KONFLIK DI PALESTINA

Sejarah berawal dari Nabi Nuh alaihi salam yang mempunyai cucu bernama Kan’an, kemudian mengembara ke sebuah tanah kosong yang diberi nama suku Kan’an. Seiring berjalannya waktu, Suku Kan’an ini berubah namanya menjadi suku Palestina. Dari anak keturunan Nabi Nuh ini lahirlah seorang Nabi bernama Ya’qub yang mempunyai 12 orang anak.

Istilah Bani Israel ini muncul karena Nabi Yaqub yang amat dekat dengan Allah. Dijuluki sebagai Israel yang artinya “hamba yang dekat dengan Allah” dan kemudian anak-anaknyalah yang dIsebut sebagai Bani Israel (anak dari hamba yang dekat dengan Allah). Mulanya mereka meninggalkan Palestina dan menetap di Mesir hingga saat kepemimpinan Fir’aun, keturunan Bani Israel dijadikan budak disana. Nabi Musa yang pada saat itu datang ke Mesir menyelamatkan mereka dari perbudakan dan membawa mereka ke satu tanah kosong. Namun, pada saat Nabi Musa meninggalkan mereka untuk menerima wahyu, kaum Bani Israel ini mulai kembali menyembah berhala hingga membuat Nabi Musa murka dan membawa beberapa orang dari Bani Israel yang masih tersisa sedikit keimanan dihatinya untuk bertaubat.

Nabi Musa membawa mereka ke gunung Sinai untuk memohon ampunan dari Allah SWT. Setelah bertaubat, mereka mengatakan انا هدنا اليك   asal katanya هادو sifat keadaannya يهود dan orang yang berbuat disebut يهود. Mereka inilah yang kemudian disebut Yahudi dan pada saat Nabi Musa berdoa tentang kemana mereka akan pergi, Allah menjawab “kembalilah kalian ke tanah nenek moyang kalian yang dulunya kalian hidup makmur dan berdampingan disana”. Namun saat mereka akan pergi, kaum Yahudi ini malah menyuruh Nabi Musa untuk mengusir suku asal Palestina. Hal ini yang membuat Allah murka dan melaknat mereka.

_Karena ini Bani Israel selalu berusaha merebut tanah Palestina, karena menganggap bahwa tanah Palestina merupakan tanah nenek moyang mereka yang dijanjikan oleh Allah_

Hamas muncul sebagai gerakan perlawanan Islam di Palestina pada Tahun 1987 selama pemberontakan Palestina yang pertama atau Intifada.

Terjadinya konflik antar Palestina dan Israel ini akan menimbulkan konflik pada negara negara yang mendukungnya. Contohnya pada Indonesia, karena dukungan Indonesia untuk Palestina, Indonesia melakukan aksi pemboikotan pada produk-produk mereka. Jika hal ini terus menerus terjadi, maka hal ini bisa jadi akan menyebabkan terjadinya inflasi serta banyaknya pengangguran.

PBB atau singkatan dari perserikatan bangsa-bangsa merupakan organisasi internasional yang bergerak untuk mendorong terjadinya kerja sama internasional yang meliputi kerja sama persoalan hukum internasional, pengamanan, ekonomi dan perlindungan sosial. Peran utama PBB yaitu memelihara perdamaian serta keamanan dunia.

Namun, pada konflik Palestina dan Israel PBB kurang efektif dalam menjalankan perannya karena adanya hak veto atau hak mutlak yang dipegang oleh lima negara yaitu Amerika, China, Prancis, Rusia dan Inggris. Karena Amerika Serikat merupakan pendukung utama Israel dan pemengang penuh hak veto maka PBB tidak bisa berbuat apa-apa karena ada Amerika yang selalu melindungi Israel.

Dukungan besar yang Amerika berikan juga dilatarbelakangi karena adanya hubungan khusus. Diantaranya, Amerika memiliki beberapa cabang perusahaan besar yang ada di Israel, adanya rancangan pembangunan Ben Gurion yang menjadi tandingan terusan Suez di Mesir yang merupakan jalur perdagangan, serta untuk menjaga negara Arab agar tidak memberontak pada negara Eropa.

_Peran PBB dalam konflik Israel dan Palestina kurang efektif karena adanya hak Veto yang dipengang penuh oleh negara-negara Eropa_

Awal mula konflik terjadi

Pada tahun 1897 berdiri suatu organisasi yang dipimpin oleh Theodor yang bertujuan untuk mendirikan suatu negara Yahudi, yang dinamakan Zionis. Palestina waktu itu masih berbentuk kerajaan yang dipimpin oleh Khilafah Utsmani yaitu Sultan Abdulhamid. Awalnya Zionis ini ingin membeli sebagian tanah di Turki Utsmani untuk ditinggali, namun ditolak.

Pada saat yang bersamaan, orang-orang Arab mulai memprotes kepemimpinan yang dipimpin oleh orang Turki dengan aksi pemberontakan hingga meminta bantuan pada Inggris dan Prancis dengan menjanjikan negara pada Yahudi tadi.

Waktu Inggris mengusai Palestina terdapat dua agama yaitu Islam dan Yahudi. Lalu Inggris yang menjual tanah Palestina dan menyisakan 3 bagian untuk warga Palestina yaitu Yerusalem, Gaza dan Tepi Barat Palestina.

Tahun 1917 mereka hidup berdampingan, namun sehari setelah Inggris meninggalkan tempat itu, Israel langsung membuat proklamasi dan mendirikan negara Israel yang disetujui oleh PBB. Namun PBB tidak menyetujui kemerdekaan Palestina saat Palestina mengajukan proklamasi. Hingga hal ini memicu terjadinya perang antara orang Arab dan Israel yang saat itu dimenangkan oleh Israel.

Tahun 1967 orang-orang Arab bersatu dan berperang selama 6 hari melawan Israel, namun kalah lagi karena Israel mendapatkan sokongan dari Amerika dan Inggris. Akibat dari kekalahan ini,

 diambilnya beberapa wilayah di Mesir dan negara-negara Arab Lain, saat itulah Mesir beserta negara-negara Arab yang lain membuat perjanjian negara dengan Israel untuk tidak mengganggu Israel. Hal ini yang membuat Paletina memperjuangkan kemerdekaanya sendiri pada saat itu. Hingga terbentuknya organisasi Hamas yaitu organisasi bersenjata pembela Palestina yang melawan Israel sampai saat ini. Namun Hamas ini diklaim sebagai organisasi terosis oleh PBB, sehingga negara manapun yang membantu Hamas sama saja membantu teroris.

Dalam hal ini mengapa negara Eropa mendukung Israel? Sejujurnya dukungan yang diberikan negara Amerika dan Inggris merupakan bukti bencinya negara Eropa terhadap kaum Yahudi sebab mereka menganggap kaum Yahudi sebagai anak nakal dan tidak ingin mereka Kembali ke Eropa. Hal ini yang membuat mereka mendukung orang Yahudi mendirikan negara sendiri.

Lalu apakah konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina adalah konflik agama? Jawabannya dilihat dari siapa yang membela, apakah kita membela Palestina karena sesama muslim? Jika benar, maka kita menganggapnya sebagai konflik agama.

_Kebencian negara Eropa pada Israel menjadi salah satu alasan yang membuat mereka mendukung Israel mendirikan negara sendiri agar tidak Kembali ke negara mereka_

*Materi tersebut disampaikan dalam kegiatan bedah artikel mingguan di Pesantren Anwarul Qur’an Palu, tanggal 7 Januari 2024, oleh Rajiatul Farha Fitriah, Humaira dan Fitri Ramadhani

Uang: Sumber Sengsara atau Bahagia Kita?

Oleh: Jusmiati, S.Psi., M.Psi.*

Malam Ahad adalah momen yang sangat dinantikan oleh seluruh santri Salafiyah Anwarul Qur’an.  Sebagian menyebutnya “malam ceria”, tetapi juga ada yang merasa malam itu “malam suram”.  Setiap pukul 20.00, mereka berkumpul di teras minimarket pesantren. Satu persatu berdatangan, duduk berkumpul dengan style ala santri. Ada yang bahagia kegirangan, ada pula yang murung tak berdaya.

Setelah Bu Bendahara tiba, suasana mendadak senyap. Mereka pasrah dan menunggu panggilan seraya memegang erat-erat sebuah buku yang sangat berharga. Buku itu bukan buku sembarangan.  Buku itu tak lain merupakan catatan belanja harian dan keuangan para santri.

Tibalah giliran santri diperiksa. Satu persatu memperlihatkan buku catatan di hadapan Bu Bendahara.  Sejumlah pertanyaan harus dijawab santri, seperti “Kenapa jajanmu lebih banyak dari biasanya? Kenapa minggu ini utangmu lewat batas maksimal? Kenapa catatan pengeluaranmu tidak rapi?”

Berbagai jawaban pun keluar dari mulut mereka. Tak jarang ada santri mencari-cari alasan sebagai pembenaran. Sementara santri yang berhasil mempertanggungjawabkan catatannya dengan baik, raut wajahnya berseri-seri. “Yess, alhamdulillah”, demikian kata spontan keluar dari mulut mereka. Betapa tidak, jika melanggar aturan, maka konsekuensinya Bu Bendahara akan mengurangi jatah uang jajan demi melunasi utang mereka. Adapun yang mengatur keuangannya dengan baik, mereka tetap diberi uang jajan full.

Santri-santri yang lulus “audit”, lantas menyerbu minimarket dengan gembira. Mereka auto jajan roti gepeng, salah satu cemilan favorit dan terlaris di minimarket pesantren. Meski hanya sebuah roti harga seceng, itulah yang mereka anggap sebagai apresiasi dan reward karena telah berhasil melewati sepekan dengan penuh tanggungjawab terhadap keuangannya. “Bagaimana rasanya tidak berutang? Bagaimana rasanya mampu menahan diri dari belanja berlebihan?” Pertanyaan itu pun senantiasa dilontarkan Bu Bendahara sebagai stimulasi agar santri menyadari sumber kebahagiaannya.

Uang memang memiliki banyak makna. Uang terkadang dipersepsi sebagai segala-galanya. Konon, segala masalah bisa selesai dengan uang. Uang adalah penguasa, lambang kesuksesan.  Ironisnya, tak jarang manusia menggantungkan kebahagiaan pada uang, bahkan segelintir individu begitu menuhankan uang. Nyatanya, uang secara universal itu sama saja sebagai alat tukar, standar nilai, dan alat bayar. Bedanya terletak di persepsi dan sikap kita terhadap uang itu. Bagaimana kendali diri kita dalam menggunakan uang.

Uang bisa menyebabkan manusia sengsara. Penulis buku The Psychology of Money, Morgan Housel, menggambarkan perilaku manusia terhadap uang itu melalui dua kisah yang bertolak-belakang. Ada kisah seorang Richard dan bagaimana sikapnya terhadap uang menyengsarakan hidupnya. Richard adalah seorang eksekutif Merrill Lynch lulusan Harvard, pebisnis sukses di usia sebelum 40 tahun. Ia ternyata berakhir bangkrut karena tidak pernah merasa cukup.

Kisah yang satunya membuktikan bahwa uang juga mampu membahagiakan. Kisah petugas kebersihan Amerika, Ronald Read yang rutin menabung. Di akhir hidupnya ia memiliki tabungan harta $8 juta sehingga mampu mewariskan $2 juta ke anak tirinya dan berdonasi $6 juta ke rumah sakit dan sekolah.

Bukan jumlah uang yang menyebabkan orang bahagia, namun sikap dan perilakunyalah terhadap uang. Persepsi dan sikap kita terhadap uang tidak hadir begitu saja. Adanya figur otoritas juga sangat berpengaruh, figur yang mendidik manusia tentang arti dan makna uang itu sendiri. Bisa orang tua, guru di sekolah hingga pembina di pesantren.

Itulah mengapa di pesantren Anwarul Quran, catatan keuangan santri juga dievaluasi setiap pekan. Santri tidak hanya belajar mengaji, bahasa Arab dan ilmu agama saja. Mereka juga diajarkan literasi keuangan.  Santri disosialisasi tentang persepsi dan sikap yang tepat terhadap uang yang mereka miliki. Selain itu, literasi keuangan meliputi cara mengatur keuangan dengan baik, belajar merapikan catatan pengeluaran dan pemasukan serta bagaimana mengelola uang, tahu prioritas belanja, paham mana kebutuhan atau sekedar keinginan. Jika duaratus ribuan saja mereka tidak mampu mengatur dengan baik, bayangkan apa yang terjadi jika mereka menjadi seorang kepala rumah tangga dengan gaji pas-pasan atau sekian juta.

Melalui proses tersebut, santri akan memperoleh persepsi dan sikap yang tepat terhadap uang. Pada akhirnya, mereka mampu mengembangkan sikap tanggung jawab, kepercayaan diri, pengendalian diri dan self esteemnya pun meningkat.  Pesantren Anwarul Qur’an menyadari bahwa manajemen keuangan sejak dini, bukan hanya mengajarkan makna pentingnya hidup minimalis dan berasas kebutuhan, tapi juga merancang masa depan yang penuh dengan kebahagian dan kesejahteraan.

*Bendahara dan Pengasuh Pesantren Anwarul Qur’an Palu