Menyoal Otoritas Ulama

Satu hal yang sangat special di PKU-MI adalah kuliah umum. Tidak seperti tradisi kampus pada umumnya yang mendatangkan professor ternama. Atau mengundang pejabat tertentu untuk memberi kuliah umum. PKU-MI justru menghadirkan ulama ternama dan sederhana. Gelar akademik tidak mentereng, tapi bagaikan oase di tengah gurun sahara. Kuliah umum PKU-MI, (Senin 5/2/2024) dihadiri oleh KH. Zulfa Mustafa, salah satu ulama Nusantara yang kharismatik.

“Mencetak ulama global dan moderat di era artificial intelligence”. Tema yang sangat kontekstual, dan tentu sangat menantang. Otoritas ulama disoalkan di tengah perkembangan tekhnologi, khususnya kehadiran era artificial Intelligence (AI). Apakah ulama masih dibutuhkan, atau Al GPT sudah mengambil alih posisi tersebut? Masihkan dibutuhkan program kader ulama? Sejumlah pertanyaan kritis sebagai pemantik.

Secara normatif, tugas ulama tidak pernah usai dan berakhir. Ulama senantiasa dituntut untuk mengartikulasikan spirit Islam sesuai zaman. Demikian kandungan QS. an-Nahl: 44 bahwa upaya penafsiran tidak boleh berhenti (litubayyina), untuk semua umat manusia (li al-nas). Demikian pengantar Dr. Salahuudin Ayyub, MA selaku moderator.

Merespons hal itu, Kyai Zulfa, selaku pembicara kunci, memulai dengan gubahan syairnya yang sangat apik. Penampilannya sangat sederhana, sarungan dan kopiah yang sangat khas. Beliau mengulas fakta sejarah tentang keutamaan ulama Nusantara. Syeikh Abdul Rauf As-Sinkili (1615-1693 M), Syekh Yusuf al-Makassari (1626-1699 M) dan Syeikh An-Nawawi al-Bantani (1813-1897 M), adalah sejumlah ulama yang dimention. Mereka memiliki jihad ilmiah yang sangat dahsyat. Karyanya dibaca oleh dunia Islam. Otoritas mereka diakui dan disegani oleh ulama se-dunia.

Sayangnya, menurut Kyai Zulfa, tradisi tersebut mulai redup pada abad 20 an. Tidak banyak ulama Nusantara yang memiliki kapasitas seperti mereka. Karya ulama belakangan ini selain berbahasa Indonesia, juga sangat terbatas. Pengaruhnya tidak lagi mendunia. Bahkan masyarakat lokal pun lebih sering bertanya ke Mbah Google dan AI daripada ke ulama langsung. Olehnya, otoritas ulama mulai dipertanyakan.

Namun demikian, kekhawatirkan itu sedikit terobati ketika melihat sosok Kyai Zulfa. Kyai Zulfa masih terbilang muda, tapi penguasan turats sangat luar biasa. Beliau mengarang sejumlah kitab berbahasa Arab. Termasuk kemampuan beliau menarasikan persoalan pelik menjadi sederhana dan kontekstual. Kesan itu yang terpatri dalam diri saya ketiga beliau menguraikan tiga ciri orang berilmu dalam Al-Quran, dan relevansinya dengan AI GPT.

Menurutnya, ada tiga term Al-Qur’an bagi orang berilmu, yaitu rabbaniyyun, ulama dan ahl zikr. Ketiga disebutkan dalam Al-Qur’an dengan konteks yang berbeda. Tiap kata tersebut disertakan dalam Al-Qur’an sifat-sifat khusus bagi orang berilmu. Ketiganya berbeda satu sama lain.

Pertama, rabbaniiyun. Kata ini disebutkan dalam Al-Qur’an (QS. Ali-Imran: 79). Rabbaniiyun adalah sifat Tuhan sebagai rabb, murabbi. Ciri seorang murabbi dalam ayat di atas ada dua, yaitu mengajar (tuallimun al-kitab) dan belajar (tadrusun). Mengajar dan belajar tugas utama ulama rabbani. Otoritasnya pun akan semakin kokoh dengan dua fungsi tersebut. Sebaliknya, otoritas itu akan sirna jika ulama tidak lagi mengajar dan belajar.

Kedua, ulama. Kata ulama dalam QS. Fahir: 28 menekankan dua hal, yaitu holistik dan khasyia (taqwa). Gelar ulama mencakup seluruh keahlian. Tidak terbatas pada ahli agama saja. Ahli sains, sosial, politik, ekonomi adalah ulama. Tidak ada dikotomi antara sains dan agama. Ulama sejatinya memiliki kemampuan transdisipliner. Hanya saja, faktanya memang tidak mudah. Kriteria itu justru dimiliki oleh AI GPT. Al mengetahui segala persoalan. Namun, demikian Al-Gpt tidak mengenal khsyia, rasa takut. Rasa takut bisa dimakania tanggungjawab moral. Tugas ualam ini tidak akan tergantikan oleh Al-Gpt. Kapapun itu.

Ketiga, ahlu zikr. Stresing ulama dalam konteks ini lebih pada aspek kebijaksanaan (wisdom). Inilah rahasianya Al-Qur’an memerintahkan, “Tanyalah ahli zikir (QS. al-Anbiya: 7)! Bukan tanyalah ahli ilmi. Ahl zikir adalah ulama yang mampu mengaktifkan mata kepala (al-basharah) dan mata batinnya (al-Bashirah). Dengan basharah, ulama mampu mendiagnosa hal ihwal persoalan kontemporer. Sementara mata bashirah, ulama mampu menyingkap subtansi pesan Allah di balik teks huruf. Hanya dengan ini kebijaksaan akan terwujud. Ulama yang bijak selalu meneduhkan, menyatukan dan memberikan solusi yang tepat. Karena beragama tidak hanya tentang kebenaran, tapi juga tentang kebijaksanaan.

Dalam konteks ini, kehadiran ulama akan terus dibutuhkan. Fungsi utama ulama seperti narasi di atas tidak akan tergantikan oleh Al GPT. Al-GPT tidak mengenal rasa takut, AI GPT juga tidak peduli dengan konteks manusia, lebih lagi AI GPT tidak mengenal batasan nilai. Namun, jika karakter ulama hanya sebatas transfer pengetahuan dan searching data, maka otoritas ulama itu telah diambil alih oleh Al GPT.

Penulis

Darlis, Lc., M.S.I

(Mahasiswa Doktoral PKU-Masjid Istiqlal & Pengasuh Pesantren Anwarul Qur’an Palu)

EKOPSIKOLOGI DAN RELASI POSITIF DENGAN BUMI

Ahad 04 Januari 2024, Pesantren Anwarul Qur’an Kota Palu kembali melaksanakan kegiatan rutinan mingguan, yaitu beda artikel. Tema yang yang dibahas pada diskusi kali ini adalah ekopsikologi, tema yang cukup aktual dan menarik untuk didiskusikan. Ada empat santri yang menjadi pemateri, dua diantaranya adalah santri salafiyyah (setara SMA), duanya lagi santri mahasiswa. Masing-masing membahas isu utama yaitu ekopsikologi dengan pendekatan yang berbeda-beda. Ada yang memaparkan dengan pendekatan agama, ada juga mengurai dengan pendekatan medis. Lainnya melihat keharmonisan antara agama dan sains dalam konteks ekopsikologi.

Ekopsikologi menawarkan kesempatan bagus untuk mengeksplorasi bagaimana manusia ingin hidup di dunia ini sebagai manusia yang berwujud. Ekopsikologi mengakui bahwa manusia dibentuk dan dibentuk oleh sesuatu yang lebih dari sekedar dunia manusia. Banyak masyarakat manusia yang memisahkan diri dari alam, sehingga menciptakan kesenjangan buatan. Hal ini menguras kegembiraan alami dan spontanitas yang dirasakan manusia selama berada di dunia. Hal ini juga menumpulkan indra kita. Para ekopsikolog percaya bahwa ketika dunia manusia semakin musnah, kita merasakan kesedihan yang mendalam namun sering kali tidak kita sadari atas kehilangan yang kita hadapi.

Ekopsikologi berasal dari dua kata yaitu ekologi dan psikologi. Ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik manusia dengan lingkungannya. Sedangkan psikologi adalah salah satu bidang ilmu yang mempelajari tentang perilaku, fungsi mental, dan proses mental manusia melalui prosedur ilmiah. Selain ekopsikologi, ada istilah lain yang sering dikaitkan antara alam dan psikologi yaitu Psikologi Lingkungan. Ustadzah Jusmiati mengungkapkan bahwa psikologi lingkungan adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara individu dengan lingkungan fisik, baik lingkungan alami maupun lingkungan fisik buatan manusia.

Hal yang membedakan psikologi lingkungan dengan ekopsikologi menurut Ustadzah Jusmiati adalah ekopsikologi memfokuskan studinya pada interaksi timbal balik atau hubungan interdependensi antara perilaku manusia dengan lingkungan fisik yang alami. Sedangkan psikologi lingkungan merupakan studi terhadap pengaruh lingkungan fisik baik alami maupun non alami terhadap perilaku psikologis manusia.

Tujuan utama dari ekopsikologi adalah menciptakan kondisi agar manusia dapat bertindak lebih bertanggungjawab terhadap lingkungan alami sedangkan psikologi lingkungan lebih umum antara lain untuk memahami bagaimana lingkungan mempengaruhi perilaku manuasia secara umum.

KH. Aliasyadi cenderung menggunakan pendekatan spasial ketika menjelaskan perbedaan psikologi lingkungan dan ekopsikologi agar definisi yang disampaikan itu lebih dekat dengan kehidupan santri. Beliau memulai dengan memberikan contoh. “Kenapa ada santri yang memiliki kelakuan unik (nakal)?. Ternyata dikampungnya banyak orang-orang nakal dan ternyata dia tidak diawasi oleh orang tuanya, sehingga pengaruh lingkungan nakal tadi secara tidak langsung mempengaruhi psikologis santri. maka inilah yang disebut sebagai psikologi lingkungan”. Jadi  psikologi lingkungan lanjut KH. Aliasyadi bukan bertujuan untuk mengobati, hanya untuk mendeteksi penyebab kelakuan seseorang itu disebabkan oleh lingkungan. Sedangkan ekopsikologi lebih kepada bagaimana menyehatkan, mengobati jiwa manusia melalui alam tegas beliau dalam memberikan penguatan kepada santri.

Ekopsikologi pertama kali muncul sekitaran abad 20-an dicetuskan oleh Theodore Roszak pada tahun 1992 dalam bukunya “The Voice of the Earth”. Sebagai bentuk kritik Roszak terhadap psikologi yang terlalu fokus pada individu dan mengabaikan hubungan manusia dengan alam.

Pada tahun 1960 Roszak melihat bahwa kehidupan manusia ini sudah megalami perubahan dari manusia alami menjadi manusia teknokrasi. Artinya kita awalnya adalah manusia yang bergantung dan hidup bersama alam dan kemudian bergantung kepada teknologi. Sedangkan Indra Gunawan (santri pembeda artikel dengan tema “Ecopsychology dalam pandangan Agama Islam”) mengemukakan bahwa ekopsikologimuncul dengan latar belakang perubahan sosial masyarakat yang telah mengalami pembatasan interaksi. Kalaupun ada interaksi dengan alam semuanya mengarah kepada interaksi negatif ungkapnya. Dimana keadaan alam semakin memburuk akibat ulah manusia dan rasa peduli dan cinta terhadap alam semakin berkurang.

KH. Aliasyadi memberikan contoh kehidupan dulu dan sekarang. Kalau dulu aktivitas orang tua kita itu sangat alami. Mulai dari aktifitas memasak, bermain, rekreasi, desain rumah dll semuanya memanfaatkan failitas alam. Dulu kata beliau, ketika bermain kuda-kudaan itu menggunakan fasilitas alam berupa daun pisang yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menghasilkan sebuah mainan yang menyenangkan. Ketika merasa bosan dengan permainan itu, maka masih ada alternatif lain yaitu  pergi ke sungai untuk rekreasi. Disana dia bisa melompat dan berenang dengan riang gembira sambil menikmati jernihnya air. Maka mulai dari pekerjaan, makanan, permainan termasuk tempat rekreasi semuanya serba alami. Sekarang kehidupan sosial masyarakat sudah bergeser dan mengalami perubahan dari natural ke artifisial.

Perubahan kehidupan sosial inilah yang kemudian dikritik oleh Roszak dikarenakan manusia terlalu menutup diri dengan alam. Hal tersebut bersambut dengan adanya beberapa praktisi yang mulai mengembangkan ekopsikologi, termasuk G.A. Brdshow dan Mary Watkins. Kedua ilmuan tersebut percaya bahwa kesehatan psikologis manusia tidak dipisahkan dari kesehatan lingkungan.

Dari situ konsep ekopsikologi ini kemudian banyak diminati dan diterapkan diberbagai tempat, seperti model Green Hospital, Green House, dan Adnan Nugraha (santri pembeda artikel dengan tema “penerapan ekopsikologi untuk anak penderita kanker biofilia desain”) menambahkan Biofilia Desain dengan menawarkan tiga konsep yaitu Nature in the space, Nature Nalogues dan Nature of space.

Termasuk lanjut Adnan Pesantren Anwarul Qur’an Kota Palu mendesain bangunannya dengan desain ekopsikologi. Seperti bangunan masjid, kelas, perpustakaan, asrama serta lingkungan pesantren semuanya berbasis ekologi. Terkait dengan desain pesantren, KH. Aliasyadi menguatkan bahwa kesemuanya itu kita rancang karena memang kita berusaha menerapkan konsep ekopsikologi. Sehingga santri akan merasah betah berada di dalam pesantren ketimbang berada di luar pesantren.

Selain Biofilia Desain, konsep ekopsikologi juga sangat membantu dalam mengurangi depresi. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Abdan Syakur (santri pembeda artikel dengan tema Pengaruh Ruang Terbuka Hijau terhadap Psikologis Masyarakat”) mengatakan bahwa keterbukaan atau tersedianya ruang terbuka hijau memiliki pengaruh terhadap psikologis masyarakat terutama dalam mengurangi depresi di wilayah perkotaan. Ada dua cara dalam mengatasi depresi dengan menggunakan pendekatan ekopsikologi yaitu Healing Architecturem dan Healing Garden.

Selain depresi konsep ekopsikologi dapat juga membantu penyembuhan kanker pada anak. Hal ini dijelaskan oleh Adnan bahwa status kesehatan anak dapat mempengaruhi kesehatan seorang anak, salah satu satunya adalah anak dengan penyakit kroonis. Anak dengan kondisi ini akan mengalami keterlambatan perkembangan baik fiisk dan mental, terutama anak dengan kanker. Maka penerapan ekopsikologi dengan prinsip biofilia pada lingkungan tumbuh kembang anak penderita kanker yang diterapkan pada ruang maupun elemen-elemen yang berada disekitarnya dapat menghubungkan antara anak-anak penderita kanker dan alam secara tidak langsung.

Terkait dengan konsep ekopsikologi dalam proses penyembuhan KH. Aliasyadi mempunyai harapan besar kedepannya jikalau ada santri Anwarul Qur’an menjadi pengusaha dan membangun rumah sakit dengan menggunakan konsep ekopsikologi. Beliau kemudian menutup dan mengakhiri dengan mendoakan santri-santrinya agar menjadi pengusaha sukses sehingga cita-cita tersebut dapat terwujud.

Materi tersebut disampaikan dalam kegiatan bedah artikel mingguan di Pesantren Anwarul Qur’an Kota Palu, tanggal 04 Februari 2024 oleh Indra Gunawan, Adnan Nugraha, Muh. Saidi, Abdan Syakur serta penguatan dari Para Pembina Pesantren.

EKOFEMINISME: KESETARAAN MANUSIA DAN ALAM

Kata ‘ekofeminisme‘ mungkin masih asing bagi sebagian orang. Istilah ini memang masih tergolong baru meskipun gagasannya telah lama ada. Ekofeminisme terdiri dari dua kata, yaitu ‘eko’ dan ‘feminisme’. Kata ‘eko’ berasal dari bahasa Yunani, yakni ‘Oikos’ rumah atau tempat tinggal khusus untuk makhluk hidup. Adapun ilmu yang mempelajarinya disebut dengan ekologi, yang mana mempelajari hubungan manusia dengan lingkungan maupun manusia dengan makhluk hidup lainnya. Sedangkan feminisme merupakan gerakan filososfis yang memperjuangkan kesetaraan gender, melindungi hak-hak wanita dan menghindari adanya penindasan.

Pimpinan Pesantren Anwarul Qur’an Palu, KH. Aliasyadi, Lc., MA. dalam kegiatan bedah artikel hari Ahad, 21 Januari 2024, beliau menyederhanakan arti ekofeminisme ini agar santri dapat paham dengan baik, bahwa eko berarti bumi dan feminisme adalah perempuan. Secara istilah, ekofeminisme ini dapat diartikan sebagai hubungan keterkaitan antara alam dan manusia. Lantas mengapa menggunakan istilah ekofeminisme? Mengapa tidak ekomaskulin atau ekohumanis? Hal ini dikarenakan alam dan perempuan mempunyai kesamaan sebagai sumber kehidupan dan kemampuannya untuk mereproduksi. Keterkaitan antara alam dan perempuan ini dapat terlihat bahwa keduanya mempunyai pengaruh sangat besar, alam sebagai pusat memperoleh makanan dan perempuan sebagai pusat yang memberikan kehidupan bagi anak-anaknya, memberikan kasih sayang, mempunyai sifat ingin selalu menjaga dan melindungi. Pada fitrahnya juga, laki-laki tidak terlalu peduli, sementara perempuan kepeduliaannya lebih besar dalam banyak hal.

Perempuan dan alam bisa dikatakan sama-sama memiliki rahim, yang mana menjadi pusat berlangsungnya reproduksi. Tidak akan ada kehidupan tanpa adanya perempuan, begitupun tidak akan ada kehidupan tanpa alam ini. Munculnya ekofeminisme pada tahun 1974 di Prancis, yang mana gerakan ini mengkritisi bahwa perempuan seringkali dijadikan objek semata, menjadi korban penindasan dan dizalimi. Sama halnya dengan alam yang seolah-olah dinomorduakan dan dieksplotiasi semaunya tanpa ada rasa tanggung jawab, alam banyak dirusak oleh perusahan-perusahaan. Paham ekofeminisme ini juga semakin marak setelah melandanya wabah covid-19. Fenomena yang mengejutkan banyak terjadi ketika itu, seperti bertambahnya penggunaan sampah plastik dikarenakan seringnya belanja secara online. Upaya yang dapat dilakukan dalam meminimalisir angkanya saat ini adalah dengan memberikan pemahaman kepada pelaku perusak lingkungan tersebut bahwa dampak yang diberikan akan sangat mengancam keberlangsungan hidup manusia.

Orang yang tidak paham ekofeminisme cenderung akan memposisikan diri sebagai subjek, berlagak penguasa di muka bumi dan berbuat kerusakan. Padahal alam juga berhak memiliki kehidupan. Ekofeminisme ini menuntut kepada perempuan untuk peduli pada alam. Tatkala perempuan tidak rela melihat anaknya kesusahan, begitupula perempuan tidak tega melihat alam ini dirusak. Ada sebuah film yang cukup menarik berjudul “Our Mothers’ Land” menggambarkan gerakan perempuan yang mampu berdaya dan tidak pernah lelah dalam menjaga Ibu Bumi tercinta. Sebagaimana yang terjadi di India, seorang perempuan bernama Vandana Shiva yang memfokuskan perhatian pada persoalan perempuan dan lingkungan. Gerakan-gerakan yang ia lakukan menginginkan agar terjadi pelestarian lingkungan dan upaya terlepas dari ketertindasan.

Ekofeminisme ini selanjutnya dapat menjadi jalan tengah atas isu ketidaksetaraan gender, mengembalikan hak-hak perempuan. Seperti pada Suku Kaili, dimana seorang laki-laki (Raja) yang menikahi perempuan cerdas, pintar, dan penuh kasih sayang. Hal ini menjadikan laki-laki tersebut hidup lebih arif dikarenakan besarnya pengaruh perempuan tersebut. Perempuan punya posisi yang setara dengan laki-laki, seperti dalam acara-acara adat sampai pada pengambilan keputusan. Orang-orang suku kaili lebih mempercayai perempuan dalam memelihara, baik harta maupun keluarga. Sebagaimana pula alam membutuhkan kita, kita juga membutuhkan alam. Sehingga tidak cukup hanya tau bagaimana menggunakan, tetapi kita juga harus bisa memelihara dan merawatnya.

Faktanya, banyak wanita yang tidak paham teori ekofeminisme, tetapi pada praktiknya sendiri sudah menunjukkan hal tersebut. Seperti yang ada di Pesantren Anwarul Qur’an Palu, secara tidak sadar santri-santri sudah menerapkan ekofeminisme ini sendiri, dimana besarnya perhatian santri-santri Anwarul Qur’an terhadap sampah di sekitarnya. Santri sudah terdidik untuk mencintai lingkungan, memilah dan mengelola sampah, dan tidak akan ada lagi santri yang berani membuang sampah sembarangan. Hal terpenting juga yaitu kita belajar baik-baik, agar kelak ketika kita punya posisi di Negara ini, kita dapat menciptakan perubahan yang lebih baik, menjadikan lingkungan yang asri dan lestari.

*Materi tersebut disampaikan dalam kegiatan bedah artikel mingguan di Pesantren Anwarul Qur’an Palu, tanggal 21 Januari 2024 oleh Mudzikatul Haqiqoh, A. Nihal Nursyafar, dan Balqis, serta tambahan dari Para Pembina Pesantren.

 FILANTROPI BERBASIS EKOLOGI

Gerakan Filantropi Pesantren Berbasis Fikih Ekologi

Filantropi berasal dari dua kata, yaitu Philos yang berarti Cinta kasih dan Antropos yang berarti manusia, sedangkan ekologi adalah ilmu yang berkaitan dengan alam, oleh karena itu secara sederhananya filantropi berbasis ekologi berarti aktivitas berbagi dukungan dengan sumber daya yang ada dengan memperhatikan keterkaitan dengan lingkungan di sekitar kita. Sumber daya yang dimaksud bisa saja terdiri dari materi atau tenaga yang kita miliki. Dalam artikel yang kita bahas ini, penulis memberikan contoh terkait pesantren yang menjalankan prinsip ini, yaitu pesantren Tahfidz Anwarul Quran Kota Palu yang bukan hanya sebagai sarana pendidikan atau sarana kegiatan belajar mengajar , tetapi juga ikut berperan dalam menjaga lingkungan sekitar yang tentu akan berdampak positif bagi kelestarian alam. Program – program pesantren di Anwarul Quran yang mempraktikkan prinsip ini bisa kita lihat salah satunya pada kegiatan santri peduli yang mana hal ini sebagai kegiatan yang konsisten dilakukan tiap bulannya. Dalam kegiatan santri peduli ini, santri menyalurkan bahan sembako kepada masyarakat sekitar pesantren yang membutuhkan tetapi dengan meminimalisir penggunaan wadah dari plastik yang sekali pakai, karena pastik yang sekali pakai pastinya akan langsung dibuang dan hal itu berdampak rusak pada lingkungan sekitar. Selain kegiatan santri peduli, kegiatan pesantren yang mendukung prinsip Ekofilantropi adalah Jumat berkah, jumat berkah ini merupakan kegiatan sedekah makanan siang yang disediakan oleh santri untuk jamaah jumat yang hadir di masjid pesantren yang tentu dalam pelaksanaannya senantiasa menggunakan alat – alat yang ramah lingkungan.

Inovasi Pengelolaan Sampah Berbasis Filantropi Melalui Gerakan Sedekah Sampah Magelang (GEMMA)

Sampah menjadi persoalan yang semakin serius bagi kota – kota lain di Indonesia karena tidak semua kota memliki strategi dan konsep pengelolaan sampah yang baik. Disamping itu masih banyak masyarakat yang menganggap sampah sebagai sesuatu yang tidak bermanfaat. Akibat dari pola fikir tersebut, maka problematika sampah menjadi ancaman bagi keberlangsungan hidup/ekosistem. Berdasarkan data kajian analisis Timbulan Sampah kabupaten Magelang tahun 2020 sampah yang dihasilkan masyarakat magelang adalah 421.135 kg sampah/hari. Melihat hal tersebut, Yayasan Al Fath Islamic Center berupaya umtuk mengawal gagasan baru pengelolaan sampah berbasis filantropi melalui tindakan strategis yang berkelanjutan dalam rangka menciptakan “eco-innovation” dan “eco-socieppreneurship” di lingkungan kauman. Tindakan tersebut ditempuh melalui Gerakan Sedekah Sampah Magelang (GEMMA).

Adapun metode pelaksanaan yang dilakukan oleh para aktivis GEMMA untuk menyukseskan kegiatan inovasi pengelolaan sampah berbasis filantropi adalah sebagai berikut

  • Sosialiasi program Pengabdian Kepada Masyarkat (PKM) dan penyampaian gagasan
  • Pemetaan potensi dan problematika lingkungan daerah Kauman
  • Perencanaan program pengelolaan sampah berbasis filantropi
  • Pelaksanaan program GEMMA
  • Pemantauan dan pendampingan kegiatan
  • Evaluasi dan rencana tindak lanjut.

Pesantren bukan hanya sebagai tempat dan sarana pendidikan, akan tetapi juga sebagai contoh tempat yang komitmen menjaga kelestarian lingkungan

Ekofilantropi jika diartikan secara istilah fikih itu berarti sedekah, infaq dan zakat yang tentu harus ramah lingkungan atau kata lainnya bersedakah tanpa menimbulkan masalah. Tetapi dalam pelaksaannya, masih banyak umat islam yang tidak memperhatikan hal tersebut. Data yang telah diteliti mengenai hal ini sangat mengejutkan, karena umat islam di indonesia sangat berperan dalam pencemaran lingkungan karena sampah ini khususnya pada kegiatan kurban yang dilakukan ketika hari raya idul adha.

Sebagai contoh, dipesantren Anwarul Quran setiap tahunnya memotong 5 ekor sapi dan satu ekor sapi beratnya mencapai 100 kilo, jika satu orang dapat satu kilo, maka pesantren butuh 500 plastik untuk dapat menyalurkan daging kurbannya, dan plastik tersebut sudah pasti tidak akan dipakai lagi dalam artian akan dibuang begitu saja dan menjadi sampah yang akan merusak lingkungan. Itu baru satu pesantren, sedangkan di daerah tersebut terdapat puluhan masjid yang mengadakan pendistribusian daging kurban, bisa kita bayangkan betapa banyaknya sampah yang akan terkumpul. Dan masih banyak pesantren yang tidak sadar akan hal ini, pesantren yang seharusnya memberikan contoh menjaga lingkungan sebagai nilai nilai islam tetapi malah ikut menyumbangkan sampah yang tidak sedikit, di indonesia terdapat 27.722 pesantren yang telah terdata pemerintah dengan total santri diatas 4 juta santri. Jika santri tersebut tidak ada yang sadar dengan bahaya sampah maka santri tadi yang berjumlah 4 juta ikut menyumbangkan sampah juga. Akan tetapi jika kita ambil sisi positif, jika 4 juta santri tadi dikerahkan untuk membersihkan lingkungan sekitar maka pasti akan berkurang sampah disekitar kita.

Oleh karena itu, pesantren Anwarul Quran selalu berkomitmen untuk tetap sebagai pesantren yang ramah lingkungan yang mana hal ini direalisasikan dengan program yang selalu berorientasi terhadap lingkungan walapun pada awalnya visi tersebut tidak terfikirkan sama sekali. Tetapi pada suatu saat datang seorang dosen dari IPB (Institut Pertanian Bogor) yang menjelaskan betapa pentingnya ekologi atau hal hal yang berkaitan dengan lingkungan. Hal ini membuat kami tergugah dan dimulai saat itulah pesantren ini berkomitmen untuk ikut dalam menjaga lingkungan salah satunya dengan meminimalisir penggunaan plastik. Harapannya kedepan pesantren Anwarul Quran tidak hanya mengelola sampah yang ada disekitar pesantren, akan tetapi ikut andil dalam penyelesaian sampah yang ada di masyarakat sekitar.

Hal yang paling penting dalam sebuah komunitas atau pesantren adalah bagaimana visi dari suatu pesantren itu tetap berkelanjutan, karena banyak terjadi di berbagai pesantren ketika pimpinannya sudah tidak ada atau meninggal, tidak ada pengganti untuk meneruskan visi tersebut, tentu kita tidak ingin terjadi hal seperti itu. Oleh karena itu setiap program yang diadakan di pesantren ini memang bertujuan untuk menyadarkan hal tersebut agar kesadaran itu muncul bukan hanya pada diri ustadz atau pembina akan tetapi juga para santrinya. Sehingga ketika telah keluar dari sini para santri bisa juga menyadarkan hal yang serupa dilingkungannya masing – masing.

Santri di pesantren Anwarul Quran tidak dituntut untuk banyak mendapatkan prestasi nasional ataupun internasional, itu tidak terlalu penting, yang penting adalah bagaimana agar keseharian santri ketika pembina mengecek asrama, kamarnya selalu bersih tanpa diingatkan lagi. Jadi konsep itu tidak hanya dihafalkan saja, karena tentu kita sudah tahu ayat – ayat dan hadits mengenai kebersihan lingkungan, yang perlu ditekan kan lagi adalah penerapannya. Untuk saat ini kita tidak perlu sibuk memikirkan bagaimana cara penyelesaian sampah yang banyak dimasyarakat, akan tetapi yang dilakukan saat ini adalah penyelesaian sampah yang ada disekitar pesantren, memperbaiki diri sendiri dulu habis itu terjun dimasyarakat. Dan alhamdulillah para santri sudah banyak yang sadar akan hal ini, karena dalam kesehariannya sudah terbiasa untuk menggunakan alat alat yang ramah lingkungan baik itu ketika berbelanja ataupun kegiatan lainnya. Hal – hal semacam itulah yang tentu secara tidak langsung kita sudah membantu untuk menjaga kelestarian alam sekitar.

 *Materi tersebut disampaikan dalam kegiatana bedah artikel mingguan di Pesantren Anwarul Quran Palu, tanggal 14 Januari 2024, Oleh Sucipto dan Al Zikran S. Keluk serta penyampaian tambahan dari pembina pondok pesantren.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

KONFLIK DI PALESTINA

Sejarah berawal dari Nabi Nuh alaihi salam yang mempunyai cucu bernama Kan’an, kemudian mengembara ke sebuah tanah kosong yang diberi nama suku Kan’an. Seiring berjalannya waktu, Suku Kan’an ini berubah namanya menjadi suku Palestina. Dari anak keturunan Nabi Nuh ini lahirlah seorang Nabi bernama Ya’qub yang mempunyai 12 orang anak.

Istilah Bani Israel ini muncul karena Nabi Yaqub yang amat dekat dengan Allah. Dijuluki sebagai Israel yang artinya “hamba yang dekat dengan Allah” dan kemudian anak-anaknyalah yang dIsebut sebagai Bani Israel (anak dari hamba yang dekat dengan Allah). Mulanya mereka meninggalkan Palestina dan menetap di Mesir hingga saat kepemimpinan Fir’aun, keturunan Bani Israel dijadikan budak disana. Nabi Musa yang pada saat itu datang ke Mesir menyelamatkan mereka dari perbudakan dan membawa mereka ke satu tanah kosong. Namun, pada saat Nabi Musa meninggalkan mereka untuk menerima wahyu, kaum Bani Israel ini mulai kembali menyembah berhala hingga membuat Nabi Musa murka dan membawa beberapa orang dari Bani Israel yang masih tersisa sedikit keimanan dihatinya untuk bertaubat.

Nabi Musa membawa mereka ke gunung Sinai untuk memohon ampunan dari Allah SWT. Setelah bertaubat, mereka mengatakan انا هدنا اليك   asal katanya هادو sifat keadaannya يهود dan orang yang berbuat disebut يهود. Mereka inilah yang kemudian disebut Yahudi dan pada saat Nabi Musa berdoa tentang kemana mereka akan pergi, Allah menjawab “kembalilah kalian ke tanah nenek moyang kalian yang dulunya kalian hidup makmur dan berdampingan disana”. Namun saat mereka akan pergi, kaum Yahudi ini malah menyuruh Nabi Musa untuk mengusir suku asal Palestina. Hal ini yang membuat Allah murka dan melaknat mereka.

_Karena ini Bani Israel selalu berusaha merebut tanah Palestina, karena menganggap bahwa tanah Palestina merupakan tanah nenek moyang mereka yang dijanjikan oleh Allah_

Hamas muncul sebagai gerakan perlawanan Islam di Palestina pada Tahun 1987 selama pemberontakan Palestina yang pertama atau Intifada.

Terjadinya konflik antar Palestina dan Israel ini akan menimbulkan konflik pada negara negara yang mendukungnya. Contohnya pada Indonesia, karena dukungan Indonesia untuk Palestina, Indonesia melakukan aksi pemboikotan pada produk-produk mereka. Jika hal ini terus menerus terjadi, maka hal ini bisa jadi akan menyebabkan terjadinya inflasi serta banyaknya pengangguran.

PBB atau singkatan dari perserikatan bangsa-bangsa merupakan organisasi internasional yang bergerak untuk mendorong terjadinya kerja sama internasional yang meliputi kerja sama persoalan hukum internasional, pengamanan, ekonomi dan perlindungan sosial. Peran utama PBB yaitu memelihara perdamaian serta keamanan dunia.

Namun, pada konflik Palestina dan Israel PBB kurang efektif dalam menjalankan perannya karena adanya hak veto atau hak mutlak yang dipegang oleh lima negara yaitu Amerika, China, Prancis, Rusia dan Inggris. Karena Amerika Serikat merupakan pendukung utama Israel dan pemengang penuh hak veto maka PBB tidak bisa berbuat apa-apa karena ada Amerika yang selalu melindungi Israel.

Dukungan besar yang Amerika berikan juga dilatarbelakangi karena adanya hubungan khusus. Diantaranya, Amerika memiliki beberapa cabang perusahaan besar yang ada di Israel, adanya rancangan pembangunan Ben Gurion yang menjadi tandingan terusan Suez di Mesir yang merupakan jalur perdagangan, serta untuk menjaga negara Arab agar tidak memberontak pada negara Eropa.

_Peran PBB dalam konflik Israel dan Palestina kurang efektif karena adanya hak Veto yang dipengang penuh oleh negara-negara Eropa_

Awal mula konflik terjadi

Pada tahun 1897 berdiri suatu organisasi yang dipimpin oleh Theodor yang bertujuan untuk mendirikan suatu negara Yahudi, yang dinamakan Zionis. Palestina waktu itu masih berbentuk kerajaan yang dipimpin oleh Khilafah Utsmani yaitu Sultan Abdulhamid. Awalnya Zionis ini ingin membeli sebagian tanah di Turki Utsmani untuk ditinggali, namun ditolak.

Pada saat yang bersamaan, orang-orang Arab mulai memprotes kepemimpinan yang dipimpin oleh orang Turki dengan aksi pemberontakan hingga meminta bantuan pada Inggris dan Prancis dengan menjanjikan negara pada Yahudi tadi.

Waktu Inggris mengusai Palestina terdapat dua agama yaitu Islam dan Yahudi. Lalu Inggris yang menjual tanah Palestina dan menyisakan 3 bagian untuk warga Palestina yaitu Yerusalem, Gaza dan Tepi Barat Palestina.

Tahun 1917 mereka hidup berdampingan, namun sehari setelah Inggris meninggalkan tempat itu, Israel langsung membuat proklamasi dan mendirikan negara Israel yang disetujui oleh PBB. Namun PBB tidak menyetujui kemerdekaan Palestina saat Palestina mengajukan proklamasi. Hingga hal ini memicu terjadinya perang antara orang Arab dan Israel yang saat itu dimenangkan oleh Israel.

Tahun 1967 orang-orang Arab bersatu dan berperang selama 6 hari melawan Israel, namun kalah lagi karena Israel mendapatkan sokongan dari Amerika dan Inggris. Akibat dari kekalahan ini,

 diambilnya beberapa wilayah di Mesir dan negara-negara Arab Lain, saat itulah Mesir beserta negara-negara Arab yang lain membuat perjanjian negara dengan Israel untuk tidak mengganggu Israel. Hal ini yang membuat Paletina memperjuangkan kemerdekaanya sendiri pada saat itu. Hingga terbentuknya organisasi Hamas yaitu organisasi bersenjata pembela Palestina yang melawan Israel sampai saat ini. Namun Hamas ini diklaim sebagai organisasi terosis oleh PBB, sehingga negara manapun yang membantu Hamas sama saja membantu teroris.

Dalam hal ini mengapa negara Eropa mendukung Israel? Sejujurnya dukungan yang diberikan negara Amerika dan Inggris merupakan bukti bencinya negara Eropa terhadap kaum Yahudi sebab mereka menganggap kaum Yahudi sebagai anak nakal dan tidak ingin mereka Kembali ke Eropa. Hal ini yang membuat mereka mendukung orang Yahudi mendirikan negara sendiri.

Lalu apakah konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina adalah konflik agama? Jawabannya dilihat dari siapa yang membela, apakah kita membela Palestina karena sesama muslim? Jika benar, maka kita menganggapnya sebagai konflik agama.

_Kebencian negara Eropa pada Israel menjadi salah satu alasan yang membuat mereka mendukung Israel mendirikan negara sendiri agar tidak Kembali ke negara mereka_

*Materi tersebut disampaikan dalam kegiatan bedah artikel mingguan di Pesantren Anwarul Qur’an Palu, tanggal 7 Januari 2024, oleh Rajiatul Farha Fitriah, Humaira dan Fitri Ramadhani