Oleh: Nurhalima, S.Ag.
Santri Pesantren Anwarul Quran
Kita sering membicarakan bagaimana cara mendidik anak, santri, atau generasi setelah kita dengan baik. Berbagai metode dicari, buku dibaca, dan seminar didatangi. Namun di tengah semua itu, pernahkah kita renungkan: apakah kita sendiri sudah cukup terdidik untuk mendidik?
Menjadi pendidik bukan berarti telah menjadi manusia yang sempurna. Menjadi pendidik adalah tentang kesediaan untuk terus belajar, bahkan ketika kita sedang mengajar. Karena menjadi terdidik bukan tentang tidak pernah salah. Menjadi terdidik adalah tentang mau memperbaiki diri setiap kali salah.
Pendidik memang penting. Tetapi memiliki ilmu saja belum cukup. Sebab, ilmu yang hanya tinggal di kepala membuat seseorang terlihat pintar. Tetapi Ilmu yang tumbuh menjadi akhlaklah yang membuat seseorang menjadi pendidik sejati.
Kita bisa tahu bahwa jujur itu baik, tetapi belum tentu mampu jujur saat merugikan diri. Kita paham bahwa sabar itu indah, tetapi tetap mudah marah ketika diuji. Ilmu memberi tahu mana yang benar. Pendidikan mengajak kita untuk menjalaninya. Tanpa akhlak, ilmu bisa menjadi sombong. Tanpa keteladanan, nasihat hanya menjadi suara yang lewat.
Dalam konteks ini, pesantren sebagai ekosistem keteladanan sangat penting. Orang tua, hari ini, berlomba-lomba memasukkan anaknya dalam pesantren. Bukan karena di sekolah lain, tidak belajar. Bukan pula karena pesantren memiliki fasilitas yang lebih keren. Tapi karena di pesantren tidak hanya belajar ilmu, tapi adalah belajar tentang kehidupan.
Anak belajar bukan hanya dari apa yang diberikan, tetapi dari apa yang mereka lihat. Mereka belajar dari cara pembina bicara, menyelesaikan masalah, dan memperlakukan orang lain. Dari guru mereka belajar tentang keikhlasan dan kesederhanaan. Karena menyadari itu, banyak orang tua memilih pesantren. Bukan untuk “menitipkan” anak, tetapi untuk memberi lingkungan yang mendidik 24 jam.
Sekali lagi, di pesantren, santri tidak hanya belajar dari kitab kuning dan hafalan. Mereka belajar dari hidup dan kehidupan itu sendiri. Mereka belajar ketika melihat Ustadz bangun jam 3 subuh untuk tahajud. Belajar ketika melihat guru menegur ketika melakukan kesalahan. Belajar ketika melihat pimpinan yang ikut kerja bakti bersama santri. Dan dalam banyak hal lainnya yang juga di bersamai oleh para pembina.
Disinilah kita sadar. Menjadi pendidik bukan hanya tentang apa yang kita ajarkan. Tetapi tentang apa yang kita lakukan setiap hari. Karena apa yang kita lakukan akan lebih lama diingat daripada apa yang kita katakan. Keteladanan adalah guru yang diam, tetapi pesannya menancap paling dalam.
Saat ini, meskipun saya sebagai guru pendamping, saya tetap merasa sebagai santri di Pesantren Anwarul Qur’an. Di sini saya belajar hidup. Saya belajar menjadi guru ketika adik kelas bertanya. Saya belajar menjadi kakak ketika harus menenangkan yang sedang sedih. Saya belajar menjadi adik ketika harus menerima nasihat dari yang lebih tua. Saya belajar menjadi teman, menjadi pendengar, menjadi penanggung jawab, menjalani berbagai peran yang nyata dalam kehidupan.
Menjadi guru mengajarkan saya: bahwa punya ilmu saja tidak cukup, kita harus belajar banyak hal juga, harus lebih sabar, dan berusaha memahami berbagai karakter yang kita dampingi sehari-hari. Menjadi kakak mengajarkan saya bahwa diteladani itu berat. Kalau ada kesalahan, kita juga ikut bertanggungjawab jawab.
Menjadi adik mengajarkan saya untuk pandai menimbang contoh, meminta nasihat ataupun berinteraksi dengan baik. Semua saya pelajari bukan dari buku. Tapi dari jatuh-bangun, dari salah dan ditegur, dari lelah dan tetap tersenyum.
Dari sini saya pahami bahwa Pesantren adalah sekolah kehidupan. Sekolah yang tidak punya bel pulang. Pelajarannya adalah adab, tanggung jawab, ikhlas, dan bagaimana menjadi manusia. Pesantren bukan tempat berkumpulnya orang-orang yang sudah baik. Pesantren adalah tempat orang-orang yang ingin menjadi lebih baik. Guru masih belajar. Santri masih belajar. Semua masih dalam proses.
Pendidikan di pesantren bukan hanya untuk santri. Guru, pembina, bahkan orang tua santri, semuanya sedang dididik oleh sistem yang sama: sistem kehidupan. Kita tidak perlu menunggu sempurna untuk mulai mendidik. Cukup mulai dengan satu niat yang ikhlas dan istiqamah dalam belajar.
Karena pada akhirnya, sebelum kita membimbing orang lain untuk berubah, bimbing diri kita sendiri untuk bertumbuh terlebih dahulu. Itulah inti dari sebuah pendidikan, yang tergambar nyata dalam kehidupan di pesantren.
