Oleh Suendi Efendi, S.Ag.
Santri Pesantren Anwarul Quran
Kemerdekaan Indonesia tidak seperti hujan yang jatuh dari langit. Ia diperjuangkan dengan darah, air mata, doa, serta pengorbanan yang begitu besar. Di balik gemuruh tembakan senjata, dan dentuman meriam, ada satu kelompok yang perannya tidak pernah bisa dihapus dari sejarah kemerdekaan Indonesia, yaitu para santri. Mereka tidak datang dengan membawa senjata dan meriam. Mereka datang dengan tiga hal sederhana yang selalu melekat pada mereka, yaitu sarung, kitab, dan semangat kemerdekaan. Tiga hal ini menjadi saksi bagaimana para santri ikut andil dalam melahirkan dan menjaga Indonesia.
Bagi santri, sarung bukan hanya sekadar penutup aurat. Sarung adalah identitas. Subuh ia dipakai untuk mengaji, siang dipakai untuk belajar, malam dipakai untuk shalat tahajjud memohon agar negeri ini lekas merdeka. Ketika Resolusi Jihad dikumandangkan pada 22 Oktober 1945, sarung yang biasa dipakai di pesantren itu juga dipakai para santri berjuang dalam medan perang. Di Surabaya 10 November 1945, kita tidak melihat barisan tentara dengan seragam lengkapnya. Yang kita lihat adalah barisan pemuda bersarung, berpeci, membawa bambu runcing, serta berkeyakinan bahwa mati membela tanah air adalah syahid.
Sarung mengajarkan dua hal penting. Pertama, kesederhanaan. Sarung tidak membedakan siapa yang kaya dan siapa yang miskin. Semua sama di hadapannya . Kedua, persatuan. Satu sarung melingkar merangkul tubuh. begitu juga cita-cita santri, merangkul seluruh anak bangsa tanpa membeda-bedakan suku, ras, dan agama. Demi satu tujuan, yaitu Indonesia merdeka. Hingga hari ini, pemandangan santri bersarung duduk melingkar di pesantren masih kita temui dari Sabang sampai Merauke. Hal ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai kesederhanaan dan persatuan yang dulu mengantarkan kita pada kemerdekaan, harus senantiasa kita jaga dan pertahankan.
Jika sarung adalah pakaian, maka kitab adalah senjata santri. Bukan senjata yang melukai, tetapi senjata yang dapat mencerdaskan dan menguatkan santri. Dari kitab-kitab kunig itulah lahir para ulama, kyai, pemimpin bangsa. Dari sini kemudian lahirlah satu fatwa yang mengguncang dunia, yaitu Resolusi Jihad, yang ditulis oleh KH. Hasyim Asy’ari di atas meja sederhana, dengan tinta dan iman. Fatwa itu menyatakan bahwa “Membela tanah air dari penjajah yang datang kembali ke Indonesia hukumnya Fardhu A’in”. Dan fatwa itu yang menggerakkan ratusan ribu santri maju ke garis depan.
Banyak kita temukan di pesantren-pesantren, sebagai contoh Pesantren Anwarul Qur’an Kota Palu. Santri diajarkan cara membaca kitab dengan teliti, satu harakat yang salah dapat mengubah makna, satu kata yang salah bisa mengubah hukum. Kebiasaan ini melatih santri untuk berpikir kritis, teliti, dan tidak mudah terprovokasi. Maka tidak heran jika pesantren menjadi tempat lahirnya orator-orator seperti Bung Tomo yang suaranya membakar semangat pemuda Surabaya.
Tantangan hari ini berbeda. Penjajahan tidak lagi datang dengan kapal perang, dan senapan. Ia datang lewat hoaks, narkoba, pergaulan bebas, serta perpecahan. Selain itu, santri juga harus menguasai dua hal, yang pertama adalah menguasai kitab kuning untuk menjaga akhlak dan spiritualitas, kemudian menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjaga pradaban. Santri harus menjadi guru, penulis, pengusaha, ilmuan, dan pemimpin. Karena bangsa yang merdeka adalah bangsa yang berilmu
Tanggal 17 Agustus merupakan hari kemerdekaan rakyat Indonesia. Hari tersebut bukan hanya sekadar hari perayaan biasa, akan tapi sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Bagi santri, kemerdekaan merupakan amanah dari Tuhan yang harus selalu dijaga dan dipertahankan. Dulu, cara mengisi kemerdekaan adalah dengan mengusir penjajah. Sekarang, cara mengisi kemerdekaan adalah membangun negeri ini dengan baik. Lihatlah pesantren-pesantren modern hari ini. Ada yang memiliki lahan pertanian, perikanan, dan industri. Itu semua adalah bentuk jihad, Jihad membangun peradaban.
Selain itu kemerdekaan juga berarti merdeka dalam berpikir. Santri diajarkan Islam wasathiyyah. Tidak keras, tidak lembek, menjadi penengah di tengah masyarakat yang gaduh. Menjadi perekat di tengah perbedaan. Karena hanya dengan persatuan, kemerdekaan ini bisa bertahan.
Prinsip hubbul withon minal iman atau cinta tanah air sebagian dari iman, selalu digaungkan di pesantren. Artinya, siapa pun yang merusak negeri ini dengan pengrusakan, korupsi. menyebarkan kebencian, atau memecah belah persatuan, maka ia telah mengkhianati kemerdekaan dan imannya sendiri.
Hari ini tugas kita berbeda. Kita tidak perlu lagi mengangkat bambu runcing. Tapi kita harus mengangkat pena untuk menulis, mengangkat tangan untuk bekerja , dan berdoa untuk bangsa ini. Selama sarung masih dipakai untuk sujud. Selama kitab masih dibuka untuk mengaji dan mengajar. Selama masih ada santri yang bangun malam mendoakan Indonesia, maka Insya Allah negeri ini akan tetap merdeka. Merdeka lahir dan batin.
Karena kemerdekaan ini mahal harganya, maka santri adalah salah satu yang membayarnya.
Merdeka!

Add a Comment