Menyoal Otoritas Ulama

Satu hal yang sangat special di PKU-MI adalah kuliah umum. Tidak seperti tradisi kampus pada umumnya yang mendatangkan professor ternama. Atau mengundang pejabat tertentu untuk memberi kuliah umum. PKU-MI justru menghadirkan ulama ternama dan sederhana. Gelar akademik tidak mentereng, tapi bagaikan oase di tengah gurun sahara. Kuliah umum PKU-MI, (Senin 5/2/2024) dihadiri oleh KH. Zulfa Mustafa, salah satu ulama Nusantara yang kharismatik.

“Mencetak ulama global dan moderat di era artificial intelligence”. Tema yang sangat kontekstual, dan tentu sangat menantang. Otoritas ulama disoalkan di tengah perkembangan tekhnologi, khususnya kehadiran era artificial Intelligence (AI). Apakah ulama masih dibutuhkan, atau Al GPT sudah mengambil alih posisi tersebut? Masihkan dibutuhkan program kader ulama? Sejumlah pertanyaan kritis sebagai pemantik.

Secara normatif, tugas ulama tidak pernah usai dan berakhir. Ulama senantiasa dituntut untuk mengartikulasikan spirit Islam sesuai zaman. Demikian kandungan QS. an-Nahl: 44 bahwa upaya penafsiran tidak boleh berhenti (litubayyina), untuk semua umat manusia (li al-nas). Demikian pengantar Dr. Salahuudin Ayyub, MA selaku moderator.

Merespons hal itu, Kyai Zulfa, selaku pembicara kunci, memulai dengan gubahan syairnya yang sangat apik. Penampilannya sangat sederhana, sarungan dan kopiah yang sangat khas. Beliau mengulas fakta sejarah tentang keutamaan ulama Nusantara. Syeikh Abdul Rauf As-Sinkili (1615-1693 M), Syekh Yusuf al-Makassari (1626-1699 M) dan Syeikh An-Nawawi al-Bantani (1813-1897 M), adalah sejumlah ulama yang dimention. Mereka memiliki jihad ilmiah yang sangat dahsyat. Karyanya dibaca oleh dunia Islam. Otoritas mereka diakui dan disegani oleh ulama se-dunia.

Sayangnya, menurut Kyai Zulfa, tradisi tersebut mulai redup pada abad 20 an. Tidak banyak ulama Nusantara yang memiliki kapasitas seperti mereka. Karya ulama belakangan ini selain berbahasa Indonesia, juga sangat terbatas. Pengaruhnya tidak lagi mendunia. Bahkan masyarakat lokal pun lebih sering bertanya ke Mbah Google dan AI daripada ke ulama langsung. Olehnya, otoritas ulama mulai dipertanyakan.

Namun demikian, kekhawatirkan itu sedikit terobati ketika melihat sosok Kyai Zulfa. Kyai Zulfa masih terbilang muda, tapi penguasan turats sangat luar biasa. Beliau mengarang sejumlah kitab berbahasa Arab. Termasuk kemampuan beliau menarasikan persoalan pelik menjadi sederhana dan kontekstual. Kesan itu yang terpatri dalam diri saya ketiga beliau menguraikan tiga ciri orang berilmu dalam Al-Quran, dan relevansinya dengan AI GPT.

Menurutnya, ada tiga term Al-Qur’an bagi orang berilmu, yaitu rabbaniyyun, ulama dan ahl zikr. Ketiga disebutkan dalam Al-Qur’an dengan konteks yang berbeda. Tiap kata tersebut disertakan dalam Al-Qur’an sifat-sifat khusus bagi orang berilmu. Ketiganya berbeda satu sama lain.

Pertama, rabbaniiyun. Kata ini disebutkan dalam Al-Qur’an (QS. Ali-Imran: 79). Rabbaniiyun adalah sifat Tuhan sebagai rabb, murabbi. Ciri seorang murabbi dalam ayat di atas ada dua, yaitu mengajar (tuallimun al-kitab) dan belajar (tadrusun). Mengajar dan belajar tugas utama ulama rabbani. Otoritasnya pun akan semakin kokoh dengan dua fungsi tersebut. Sebaliknya, otoritas itu akan sirna jika ulama tidak lagi mengajar dan belajar.

Kedua, ulama. Kata ulama dalam QS. Fahir: 28 menekankan dua hal, yaitu holistik dan khasyia (taqwa). Gelar ulama mencakup seluruh keahlian. Tidak terbatas pada ahli agama saja. Ahli sains, sosial, politik, ekonomi adalah ulama. Tidak ada dikotomi antara sains dan agama. Ulama sejatinya memiliki kemampuan transdisipliner. Hanya saja, faktanya memang tidak mudah. Kriteria itu justru dimiliki oleh AI GPT. Al mengetahui segala persoalan. Namun, demikian Al-Gpt tidak mengenal khsyia, rasa takut. Rasa takut bisa dimakania tanggungjawab moral. Tugas ualam ini tidak akan tergantikan oleh Al-Gpt. Kapapun itu.

Ketiga, ahlu zikr. Stresing ulama dalam konteks ini lebih pada aspek kebijaksanaan (wisdom). Inilah rahasianya Al-Qur’an memerintahkan, “Tanyalah ahli zikir (QS. al-Anbiya: 7)! Bukan tanyalah ahli ilmi. Ahl zikir adalah ulama yang mampu mengaktifkan mata kepala (al-basharah) dan mata batinnya (al-Bashirah). Dengan basharah, ulama mampu mendiagnosa hal ihwal persoalan kontemporer. Sementara mata bashirah, ulama mampu menyingkap subtansi pesan Allah di balik teks huruf. Hanya dengan ini kebijaksaan akan terwujud. Ulama yang bijak selalu meneduhkan, menyatukan dan memberikan solusi yang tepat. Karena beragama tidak hanya tentang kebenaran, tapi juga tentang kebijaksanaan.

Dalam konteks ini, kehadiran ulama akan terus dibutuhkan. Fungsi utama ulama seperti narasi di atas tidak akan tergantikan oleh Al GPT. Al-GPT tidak mengenal rasa takut, AI GPT juga tidak peduli dengan konteks manusia, lebih lagi AI GPT tidak mengenal batasan nilai. Namun, jika karakter ulama hanya sebatas transfer pengetahuan dan searching data, maka otoritas ulama itu telah diambil alih oleh Al GPT.

Penulis

Darlis, Lc., M.S.I

(Mahasiswa Doktoral PKU-Masjid Istiqlal & Pengasuh Pesantren Anwarul Qur’an Palu)

Tags: No tags

One Response

Leave a Reply to ustad ali Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *