kita membela Palestina karena sesama muslim? Jika benar, maka kita menganggapnya sebagai konflik agama.

_Kebencian negara Eropa pada Israel menjadi salah satu alasan yang membuat mereka mendukung Israel mendirikan negara sendiri agar tidak Kembali ke negara mereka_

*Materi tersebut disampaikan dalam kegiatan bedah artikel mingguan di Pesantren Anwarul Qur’an Palu, tanggal 7 Januari 2024, oleh Rajiatul Farha Fitriah, Humaira dan Fitri Ramadhani