TIDAK HILANG, HANYA TIDAK DIJEMPUT


Oleh: Syaiful, S.Pd.

Kita sering menganggap sesuatu yang jatuh dari tempatnya sebagai barang yang hilang. Padahal tidak semua yang jatuh benar-benar hilang. Sering kali ia hanya tergeletak, menunggu seseorang yang mau mengambilnya. Persoalannya, kepedulian semacam itu tidak selalu datang, terutama ketika barang tersebut bukan milik kita sendiri.

Gambaran ini akrab dalam keseharian pesantren. Pakaian santri yang dijemur kerap jatuh dari tali jemuran, lalu dibiarkan di tanah. Banyak santri melintas, melihat, dan melanjutkan langkah. Tidak ada yang mengambil, tidak ada yang memberi tahu pemiliknya. Ketika pemilik baru menyadari bajunya tidak ada di jemuran, sebagian langsung menyimpulkan bahwa bajunya hilang dan melapor demikian kepada orang tua. Padahal baju itu masih ada. Ia hanya tidak dijemput oleh siapa pun, termasuk oleh pemiliknya sendiri.

Peristiwa seperti ini mudah dianggap sepele dan cukup diselesaikan dengan teguran. Namun jika dilihat dari sudut manajemen pendidikan, ia menunjukkan persoalan yang lebih mendasar. Ada pekerjaan yang nyata, yaitu mengambil dan mengembalikan pakaian yang jatuh, tetapi tidak jelas siapa yang bertugas melakukannya. Ketika sebuah tugas tidak bertuan, setiap orang merasa orang lain yang semestinya bertindak. Hasilnya adalah pembiaran yang dilakukan bersama-sama.

Situasi ini tidak selalu lahir dari niat buruk. Santri yang melihat baju tergeletak mungkin berpikir bahwa teman sekamarnya, pengurus, atau petugas kebersihan akan mengurusnya. Santri lain berpikir hal yang sama. Setiap orang membuat kesimpulan yang masuk akal bagi dirinya sendiri, tetapi jumlah kesimpulan itu menghasilkan keadaan yang merugikan semua pihak. Pemilik baju kehilangan pakaiannya, orang tua menerima kabar yang keliru, dan lembaga kehilangan kepercayaan. Karena itu, menyalahkan santri satu per satu tidak akan menyelesaikan masalah. Yang perlu dibenahi adalah cara lembaga mengatur tugas, pengawasan, dan pelaporan.

Tony Bush (2020), dalam bukunya Theories of Educational Leadership and Management, memaparkan berbagai model manajemen dan kepemimpinan pendidikan, lalu mengajak pembacanya membandingkan model-model itu untuk menentukan mana yang sesuai dengan konteks tertentu. Dari kerangka ini kita bisa mengajukan pertanyaan yang sederhana: model apa yang sebenarnya sedang berjalan di asrama kita? Jika yang berjalan hanya pengawasan dari atas, yaitu ustaz atau pengurus menegur setelah masalah terjadi, maka urusan jemuran hanya hidup saat ada yang mengawasi. Santri akhirnya belajar bahwa kepedulian dan kejujuran adalah urusan yang diperiksa orang lain, bukan kebiasaan yang mereka miliki sendiri.

Bush juga membahas kepemimpinan guru dan kepemimpinan terdistribusi (distributed leadership), termasuk penilaian kritis terhadap konsep yang terakhir. Gagasan umumnya, kepemimpinan tidak harus berhenti pada satu jabatan, tetapi dapat dibagi kepada banyak orang. Bila gagasan ini dipinjam ke lingkungan pesantren, pengurus kamar dan santri senior dapat diberi peran yang jelas: siapa yang memeriksa jemuran sebelum waktu magrib, siapa yang mencatat pakaian yang tergeletak, dan ke mana pakaian itu dititipkan. Peran yang jelas mengubah “urusan semua orang” menjadi “tugas orang tertentu”.

Namun karena Bush sendiri menilai konsep ini secara kritis, pesantren perlu berhati-hati. Pembagian peran harus disertai kejelasan wewenang dan tindak lanjut dari pengasuh. Jika tidak, pembagian tugas hanya memindahkan beban kepada santri tanpa memperbaiki sistemnya.

Persoalan kedua terletak pada pelaporan kepada orang tua. Laporan “baju hilang” yang tidak diperiksa lebih dulu menunjukkan bahwa lembaga belum memiliki alur pencatatan yang memadai. Manajemen yang tertib membutuhkan prosedur sederhana: tempat penitipan pakaian temuan, catatan harian yang dapat dibuka kembali, dan jalur komunikasi resmi antara pihak pengasuhan dan orang tua. Dengan alur seperti itu, klaim kehilangan dapat dicek terlebih dahulu. Santri pun belajar bahwa sebuah laporan harus sesuai dengan kenyataan.

Dari sini terlihat bahwa kejujuran santri tidak cukup diajarkan lewat ceramah. Ia dibentuk oleh sistem yang memudahkan perilaku benar dan menyulitkan pembiaran. Santri yang menemukan baju orang lain perlu tahu ke mana harus menyerahkannya. Santri yang kehilangan pakaian perlu tahu ke mana harus bertanya sebelum melapor. Tanpa jawaban atas dua pertanyaan itu, kita sedang meminta santri bersikap jujur dan peduli, tetapi tidak memberi mereka jalan untuk melakukannya.

Karena itu, yang hilang dari jemuran sebenarnya bukan pakaian, melainkan kejelasan tanggung jawab. Baju akan kembali ketika ada yang menjemput, dan kejujuran akan bertahan ketika ada sistem yang menopangnya. Pesantren yang ingin menumbuhkan keduanya dapat memulai dari hal kecil: menentukan siapa yang menjemput.

Referensi

Bush, T. (2020). Theories of Educational Leadership and Management (5th ed.). SAGE Publications.