FILANTROPI BERBASIS EKOLOGI

Gerakan Filantropi Pesantren Berbasis Fikih Ekologi

Filantropi berasal dari dua kata, yaitu Philos yang berarti Cinta kasih dan Antropos yang berarti manusia, sedangkan ekologi adalah ilmu yang berkaitan dengan alam, oleh karena itu secara sederhananya filantropi berbasis ekologi berarti aktivitas berbagi dukungan dengan sumber daya yang ada dengan memperhatikan keterkaitan dengan lingkungan di sekitar kita. Sumber daya yang dimaksud bisa saja terdiri dari materi atau tenaga yang kita miliki. Dalam artikel yang kita bahas ini, penulis memberikan contoh terkait pesantren yang menjalankan prinsip ini, yaitu pesantren Tahfidz Anwarul Quran Kota Palu yang bukan hanya sebagai sarana pendidikan atau sarana kegiatan belajar mengajar , tetapi juga ikut berperan dalam menjaga lingkungan sekitar yang tentu akan berdampak positif bagi kelestarian alam. Program – program pesantren di Anwarul Quran yang mempraktikkan prinsip ini bisa kita lihat salah satunya pada kegiatan santri peduli yang mana hal ini sebagai kegiatan yang konsisten dilakukan tiap bulannya. Dalam kegiatan santri peduli ini, santri menyalurkan bahan sembako kepada masyarakat sekitar pesantren yang membutuhkan tetapi dengan meminimalisir penggunaan wadah dari plastik yang sekali pakai, karena pastik yang sekali pakai pastinya akan langsung dibuang dan hal itu berdampak rusak pada lingkungan sekitar. Selain kegiatan santri peduli, kegiatan pesantren yang mendukung prinsip Ekofilantropi adalah Jumat berkah, jumat berkah ini merupakan kegiatan sedekah makanan siang yang disediakan oleh santri untuk jamaah jumat yang hadir di masjid pesantren yang tentu dalam pelaksanaannya senantiasa menggunakan alat – alat yang ramah lingkungan.

Inovasi Pengelolaan Sampah Berbasis Filantropi Melalui Gerakan Sedekah Sampah Magelang (GEMMA)

Sampah menjadi persoalan yang semakin serius bagi kota – kota lain di Indonesia karena tidak semua kota memliki strategi dan konsep pengelolaan sampah yang baik. Disamping itu masih banyak masyarakat yang menganggap sampah sebagai sesuatu yang tidak bermanfaat. Akibat dari pola fikir tersebut, maka problematika sampah menjadi ancaman bagi keberlangsungan hidup/ekosistem. Berdasarkan data kajian analisis Timbulan Sampah kabupaten Magelang tahun 2020 sampah yang dihasilkan masyarakat magelang adalah 421.135 kg sampah/hari. Melihat hal tersebut, Yayasan Al Fath Islamic Center berupaya umtuk mengawal gagasan baru pengelolaan sampah berbasis filantropi melalui tindakan strategis yang berkelanjutan dalam rangka menciptakan “eco-innovation” dan “eco-socieppreneurship” di lingkungan kauman. Tindakan tersebut ditempuh melalui Gerakan Sedekah Sampah Magelang (GEMMA).

Adapun metode pelaksanaan yang dilakukan oleh para aktivis GEMMA untuk menyukseskan kegiatan inovasi pengelolaan sampah berbasis filantropi adalah sebagai berikut

  • Sosialiasi program Pengabdian Kepada Masyarkat (PKM) dan penyampaian gagasan
  • Pemetaan potensi dan problematika lingkungan daerah Kauman
  • Perencanaan program pengelolaan sampah berbasis filantropi
  • Pelaksanaan program GEMMA
  • Pemantauan dan pendampingan kegiatan
  • Evaluasi dan rencana tindak lanjut.

Pesantren bukan hanya sebagai tempat dan sarana pendidikan, akan tetapi juga sebagai contoh tempat yang komitmen menjaga kelestarian lingkungan

Ekofilantropi jika diartikan secara istilah fikih itu berarti sedekah, infaq dan zakat yang tentu harus ramah lingkungan atau kata lainnya bersedakah tanpa menimbulkan masalah. Tetapi dalam pelaksaannya, masih banyak umat islam yang tidak memperhatikan hal tersebut. Data yang telah diteliti mengenai hal ini sangat mengejutkan, karena umat islam di indonesia sangat berperan dalam pencemaran lingkungan karena sampah ini khususnya pada kegiatan kurban yang dilakukan ketika hari raya idul adha.

Sebagai contoh, dipesantren Anwarul Quran setiap tahunnya memotong 5 ekor sapi dan satu ekor sapi beratnya mencapai 100 kilo, jika satu orang dapat satu kilo, maka pesantren butuh 500 plastik untuk dapat menyalurkan daging kurbannya, dan plastik tersebut sudah pasti tidak akan dipakai lagi dalam artian akan dibuang begitu saja dan menjadi sampah yang akan merusak lingkungan. Itu baru satu pesantren, sedangkan di daerah tersebut terdapat puluhan masjid yang mengadakan pendistribusian daging kurban, bisa kita bayangkan betapa banyaknya sampah yang akan terkumpul. Dan masih banyak pesantren yang tidak sadar akan hal ini, pesantren yang seharusnya memberikan contoh menjaga lingkungan sebagai nilai nilai islam tetapi malah ikut menyumbangkan sampah yang tidak sedikit, di indonesia terdapat 27.722 pesantren yang telah terdata pemerintah dengan total santri diatas 4 juta santri. Jika santri tersebut tidak ada yang sadar dengan bahaya sampah maka santri tadi yang berjumlah 4 juta ikut menyumbangkan sampah juga. Akan tetapi jika kita ambil sisi positif, jika 4 juta santri tadi dikerahkan untuk membersihkan lingkungan sekitar maka pasti akan berkurang sampah disekitar kita.

Oleh karena itu, pesantren Anwarul Quran selalu berkomitmen untuk tetap sebagai pesantren yang ramah lingkungan yang mana hal ini direalisasikan dengan program yang selalu berorientasi terhadap lingkungan walapun pada awalnya visi tersebut tidak terfikirkan sama sekali. Tetapi pada suatu saat datang seorang dosen dari IPB (Institut Pertanian Bogor) yang menjelaskan betapa pentingnya ekologi atau hal hal yang berkaitan dengan lingkungan. Hal ini membuat kami tergugah dan dimulai saat itulah pesantren ini berkomitmen untuk ikut dalam menjaga lingkungan salah satunya dengan meminimalisir penggunaan plastik. Harapannya kedepan pesantren Anwarul Quran tidak hanya mengelola sampah yang ada disekitar pesantren, akan tetapi ikut andil dalam penyelesaian sampah yang ada di masyarakat sekitar.

Hal yang paling penting dalam sebuah komunitas atau pesantren adalah bagaimana visi dari suatu pesantren itu tetap berkelanjutan, karena banyak terjadi di berbagai pesantren ketika pimpinannya sudah tidak ada atau meninggal, tidak ada pengganti untuk meneruskan visi tersebut, tentu kita tidak ingin terjadi hal seperti itu. Oleh karena itu setiap program yang diadakan di pesantren ini memang bertujuan untuk menyadarkan hal tersebut agar kesadaran itu muncul bukan hanya pada diri ustadz atau pembina akan tetapi juga para santrinya. Sehingga ketika telah keluar dari sini para santri bisa juga menyadarkan hal yang serupa dilingkungannya masing – masing.

Santri di pesantren Anwarul Quran tidak dituntut untuk banyak mendapatkan prestasi nasional ataupun internasional, itu tidak terlalu penting, yang penting adalah bagaimana agar keseharian santri ketika pembina mengecek asrama, kamarnya selalu bersih tanpa diingatkan lagi. Jadi konsep itu tidak hanya dihafalkan saja, karena tentu kita sudah tahu ayat – ayat dan hadits mengenai kebersihan lingkungan, yang perlu ditekan kan lagi adalah penerapannya. Untuk saat ini kita tidak perlu sibuk memikirkan bagaimana cara penyelesaian sampah yang banyak dimasyarakat, akan tetapi yang dilakukan saat ini adalah penyelesaian sampah yang ada disekitar pesantren, memperbaiki diri sendiri dulu habis itu terjun dimasyarakat. Dan alhamdulillah para santri sudah banyak yang sadar akan hal ini, karena dalam kesehariannya sudah terbiasa untuk menggunakan alat alat yang ramah lingkungan baik itu ketika berbelanja ataupun kegiatan lainnya. Hal – hal semacam itulah yang tentu secara tidak langsung kita sudah membantu untuk menjaga kelestarian alam sekitar.

 *Materi tersebut disampaikan dalam kegiatana bedah artikel mingguan di Pesantren Anwarul Quran Palu, tanggal 14 Januari 2024, Oleh Sucipto dan Al Zikran S. Keluk serta penyampaian tambahan dari pembina pondok pesantren.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Tags: No tags

One Response

Leave a Reply to ustad ali Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *