STUDI ORIENTALIS TERHADAP ISLAM

Istilah orientalis berasal dari bahasa Prancis dari kata “orient” berarti Timur. Sedangkan orientalisme adalah gerakan atau faham yang berhubungan dengan bangsa-bangsa di Timur dan lingkungannya. Adapun orientalis merupakan sarjana-sarjana Barat yang non-Islam dan mempelajari seputar dunia Timur. Dunia Timur yang dimaksud yakni wilayah-wilayah yang ada di Timur dekat (seperti Turki), Timur tengah (seperti Afganistan sampai perbatasan Cina), dan Timur jauh (seperti Indonesia).

Para orientalis mempelajari semua dunia timur tersebut, tidak sekadar belajar tentang Islam. Diantara mereka ada yang berfokus mempelajari budaya, bahasa, hingga pada agama-agamanya. Hanya saja kajian yang paling yang paling banyak dibahas adalah Islam itu sendiri. Penyebaran Islam yang begitu pesat menimbulkan kekhawatiran orang-orang Barat akan tergesernya eksistensi suku, bahasa, maupun agama di daerah mereka. Sebagian orang Barat juga memiliki stigma buruk terhadap Islam. Hal ini tidak terlepas dikarenakan banyaknya serangan yang mengatasnamakan Islam, seperti kasus-kasus teroris.

Ustadz Aliasyadi Lc.,MA. dalam kegiatan resensi artikel, pada hari Ahad 05 Mei 2024  mengatakan bahwa secara garis besar ada tiga tujuan yang melandasi para orientalis melakukan kajian mendalam tentang Islam. Pertama, mencari keburukan atau kekurangan Islam dengan tujuan ingin memperkenalkan Islam sebagai agama yang tidak baik, seperti berlaku tidak adil kepada wanita, agama teroris dan menyukai peperangan. Padahal dalam Al-Qur’an sama sekali tidak ada kata pedang, pisau, bom atom ataupun senjata lainnya.  Semua itu hanya bentuk propaganda mereka.

Seperti Ignatz Goldziher yang menyatakan bahwa banyak periwayatan dari Abu Hurairah adalah riwayat yang meragukan, karena beliau hanya mendapatkan kesempatan belajar bersama Nabi Muhammad Saw. kurang lebih lima tahun. Padahal waktu yang singkat itulah yang membuat Abu Hurairah betul-betul memfokuskan belajar kepada Nabi hingga mampu meriwayatkan lebih dari 5.000 hadis.

Kedua, para orientalis yang belajar Islam dan juga aspek-aspek lainnya untuk tujuan tertentu. Bukan karena ingin menjelek-jelekkan Islam, melainkan mencari kelemahannya. Mereka cenderung menggunakan cara halus dalam menjalankan misi tersebut. Mereka berusaha mengenali Islam secara mendalam, sehingga mampu menemukan sisi kelemahan dari Umat Islam. Sebagaimana yang dilakukan oleh Christian Snouck Hurgronje. Ia belajar tentang Islam dalam waktu yang lama dan mempelajarinya secara mendalam, bahkan dikatakan bahwa ia sempat masuk Islam dan diganti namanya menjadi Abdul Ghofur.

Ia adalah orang yang telah membantu Belanda dalam menyusun taktik jahat demi menaklukkan kerajaan Aceh yang dikenal sangat kuat jiwa jihadnya. Setelah ia hidup bersama masyarakat Aceh dan mendapatkan banyak informasi, ia kemudian merumuskan cara untuk menjatuthkan kerajaan tersebut dengan menghantam kaum Ulamanya. Begitupula yang terjadi pada Kerajaan Bone yang berhasil ditaklukkan dengan menggunakan opium.

Ketiga, murni karena ingin belajar tentang Islam. Orientalis dengan tujuan ini sama sekali tidak ingin menjelek-jelekkan Islam, mereka hanya akan menjelaskan Islam sebagaimana yang ada dan telah dipelajarinya. Seperti yang dilakukan oleh Karen Amstrong (Inggris) dalam mengkaji sejarah Nabi dan Annemarie (Prancis) yang banyak membawa pengaruh dalam studi Islam dan tasawuf. Begitupun Joseph Schacht yang merupakan orientalis pertama yang melakukan kajian hadis dengan karya fenomenalnya The Origins of Muhammadan Jurisprudence mengenai hadis Nabawi yang menuai kontroversi.

Kajian orientalis ini dapat memberikan dampak positif dan negatif bagi umat Islam, diikarenakan orientalis terbagi lagi dalam orientalis ekstrim dan orientalis moderat. Orientalis yang memberikan pemahaman bahwa Islam adalah agama yang ekstrim dapat menimbulkan propaganda serta menjadi ancaman dan tantangan. Inilah orientalis yang perlu kita hindari pemikirannya. Sedangkan orientalis yang memperkenalkan Islam sebagai agama yang moderat dapat menjadi kabar baik dan membantu penyebaran Islam yang lebih signifikan.

Terkait boleh tidaknya kita merujuk pada pemikiran orientalis, Ustadz Aliasyadi mengatakan bahwa ketika pemikiran atau pandangan orientalis tersebut dapat memberikan manfaat kepada kita, maka tidak masalah untuk kita ambil. Seperti AJ. Wensinck yang menulis kitab al-Mu’jam al-Mufahras li Alfāzh al-Hadīth al-Nabawi. Kitab ini seringkali menjadi rujukan terlebih di kalangan mahasiswa yang berkonsentrasi dalam kajian Hadis, kitab tersebut memudahkan dalam melacak hadis.

Selain orientalisme, ada pula istilah khusus untuk orang-orang yang mempelajari dunia Barat, dikenal dengan ‘Oksidentalisme’, meskipun tidak sepopuler kajian mengenai orientalisme. Ustadz Aliasyadi menutup kegiatan resensi artikel pagi hari itu dengan berpesan kepada para santrinya, “Tirulah semangat dari para orientalis, meskipun mereka bukan muslim, tapi mereka mau menghabiskan waktu, pikiran, dan harta untuk mempelajari Islam. Maka kita sebagai umat Islam harus jauh lebih semangat lagi daripada mereka dalam hal menuntut ilmu, jangan mau kalah dari mereka.”

*Materi ini disampaikan dalam kegiatan resensi artikel mingguan di Pondok Pesantren Anwarul Qur’an Kota Palu oleh Muh. Fathul Rahmat, Muh. Akram J. Said, dan Ahmad Fadhilla, serta tambahan dari Pembina pada tanggal 05 Mei 2024.

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *