EFIKASI DIRI DAN RESILIENSI SANTRI

Oleh: Maknunah, S.Sos.
Santri Pesantren Anwarul Quran

Kehidupan seorang santri di Pesantren memiliki banyak cerita. Setiap hari ada kegiatan yang harus dijalani, mulai dari bangun pagi, melaksanakan ibadah, mengikuti pembelajaran, mengaji, menghafal Al-Qur’an, hingga mengikuti berbagai kegiatan bersama teman-teman. Rutinitas tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya banyak pelajaran yang bisa diperoleh seorang santri dari setiap aktivitas yang dilakukan. Salah satunya adalah belajar untuk percaya pada kemampuan diri sendiri dan belajar untuk tidak mudah menyerah. Dalam psikologi, kedua hal tersebut dapat dikaitkan dengan Efikasi Diri dan Resiliensi.

Efikasi diri merupakan keyakinan seseorang bahwa dirinya mampu melakukan sesuatu atau menyelesaikan suatu tugas. Sementara itu, resiliensi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk bertahan dan bangkit ketika menghadapi kesulitan. Kedua kemampuan ini sangat dekat dengan kehidupan santri karena selama berada di Pesantren, mereka tidak hanya dituntut untuk belajar, tetapi juga harus mampu mengatur diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya.

Di Pesantren Anwarul Quran, santri memiliki berbagai macam aktivitas yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Salah satu kegiatan yang cukup dekat dengan santri adalah menghafal Al-Qur’an. Bagi sebagian santri, menghafal bukanlah sesuatu yang selalu mudah. Ada ayat yang cepat diingat, tetapi ada juga ayat yang membutuhkan pengulangan berkali-kali. Ketika hafalan belum mencapai target, seorang santri mungkin merasa kecewa atau kurang percaya diri. Namun, keadaan tersebut justru menjadi kesempatan untuk belajar.

Santri dapat mencoba kembali, memperbaiki cara menghafalnya, dan meminta bantuan kepada ustadz, ustadzah atau teman-temannya. Ketika akhirnya berhasil menghafalkan ayat yang sebelumnya terasa sulit, muncul pengalaman positif bahwa usaha yang dilakukan ternyata membuahkan hasil. Pengalaman tersebut dapat membuat santri semakin yakin terhadap kemampuannya. Inilah salah satu contoh sederhana dari berkembangnya efikasi diri pada santri.

Efikasi diri juga terlihat dalam kegiatan belajar. Setiap santri memiliki kemampuan yang berbeda. Ada yang mudah memahami pelajaran, ada pula yang membutuhkan waktu yang lebih lama. Perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar. Santri yang memiliki keyakinan terhadap dirinya tidak langsung menganggap dirinya kurang mampu ketika mendapatkan nilai yang belum sesuai harapan. Ia dapat menjadikan hasil tersebut sebagai bahan untuk memperbaiki diri. Dengan berpikir seperti itu, santri akan lebih berani mencoba dan tidak akan takut menghadapi tugas-tugas berikutnya.

Selain kegiatan belajar dan menghafal, kehidupan di Pesantren juga mengajarkan kemandirian. Santri terbiasa melakukan berbagai hal sendiri, seperti mengatur perlengkapan pribadi, menjaga kebersihan, mengatur waktu, dan menyelesaikan tanggung jawab yang diberikan. Hal-hal tersebut mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan secara terus-menerus dapat membentuk rasa percaya diri. Santri menjadi terbiasa mengambil tanggung jawab atas apa yang dilakukannya.

Namun, perjalanan menjadi santri tentu tidak selalu berjalan dengan mudah. Ada saat-saat ketika santri merasa lelah setelah mengikuti berbagai kegiatan yang padat. Ada pula rasa rindu kepada orang tua dan keluarga. Belum lagi ketika menghadapi tugas yang sulit atau masalah dengan teman. Pada situasi seperti ini, kemampuan untuk bertahan dan bangkit menjadi penting. Kemampuan tersebut dikenal sebagai resiliensi.

Resiliensi bukan berarti seorang santri harus selalu kuat dan tidak boleh merasa sedih. Merasa lelah, kecewa, atau rindu kepada keluarga itu merupakan hal yang wajar. Yang penting adalah bagaimana santri menghadapi perasaan tersebut. Santri dapat berbicara dengan teman, ustadz, atau orang yang dipercaya. Setelah merasa lebih tenang, mereka dapat kembali menjalani kegiatan dan mencari solusi atas masalah yang dihadapi.

Kehidupan bersama teman juga dapat menjadi tempat berkembangnya resiliensi. Di Pesantren, santri bertemu dengan banyak orang yang memiliki karakter berbeda. Ada teman yang pendiam, ada yang aktif, ada yang mudah bergaul, dan ada pula yang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Perbedaan tersebut terkadang menimbulkan masalah kecil, tetapi juga mengajarkan santri tentang kesabaran, kerja sama, dan saling menghargai.

Dukungan dari lingkungan Pesantren juga memiliki arti penting. Ketika santri mendapatkan semangat dari teman atau ustadz ustadzahnya, mereka dapat merasa lebih yakin untuk menghadapi masalah. Kalimat sederhana seperti “coba lagi” atau “kamu pasti bisa” terkadang dapat memberikan semangat yang besar. Dukungan seperti ini membantu santri memahami bahwa menghadapi kesulitan merupakan bagian dari proses belajar.

Menariknya, efikasi diri dan resiliensi tidak hanya bermanfaat selama santri berada di Pesantren. Kebiasaan percaya pada kemampuan diri dan tidak mudah menyerah dapat menjadi bekal untuk menghadapi kehidupan setelah keluar dari Pesantren. Tantangan dalam kehidupan tentu akan semakin beragam. Karena itu, pengalaman selama berada di Pesantren dapat menjadi latihan untuk menghadapi tantangan tersebut.

Pada akhirnya, berbagai kegiatan yang dilakukan oleh santri di Pesantren Anwarul Quran bukan hanya sekadar rutinitas. Di balik kegiatan belajar, menghafal Al-Qur’an, mengaji, menjaga kebersihan, bekerja sama dengan teman, dan menjalankan tanggung jawab, terdapat proses pembentukan diri. Santri belajar bahwa setiap kemampuan membutuhkan latihan dan setiap keberhasilan membutuhkan proses.

Efikasi diri membuat santri berani berkata, “Saya bisa mencoba.” Sementara itu, resiliensi membuat mereka mampu berkata, “Kalau belum berhasil, saya akan mencoba lagi.” Kedua sikap tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang santri. Dengan percaya pada kemampuan diri dan tetap berusaha ketika menghadapi kesulitan, santri dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, sabar, dan siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

SARUNG, KITAB, DAN KEMERDEKAAN (Jejak Santri dalam Menjaga Indonesia)

Oleh Suendi Efendi, S.Ag.
Santri Pesantren Anwarul Quran

Kemerdekaan Indonesia tidak seperti hujan yang jatuh dari langit. Ia diperjuangkan dengan darah, air mata, doa, serta pengorbanan yang begitu besar. Di balik gemuruh tembakan senjata, dan dentuman meriam, ada satu kelompok yang perannya tidak pernah bisa dihapus dari sejarah kemerdekaan Indonesia, yaitu para santri. Mereka tidak datang dengan membawa senjata dan meriam. Mereka datang dengan tiga hal sederhana yang selalu melekat pada mereka, yaitu sarung, kitab, dan semangat kemerdekaan. Tiga hal ini menjadi saksi bagaimana para santri ikut andil dalam melahirkan dan menjaga Indonesia.

Bagi santri, sarung bukan hanya sekadar penutup aurat. Sarung adalah identitas. Subuh ia dipakai untuk mengaji, siang dipakai untuk belajar, malam dipakai untuk shalat tahajjud memohon agar negeri ini lekas merdeka. Ketika Resolusi Jihad dikumandangkan pada 22 Oktober 1945, sarung yang biasa dipakai di pesantren itu juga dipakai para santri berjuang dalam medan perang. Di Surabaya 10 November 1945, kita tidak melihat barisan tentara dengan seragam lengkapnya. Yang kita lihat adalah barisan pemuda bersarung, berpeci, membawa bambu runcing, serta berkeyakinan bahwa mati membela tanah air adalah syahid.

Sarung mengajarkan dua hal penting. Pertama, kesederhanaan. Sarung tidak membedakan siapa yang kaya dan siapa yang miskin. Semua sama di hadapannya . Kedua, persatuan. Satu sarung melingkar merangkul tubuh. begitu juga cita-cita santri, merangkul seluruh anak bangsa tanpa membeda-bedakan suku, ras, dan agama. Demi satu tujuan, yaitu Indonesia merdeka. Hingga hari ini, pemandangan santri bersarung duduk melingkar di pesantren masih kita temui dari Sabang sampai Merauke. Hal ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai kesederhanaan dan persatuan yang dulu mengantarkan kita pada kemerdekaan, harus senantiasa kita jaga dan pertahankan.

Jika sarung adalah pakaian, maka kitab adalah senjata santri. Bukan senjata yang melukai, tetapi senjata yang dapat mencerdaskan dan menguatkan santri. Dari kitab-kitab kunig itulah lahir para ulama, kyai, pemimpin bangsa. Dari sini kemudian lahirlah satu fatwa yang mengguncang dunia, yaitu Resolusi Jihad, yang ditulis oleh KH. Hasyim Asy’ari di atas meja sederhana, dengan tinta dan iman. Fatwa itu menyatakan bahwa “Membela tanah air dari penjajah yang datang kembali ke Indonesia hukumnya Fardhu A’in”. Dan fatwa itu yang menggerakkan ratusan ribu santri maju ke garis depan.

Banyak kita temukan di pesantren-pesantren, sebagai contoh Pesantren Anwarul Qur’an Kota Palu. Santri diajarkan cara membaca kitab dengan teliti, satu harakat yang salah dapat mengubah makna, satu kata yang salah bisa mengubah hukum. Kebiasaan ini melatih santri untuk berpikir kritis, teliti, dan tidak mudah terprovokasi. Maka tidak heran jika pesantren menjadi tempat lahirnya orator-orator seperti Bung Tomo yang suaranya membakar semangat pemuda Surabaya.

Tantangan hari ini berbeda. Penjajahan tidak lagi datang dengan kapal perang, dan senapan. Ia datang lewat hoaks, narkoba, pergaulan bebas, serta perpecahan. Selain itu, santri juga harus menguasai dua hal, yang pertama adalah menguasai kitab kuning untuk menjaga akhlak dan spiritualitas, kemudian menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjaga pradaban. Santri harus menjadi guru, penulis, pengusaha, ilmuan, dan pemimpin. Karena bangsa yang merdeka adalah bangsa yang berilmu

Tanggal 17 Agustus merupakan hari kemerdekaan rakyat Indonesia. Hari tersebut bukan hanya sekadar hari perayaan biasa, akan tapi sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Bagi santri, kemerdekaan merupakan amanah dari Tuhan yang harus selalu dijaga dan dipertahankan. Dulu, cara mengisi kemerdekaan adalah dengan mengusir penjajah. Sekarang, cara mengisi kemerdekaan adalah membangun negeri ini dengan baik. Lihatlah pesantren-pesantren modern hari ini. Ada yang memiliki lahan pertanian, perikanan, dan industri. Itu semua adalah bentuk jihad, Jihad membangun peradaban.

Selain itu kemerdekaan juga berarti merdeka dalam berpikir. Santri diajarkan Islam wasathiyyah. Tidak keras, tidak lembek, menjadi penengah di tengah masyarakat yang gaduh. Menjadi perekat di tengah perbedaan. Karena hanya dengan persatuan, kemerdekaan ini bisa bertahan.

Prinsip hubbul withon minal iman atau cinta tanah air sebagian dari iman, selalu digaungkan di pesantren. Artinya, siapa pun yang merusak negeri ini dengan pengrusakan, korupsi. menyebarkan kebencian, atau memecah belah persatuan, maka ia telah mengkhianati kemerdekaan dan imannya sendiri.

Hari ini tugas kita berbeda. Kita tidak perlu lagi mengangkat bambu runcing. Tapi kita harus mengangkat pena untuk menulis, mengangkat tangan untuk bekerja , dan berdoa untuk bangsa ini. Selama sarung masih dipakai untuk sujud. Selama kitab masih dibuka untuk mengaji dan mengajar. Selama masih ada santri yang bangun malam mendoakan Indonesia, maka Insya Allah negeri ini akan tetap merdeka. Merdeka lahir dan batin.

Karena kemerdekaan ini mahal harganya, maka santri adalah salah satu yang membayarnya.

Merdeka!

Pesantren sebagai Ekosistem Keteladanan

Oleh: Nurhalima, S.Ag.

Santri Pesantren Anwarul Quran

Kita sering membicarakan bagaimana cara mendidik anak, santri, atau generasi setelah kita dengan baik. Berbagai metode dicari, buku dibaca, dan seminar didatangi. Namun di tengah semua itu, pernahkah kita renungkan: apakah kita sendiri sudah cukup terdidik untuk mendidik?

Menjadi pendidik bukan berarti telah menjadi manusia yang sempurna. Menjadi pendidik adalah tentang kesediaan untuk terus belajar, bahkan ketika kita sedang mengajar. Karena menjadi terdidik bukan tentang tidak pernah salah. Menjadi terdidik adalah tentang mau memperbaiki diri setiap kali salah.

Pendidik memang penting. Tetapi memiliki ilmu saja belum cukup. Sebab, ilmu yang hanya tinggal di kepala membuat seseorang terlihat pintar. Tetapi Ilmu yang tumbuh menjadi akhlaklah yang membuat seseorang menjadi pendidik sejati.

Kita bisa tahu bahwa jujur itu baik, tetapi belum tentu mampu jujur saat merugikan diri. Kita paham bahwa sabar itu indah, tetapi tetap mudah marah ketika diuji. Ilmu memberi tahu mana yang benar. Pendidikan mengajak kita untuk menjalaninya. Tanpa akhlak, ilmu bisa menjadi sombong. Tanpa keteladanan, nasihat hanya menjadi suara yang lewat.

Dalam konteks ini, pesantren sebagai ekosistem keteladanan sangat penting. Orang tua, hari ini, berlomba-lomba memasukkan anaknya dalam pesantren. Bukan karena di sekolah lain, tidak belajar. Bukan pula karena pesantren memiliki fasilitas yang lebih keren. Tapi karena di pesantren tidak hanya belajar ilmu, tapi adalah belajar tentang kehidupan.

Anak belajar bukan hanya dari apa yang diberikan, tetapi dari apa yang mereka lihat. Mereka belajar dari cara pembina bicara, menyelesaikan masalah, dan memperlakukan orang lain. Dari guru mereka belajar tentang keikhlasan dan kesederhanaan. Karena menyadari itu, banyak orang tua memilih pesantren. Bukan untuk “menitipkan” anak, tetapi untuk memberi lingkungan yang mendidik 24 jam.

Sekali lagi, di pesantren, santri tidak hanya belajar dari kitab kuning dan hafalan. Mereka belajar dari hidup dan kehidupan itu sendiri. Mereka belajar ketika melihat Ustadz bangun jam 3 subuh untuk tahajud. Belajar ketika melihat guru menegur ketika melakukan kesalahan. Belajar ketika melihat pimpinan yang ikut kerja bakti bersama santri. Dan dalam banyak hal lainnya yang juga di bersamai oleh para pembina.

Disinilah kita sadar. Menjadi pendidik bukan hanya tentang apa yang kita ajarkan. Tetapi tentang apa yang kita lakukan setiap hari. Karena apa yang kita lakukan akan lebih lama diingat daripada apa yang kita katakan. Keteladanan adalah guru yang diam, tetapi pesannya menancap paling dalam.

Saat ini, meskipun saya sebagai guru pendamping, saya tetap merasa sebagai santri di Pesantren Anwarul Qur’an. Di sini saya belajar hidup. Saya belajar menjadi guru ketika adik kelas bertanya. Saya belajar menjadi kakak ketika harus menenangkan yang sedang sedih. Saya belajar menjadi adik ketika harus menerima nasihat dari yang lebih tua. Saya belajar menjadi teman, menjadi pendengar, menjadi penanggung jawab, menjalani berbagai peran yang nyata dalam kehidupan.

Menjadi guru mengajarkan saya: bahwa  punya ilmu  saja tidak cukup, kita harus belajar banyak hal juga, harus lebih sabar, dan berusaha memahami berbagai karakter yang kita dampingi sehari-hari. Menjadi kakak mengajarkan saya bahwa diteladani itu berat. Kalau ada kesalahan, kita juga ikut bertanggungjawab jawab.

Menjadi adik mengajarkan saya untuk pandai menimbang contoh, meminta nasihat ataupun berinteraksi dengan baik. Semua saya pelajari bukan dari buku. Tapi dari jatuh-bangun, dari salah dan ditegur, dari lelah dan tetap tersenyum.

Dari sini saya pahami  bahwa Pesantren adalah sekolah kehidupan. Sekolah yang tidak punya bel pulang. Pelajarannya adalah adab, tanggung jawab, ikhlas, dan bagaimana menjadi manusia. Pesantren bukan tempat berkumpulnya orang-orang yang sudah baik. Pesantren adalah tempat orang-orang yang ingin menjadi lebih baik. Guru masih belajar. Santri masih belajar. Semua masih dalam proses.

 Pendidikan di pesantren bukan hanya untuk santri. Guru, pembina, bahkan orang tua santri, semuanya sedang dididik oleh sistem yang sama: sistem kehidupan. Kita tidak perlu menunggu sempurna untuk mulai mendidik. Cukup mulai dengan satu niat yang ikhlas dan istiqamah dalam belajar.

Karena pada akhirnya, sebelum kita membimbing orang lain untuk berubah, bimbing diri kita sendiri untuk bertumbuh terlebih dahulu. Itulah inti dari sebuah pendidikan, yang tergambar nyata dalam kehidupan di pesantren.

Belajar dari Lingkungan, Bertumbuh Bersama Pesantren

Oleh: Muh.Nurhidayat, M.Pd.
Santri Pesantren Anwarul Quran

Suasana pagi di pesantren selalu memiliki cerita. Embun masih menempel di dedaunan, angin berembus pelan di antara pepohonan, dan halaman tampak bersih sebelum aktivitas belajar dimulai. Di sudut lain, beberapa santri terlihat memungut sampah yang berserakan, sebagian menyiram tanaman, sementara yang lain merapikan ruang kelas. Tidak ada yang memerintah dengan suara keras. Semua bergerak karena telah terbiasa.

Melihat pemandangan seperti itu, mungkin kita akan bertanya, siapa sebenarnya yang menjaga kebersihan pesantren ini?

Jika jawabannya adalah petugas kebersihan, tentu tidak ada yang salah. Kehadiran petugas memang menjadi bagian dari sistem pengelolaan pesantren yang baik. Namun, suasananya akan terasa berbeda ketika seluruh warga pesantren mulai dari santri, guru, pembina, pengurus, ikut terlibat menjaga lingkungan. Pada saat itulah kebersihan tidak lagi sekadar hasil pekerjaan seseorang, melainkan menjadi budaya yang hidup di tengah-tengah pesantren.

Di sinilah pendidikan menemukan maknanya.

Pesantren sejak dahulu dikenal sebagai tempat menempa ilmu sekaligus akhlak. Pendidikan di dalamnya tidak hanya berlangsung ketika kitab dibuka atau guru menjelaskan pelajaran, tetapi juga ketika kehidupan sehari-hari berjalan. Hal-hal yang tampak sederhana sering kali justru menjadi pelajaran yang paling membekas.

Menyapu halaman, misalnya, bukan sekadar membersihkan sampah. Di balik sapu yang digerakkan setiap pagi, ada latihan untuk bertanggung jawab. Merawat tanaman bukan hanya membuat lingkungan tampak indah, tetapi juga mengajarkan kepedulian terhadap kehidupan. Membersihkan kamar atau ruang belajar melatih kedisiplinan, kerja sama, dan rasa memiliki terhadap tempat yang menjadi rumah selama menuntut ilmu.

Gagasan seperti ini sejalan dengan pemikiran John Dewey, tokoh pendidikan yang memperkenalkan konsep learning by doing. Menurutnya, pengalaman adalah guru terbaik. Nilai-nilai kehidupan tidak cukup hanya dijelaskan melalui ceramah, tetapi harus dialami secara langsung agar tumbuh menjadi kebiasaan.

Pandangan tersebut juga diperkuat oleh Thomas Lickona. Ia menjelaskan bahwa pendidikan karakter tidak berhenti pada mengetahui mana yang baik. Seseorang juga perlu mencintai nilai tersebut, lalu membiasakannya dalam tindakan nyata. Dengan kata lain, karakter lahir dari kebiasaan yang terus dilakukan, bukan hanya dari nasihat yang terus didengar.

Karena itu, lingkungan pesantren sesungguhnya merupakan ruang belajar yang sangat kaya. Setiap sudutnya dapat menjadi media pendidikan apabila dikelola dengan baik. Ketika santri ikut menjaga kebersihan, mereka sedang belajar menjadi pribadi yang bertanggung jawab tanpa harus merasa sedang diajar.

Dalam ajaran Islam, kebersihan pun memiliki kedudukan yang istimewa. Menjaga kebersihan bukan sekadar persoalan kerapian atau keindahan, tetapi juga bagian dari ibadah dan akhlak. Lingkungan yang bersih mencerminkan kesadaran untuk menjaga amanah Allah sekaligus menghormati orang lain yang hidup di dalamnya.

Karena itu, pelibatan santri dalam menjaga kebersihan bukanlah bentuk eksploitasi atau upaya menggantikan tugas petugas kebersihan. Tujuannya jauh lebih besar daripada sekadar membuat halaman tetap bersih. Lingkungan dijadikan sebagai media tarbiyah, tempat nilai-nilai tanggung jawab, disiplin, kepedulian, dan kerja sama tumbuh melalui pengalaman nyata. Konsep ini dikenal sebagai embedded learning, yaitu proses belajar yang menyatu dengan aktivitas sehari-hari.

Namun, tanggung jawab tersebut tentu tidak hanya dibebankan kepada santri. Guru, pembina, pengurus, petugas kebersihan, hingga seluruh warga pesantren memiliki peran yang sama. Pendidikan karakter tidak lahir dari perintah, melainkan dari keteladanan. Ketika santri melihat semua orang ikut menjaga lingkungan, mereka belajar bahwa kepedulian adalah budaya bersama, bukan tugas satu kelompok saja.

Sebaliknya, apabila seluruh pekerjaan selalu diserahkan kepada tenaga profesional sementara santri hanya menikmati hasilnya, ada risiko yang perlu disadari. Mereka bisa tumbuh sebagai penghuni yang sekadar tinggal, bukan sebagai bagian dari rumah itu sendiri. Mereka menggunakan fasilitas setiap hari, tetapi tidak memiliki ikatan emosional untuk merawatnya.

Padahal, Pesantren bukan sekadar tempat singgah. Ia adalah rumah kedua yang membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara menjalani kehidupan. Ketika tumbuh kesadaran, “Pesantren ini adalah rumah saya, maka saya juga bertanggung jawab menjaganya,” saat itulah pendidikan karakter benar-benar bekerja. Nilai-nilai yang selama ini dipelajari di kelas berubah menjadi kebiasaan yang hidup dalam keseharian.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah pesantren tidak hanya diukur dari banyaknya kitab yang dikaji atau hafalan yang dikuasai. Keberhasilan juga tampak dari budaya yang tumbuh di dalamnya. Pesantren yang hebat bukan hanya melahirkan santri yang cerdas, tetapi juga pribadi yang peduli, disiplin, bertanggung jawab, dan mampu menjaga amanah.

Sebab ketika seluruh warga pesantren merasa memiliki lingkungan yang mereka tempati, kebersihan tidak lagi sekadar urusan menyapu atau membuang sampah. Ia telah menjadi bagian dari tarbiyah, menjadi jalan untuk membentuk karakter, dan menjadi cerminan akhlak yang diharapkan terus hidup, bahkan setelah para santri meninggalkan pesantren.

Pohon Terlarang!

Malaikat pun bersujud kepada nabi Adam! Malaikat memang ahli ibadah, tapi nabi Adam ahli asma (nama-nama). Nabi Adam mengetahui nama segala sesuatu. Sementara malaikat hanya tahu menyembah. Untuk menyandang gelar khalifah, tidak hanya ahli ibadah tapi juga alim tentang banyak hal. Kemampuan itu yang dimiliki nabi Adam, sementara malaikat tidak memilikinya. Nabi Adam pun didaulat sebagai khalifah karena ilmu. 

Nabi Adam bersama pasangannya tinggal di suatu tempat yang sangat indah. Di dalamnya terdapat aneka macam buah-buahan. Pepohonan sangat lebat. Hijau memanjakan pemandangan. Asri menentramkan hati. Hanya saja, ada satu pohon terlarang; dikenal pohon khuldi (pohon keabadian). Adam dan Hawwa boleh menikmati segala fasilitas yang ada, kecuali mendekati pohon tersebut. 

Sayangnya, nabi Adam khilaf karena tipu daya setan. Ia terperdaya dengan sumpahnya. Setan bersumpah atas nama Tuhan untuk mengelabui Adam dan Hawa. Ia merayu dan membujuknya dengan iming-iming keabadian. Keduanya memakan buah pohon terlarang tersebut. Akhirnya, Adam bersama Hawwa dilemparkan ke bumi. Keduanya memulai babak baru kehidupan; penuh tantangan dan ujian, tidak seindah lagi di surga.

Kisah nabi Adam dengan pohon terlarang penuh makna terekam dalam QS. Al-Baqarah: 30-37. Kisah tersebut mengajarkan tentang pelestarian lingkungan. Larangan pertama kali dari Allah, bukan syirik, bukan pula minum khamar. Tapi adalah larangan merusak pohon. Pohon terlarang itu sejatinya menjadi basis teologis gerakan hijau dewasa ini. Pohon terlarang sebagai simbol sakralitas semesta; sebuah konsep mendasar dalam Al-Quran.

Ironisnya, ajaran fundamental itu terbaikan. Tafsir klasik luput mengelaborasi isu lingkungan secara mendalam. Mungkin karena krisis lingkungan tidak separah hari ini. Hari ini pengetahuan dan tekhnologi sudah sangat canggih, namun justru melahirkan masalah baru; krisis lingkungan. Krisis itu akibat pengetahuan reduksionis dan teknologi yang disalahgunakan. Bumi terjarah dengan dalih produksi dan konsumsi.

Kini, gerakan hijau mulai menggema kembali. Konfrensi Stokcholm tahun 1972, sebagai awal kesadaran lingkungan secara global. Kesadaran tersebut sebagai respons terhadap kondisi bumi yang semakin terpuruk dan menangis (Delfo.C. Canceran (2019). Termasuk di Indonesia, gerakan hijau mulai bangkit kembali. Kampus, pesantren dan beberapa organisasi keagamaan menaruh perhatian besar kepada lingkungan. 

Gerakan lingkungan tersebut secara umum menyerukan kembali ke alam (back to the nature). Sebuah gerakan yang dipelopori oleh Arne Naess dengan nama deep ecology (1974). Gerakan tersebut juga menginspirasi tokoh setelahnya seperti Seyyed Hossein Nasr (1990) yang menyerukan pentingnya aspek spiritual bagi manusia modern. Dan karya terbaru adalah Karen Armsrtrong dalam Sacred Nature (2023). Ia melacak kembali spirit ajaran agama dunia tentang sakralitas semesta.

Teologi lingkungan menegaskan bahwa jika nabi Adam keluar dari surga hanya karena makan satu buah khuldi, lantas bagaimana nasib mereka yang tiap hari menebang pohon yang terlarang? 

Dr. Darlis, Lc. M.S.I (Pengasuh Pesantren Anwarul Qur’an)