ALAM BUKAN OBJEK, TETAPI MITRA

Oleh: Muh. Akram J. Said, M.Ag.

Selama ini kita sering memandang alam sebagai sesuatu yang bebas kita manfaatkan. Seolah-olah manusia dapat melakukan apa saja terhadap alam. Pepohonan, gunung, laut, tumbuh-tumbuhan, dan berbagai kekayaan alam lainnya terkadang kita hanya fokus pada manfaat dan keuntungannya, tetapi kita lupa memikirkan keberlangsungannya.

Padahal, jika kita melihat lebih jauh, manusia sendiri tidak dapat hidup tanpa alam. Ada hubungan ketersalingan antara manusia dan alam, sehingga hubungan tersebut tidak sesederhana menempatkan manusia sebagai subjek dan alam sebagai objek.

Al-Qur’an memberikan pengingat agar manusia memperhatikan hubungan tersebut. Salah satunya terdapat dalam QS. al-Jâtsiyah [45]: 13:

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ۝١٣

“Dia telah menundukkan (pula) untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

Jika dibaca sekilas, ayat tersebut memang menunjukkan bahwa alam telah disediakan Allah untuk kemaslahatan manusia. Namun, perhatian kita sering kali hanya tertuju pada kata “menundukkan”, sehingga pemanfaatan alam terkadang dipahami secara berlebihan. Alam seakan-akan bebas dieksploitasi selama dapat memberikan keuntungan bagi manusia.

Padahal, ayat tersebut juga mengajak manusia untuk berpikir dan melihat tanda-tanda kebesaran Allah melalui apa yang ada di langit dan di bumi. Artinya, pemanfaatan alam seharusnya tidak membuat manusia lupa bahwa ada tanggung jawab yang harus dijalankan terhadap alam.

Kalau kita menerima bantuan dari seseorang, tentu kita merasa perlu mengucapkan terima kasih. Lalu bagaimana dengan alam yang setiap hari memberikan begitu banyak manfaat kepada manusia? Alam menyediakan makanan, air, udara, tempat tinggal, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Kita memang tidak dapat mengucapkan terima kasih kepada alam sebagaimana kepada manusia, tetapi rasa terima kasih tersebut dapat diwujudkan melalui sikap bertanggung jawab, seperti tidak mengambil secara berlebihan, tidak merusak, dan menjaga keberlangsungannya.

Persoalannya, saat ini kita masih sering melihat berbagai kerusakan alam yang dilakukan secara sadar. Penebangan pohon secara liar, pengikisan gunung, pencemaran sungai, hingga berbagai bentuk eksploitasi alam dapat dengan mudah kita temukan di berbagai media.

Mereka yang melakukan kerusakan tersebut bukan berarti tidak mengetahui akibatnya. Namun, kepentingan pribadi dan kelompok terkadang membuat manusia lebih mengikuti hawa nafsunya daripada memikirkan dampak yang akan dirasakan oleh orang lain dan lingkungan.

Dalam konteks ini, peringatan Rasulullah tentang hawa nafsu menjadi penting untuk direnungkan. Terdapat ungkapan yang dinisbatkan dalam hadis: وَإِنَّمَا أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَهْوَاءَكُمْ الْمُضِلَّةَ, “yang aku khawatirkan atas kalian adalah hawa nafsu kalian yang menyesatkan.”

Peringatan tersebut menunjukkan bahwa hawa nafsu dapat membuat manusia lebih mengutamakan keinginan pribadi daripada kebenaran dan kemaslahatan. Dalam persoalan alam, hal tersebut dapat terlihat ketika manusia hanya mengejar keuntungan tanpa mempertimbangkan kerusakan yang ditimbulkan.

Manusia memang membutuhkan alam dan boleh mengambil manfaat darinya, tetapi pemanfaatan tersebut tidak berarti boleh dilakukan sesuka hati. Dalam buku Al-Mîzân: A Covenant for the Earth terdapat ungkapan, “we are to take from the environment and to give to it, to uphold its rights or due (haqq)”.

Kalimat tersebut dapat dipahami bahwa manusia memiliki hubungan timbal balik dengan lingkungan. Manusia mengambil manfaat dari alam, tetapi pada saat yang sama memiliki kewajiban untuk memberikan sesuatu kepadanya, menjaga hak-haknya, dan memenuhi apa yang menjadi hak alam.

Dengan cara pandang seperti ini, alam tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang memberikan manfaat kepada manusia, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan yang perlu dihormati dan dijaga.

Hubungan manusia dengan alam terkadang kurang mendapatkan perhatian. Kita sering berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah dalam bentuk keimanan dan ibadah, begitu pula hubungan manusia dengan sesama dalam kehidupan sosial. Namun, ada hubungan lain yang juga penting, yaitu hubungan manusia dengan alam.

Setiap hari manusia bergantung kepada alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Makanan yang kita makan, air yang kita minum, dan udara yang kita hirup semuanya memiliki hubungan erat dengan alam. Karena itu, perhatian terhadap alam seharusnya menjadi bagian dari tanggung jawab manusia.

Guru kami pernah menyampaikan bahwa alam, seperti pepohonan, gunung, dan laut, sebenarnya merupakan mitra manusia dalam menjalani kehidupan di dunia. Alam dan manusia saling melengkapi dalam menjaga keseimbangan dan keberlangsungan hidup.

Memang manusia memiliki kedudukan yang istimewa dibandingkan makhluk lainnya karena diberikan akal dan kemampuan untuk berpikir. Namun, keistimewaan tersebut bukan alasan untuk mengabaikan alam. Justru dengan akal tersebut manusia seharusnya mampu memahami bagaimana memanfaatkan alam dengan baik sekaligus menjaganya.

Hubungan manusia dengan alam merupakan hubungan yang tidak dapat dipisahkan dari keberlangsungan kehidupan. Alam memberikan berbagai manfaat kepada manusia, sementara manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan melestarikannya.

Relasi tersebut tidak semestinya hanya dibangun atas dasar penguasaan dan eksploitasi, tetapi melalui sikap saling menghargai dan bertanggung jawab. Manusia tidak hanya mengambil manfaat dari alam, tetapi juga memiliki kewajiban untuk menjaga keberlangsungannya.

Karena itu, alam bukan sesuatu yang diciptakan untuk diabaikan setelah manfaatnya diambil, melainkan sesuatu yang perlu diperhatikan, dirawat, dan dihormati. Dengan demikian, alam tidak lagi hanya dipandang sebagai objek, tetapi sebagai mitra manusia dalam menjaga keberlangsungan kehidupan.

Pohon Terlarang!

Malaikat pun bersujud kepada nabi Adam! Malaikat memang ahli ibadah, tapi nabi Adam ahli asma (nama-nama). Nabi Adam mengetahui nama segala sesuatu. Sementara malaikat hanya tahu menyembah. Untuk menyandang gelar khalifah, tidak hanya ahli ibadah tapi juga alim tentang banyak hal. Kemampuan itu yang dimiliki nabi Adam, sementara malaikat tidak memilikinya. Nabi Adam pun didaulat sebagai khalifah karena ilmu. 

Nabi Adam bersama pasangannya tinggal di suatu tempat yang sangat indah. Di dalamnya terdapat aneka macam buah-buahan. Pepohonan sangat lebat. Hijau memanjakan pemandangan. Asri menentramkan hati. Hanya saja, ada satu pohon terlarang; dikenal pohon khuldi (pohon keabadian). Adam dan Hawwa boleh menikmati segala fasilitas yang ada, kecuali mendekati pohon tersebut. 

Sayangnya, nabi Adam khilaf karena tipu daya setan. Ia terperdaya dengan sumpahnya. Setan bersumpah atas nama Tuhan untuk mengelabui Adam dan Hawa. Ia merayu dan membujuknya dengan iming-iming keabadian. Keduanya memakan buah pohon terlarang tersebut. Akhirnya, Adam bersama Hawwa dilemparkan ke bumi. Keduanya memulai babak baru kehidupan; penuh tantangan dan ujian, tidak seindah lagi di surga.

Kisah nabi Adam dengan pohon terlarang penuh makna terekam dalam QS. Al-Baqarah: 30-37. Kisah tersebut mengajarkan tentang pelestarian lingkungan. Larangan pertama kali dari Allah, bukan syirik, bukan pula minum khamar. Tapi adalah larangan merusak pohon. Pohon terlarang itu sejatinya menjadi basis teologis gerakan hijau dewasa ini. Pohon terlarang sebagai simbol sakralitas semesta; sebuah konsep mendasar dalam Al-Quran.

Ironisnya, ajaran fundamental itu terbaikan. Tafsir klasik luput mengelaborasi isu lingkungan secara mendalam. Mungkin karena krisis lingkungan tidak separah hari ini. Hari ini pengetahuan dan tekhnologi sudah sangat canggih, namun justru melahirkan masalah baru; krisis lingkungan. Krisis itu akibat pengetahuan reduksionis dan teknologi yang disalahgunakan. Bumi terjarah dengan dalih produksi dan konsumsi.

Kini, gerakan hijau mulai menggema kembali. Konfrensi Stokcholm tahun 1972, sebagai awal kesadaran lingkungan secara global. Kesadaran tersebut sebagai respons terhadap kondisi bumi yang semakin terpuruk dan menangis (Delfo.C. Canceran (2019). Termasuk di Indonesia, gerakan hijau mulai bangkit kembali. Kampus, pesantren dan beberapa organisasi keagamaan menaruh perhatian besar kepada lingkungan. 

Gerakan lingkungan tersebut secara umum menyerukan kembali ke alam (back to the nature). Sebuah gerakan yang dipelopori oleh Arne Naess dengan nama deep ecology (1974). Gerakan tersebut juga menginspirasi tokoh setelahnya seperti Seyyed Hossein Nasr (1990) yang menyerukan pentingnya aspek spiritual bagi manusia modern. Dan karya terbaru adalah Karen Armsrtrong dalam Sacred Nature (2023). Ia melacak kembali spirit ajaran agama dunia tentang sakralitas semesta.

Teologi lingkungan menegaskan bahwa jika nabi Adam keluar dari surga hanya karena makan satu buah khuldi, lantas bagaimana nasib mereka yang tiap hari menebang pohon yang terlarang? 

Dr. Darlis, Lc. M.S.I (Pengasuh Pesantren Anwarul Qur’an)

IMG_20211120_102113_1 - Copy

Manusia Ekologis

Membangun manusia ekologis penting dan mendesak. Tentu tidak mudah. Membutuhkan usaha dan komitmen yang kuat, mulai dari tiap individu, organisasi sampai pada pemerintah. Namun hal paling utama dari semua itu adalah membangun kesadaran (awareness) ekologis. Yaitu kesadaran tentang bahaya dan dampak krisis lingkungan. Kesadaran bahwa bumi punya perasaan. Kesadaran bahwa semesta juga bertasbih. Kesadaran bahwa merusak semesta adalah merusak manusia.

png_20220318_182322_0000

Sunnah Ekologi

Sunnah-sunnah Nabi banyak dihidupkan di pesantren. Tapi harus diakui bahwa sunah shalat, sunnah berzikir, sunnah berpuasa, sunnah mengaji, semunya berlomba-lomba dilakukan santri. Tapi saya belum bisa memastikan apakah semangat yang sama ditunjukkan santri dalam menghidupkan sunah ekologi.  Miris rasanya kalau pesantren rajin baca kitab kuning, tapi tak peduli sampah. Tidak lengkap rasanya bila santri pondok hafal bab thaharah (bersuci), tapi toiletnya masih bau najasah (najis). Kurang sunah rasanya bila santri rajin membersihkan qalbunya, tapi tak rajin menjemur kasurnya.