Oleh: Muh.Nurhidayat, M.Pd.
Santri Pesantren Anwarul Quran
Suasana pagi di pesantren selalu memiliki cerita. Embun masih menempel di dedaunan, angin berembus pelan di antara pepohonan, dan halaman tampak bersih sebelum aktivitas belajar dimulai. Di sudut lain, beberapa santri terlihat memungut sampah yang berserakan, sebagian menyiram tanaman, sementara yang lain merapikan ruang kelas. Tidak ada yang memerintah dengan suara keras. Semua bergerak karena telah terbiasa.
Melihat pemandangan seperti itu, mungkin kita akan bertanya, siapa sebenarnya yang menjaga kebersihan pesantren ini?
Jika jawabannya adalah petugas kebersihan, tentu tidak ada yang salah. Kehadiran petugas memang menjadi bagian dari sistem pengelolaan pesantren yang baik. Namun, suasananya akan terasa berbeda ketika seluruh warga pesantren mulai dari santri, guru, pembina, pengurus, ikut terlibat menjaga lingkungan. Pada saat itulah kebersihan tidak lagi sekadar hasil pekerjaan seseorang, melainkan menjadi budaya yang hidup di tengah-tengah pesantren.
Di sinilah pendidikan menemukan maknanya.
Pesantren sejak dahulu dikenal sebagai tempat menempa ilmu sekaligus akhlak. Pendidikan di dalamnya tidak hanya berlangsung ketika kitab dibuka atau guru menjelaskan pelajaran, tetapi juga ketika kehidupan sehari-hari berjalan. Hal-hal yang tampak sederhana sering kali justru menjadi pelajaran yang paling membekas.
Menyapu halaman, misalnya, bukan sekadar membersihkan sampah. Di balik sapu yang digerakkan setiap pagi, ada latihan untuk bertanggung jawab. Merawat tanaman bukan hanya membuat lingkungan tampak indah, tetapi juga mengajarkan kepedulian terhadap kehidupan. Membersihkan kamar atau ruang belajar melatih kedisiplinan, kerja sama, dan rasa memiliki terhadap tempat yang menjadi rumah selama menuntut ilmu.
Gagasan seperti ini sejalan dengan pemikiran John Dewey, tokoh pendidikan yang memperkenalkan konsep learning by doing. Menurutnya, pengalaman adalah guru terbaik. Nilai-nilai kehidupan tidak cukup hanya dijelaskan melalui ceramah, tetapi harus dialami secara langsung agar tumbuh menjadi kebiasaan.
Pandangan tersebut juga diperkuat oleh Thomas Lickona. Ia menjelaskan bahwa pendidikan karakter tidak berhenti pada mengetahui mana yang baik. Seseorang juga perlu mencintai nilai tersebut, lalu membiasakannya dalam tindakan nyata. Dengan kata lain, karakter lahir dari kebiasaan yang terus dilakukan, bukan hanya dari nasihat yang terus didengar.
Karena itu, lingkungan pesantren sesungguhnya merupakan ruang belajar yang sangat kaya. Setiap sudutnya dapat menjadi media pendidikan apabila dikelola dengan baik. Ketika santri ikut menjaga kebersihan, mereka sedang belajar menjadi pribadi yang bertanggung jawab tanpa harus merasa sedang diajar.
Dalam ajaran Islam, kebersihan pun memiliki kedudukan yang istimewa. Menjaga kebersihan bukan sekadar persoalan kerapian atau keindahan, tetapi juga bagian dari ibadah dan akhlak. Lingkungan yang bersih mencerminkan kesadaran untuk menjaga amanah Allah sekaligus menghormati orang lain yang hidup di dalamnya.
Karena itu, pelibatan santri dalam menjaga kebersihan bukanlah bentuk eksploitasi atau upaya menggantikan tugas petugas kebersihan. Tujuannya jauh lebih besar daripada sekadar membuat halaman tetap bersih. Lingkungan dijadikan sebagai media tarbiyah, tempat nilai-nilai tanggung jawab, disiplin, kepedulian, dan kerja sama tumbuh melalui pengalaman nyata. Konsep ini dikenal sebagai embedded learning, yaitu proses belajar yang menyatu dengan aktivitas sehari-hari.
Namun, tanggung jawab tersebut tentu tidak hanya dibebankan kepada santri. Guru, pembina, pengurus, petugas kebersihan, hingga seluruh warga pesantren memiliki peran yang sama. Pendidikan karakter tidak lahir dari perintah, melainkan dari keteladanan. Ketika santri melihat semua orang ikut menjaga lingkungan, mereka belajar bahwa kepedulian adalah budaya bersama, bukan tugas satu kelompok saja.
Sebaliknya, apabila seluruh pekerjaan selalu diserahkan kepada tenaga profesional sementara santri hanya menikmati hasilnya, ada risiko yang perlu disadari. Mereka bisa tumbuh sebagai penghuni yang sekadar tinggal, bukan sebagai bagian dari rumah itu sendiri. Mereka menggunakan fasilitas setiap hari, tetapi tidak memiliki ikatan emosional untuk merawatnya.
Padahal, Pesantren bukan sekadar tempat singgah. Ia adalah rumah kedua yang membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara menjalani kehidupan. Ketika tumbuh kesadaran, “Pesantren ini adalah rumah saya, maka saya juga bertanggung jawab menjaganya,” saat itulah pendidikan karakter benar-benar bekerja. Nilai-nilai yang selama ini dipelajari di kelas berubah menjadi kebiasaan yang hidup dalam keseharian.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah pesantren tidak hanya diukur dari banyaknya kitab yang dikaji atau hafalan yang dikuasai. Keberhasilan juga tampak dari budaya yang tumbuh di dalamnya. Pesantren yang hebat bukan hanya melahirkan santri yang cerdas, tetapi juga pribadi yang peduli, disiplin, bertanggung jawab, dan mampu menjaga amanah.
Sebab ketika seluruh warga pesantren merasa memiliki lingkungan yang mereka tempati, kebersihan tidak lagi sekadar urusan menyapu atau membuang sampah. Ia telah menjadi bagian dari tarbiyah, menjadi jalan untuk membentuk karakter, dan menjadi cerminan akhlak yang diharapkan terus hidup, bahkan setelah para santri meninggalkan pesantren.

Add a Comment