Sakit Itu Nikmat

Oleh: Hikmaturrahmah, Lc., M.Ed.

Kata “sakit” ketika diucapkan tanpa kata apapun di belakangnya, maka tiada lain hanyalah rasa sakit dan penderitaan. Tetapi jika dikatakan: “sakit itu sebuah nikmat”, maka akan ada senyuman, keikhlasan, kesabaran bahkan rasa syukur di balik rasa sakit itu meski rasa sakitnya belum hilang. Pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama, apakah sakit yang menimpa fisik kita ataukah sakit yang dirasakan oleh hati kita, murni hanya meninggalkan rasa sakit, ataukah justru sakit itu nikmat yang perlu disyukuri, sama dengan syukur kita terhadap nikmat sehat dan nikmat rezeki lainnya?

Ada sebuah kisah dari Maulana Syekh Yusri Gabr Al-Hasani, seorang ulama Al-Azhar sekaligus dokter bedah asal Mesir. Beliau bercerita bahwa ia mempunyai teman seorang dokter bedah juga, yang sangat cerdas, sehari-harinya sibuk dengan urusan dunia dan terobsesi dengan dunia. Hidupnya hanya berkisar antara rumah sakit, ruang operasi, tempat olahraga, dan urusan dunia lainnya, tanpa shalat dan tanpa puasa. Dan ketika dokter ini di usia 35 tahun, yaitu puncak usia mudanya, Allah mengujinya dengan kanker usus. Lalu apa yang terjadi? Sakit yang ia alami itulah yang menjadi pintu kebaikan bagi dokter tersebut. Ia akhirnya menjadi orang yang paling bergantung kepada Allah. Dua tahun ia habiskan untuk berobat, sedangkan lisannya tidak lepas dari zikrullah dan shalawat kepada Nabi. Dan ketika wafat, wajahnya bersinar seperti rembulan sebagai tanda husnul khatimah.

Rasa sakitlah yang membuatnya sadar dari khilaf dan dosa-dosanya selama ini. Bukankah sakit seperti itu adalah nikmat? Jika ia tidak diuji dengan kanker usus, mungkin saja ia meninggal dengan kelalaiannya tanpa shalat dan puasa?

Rasa sakit dan lemah merupakan sesuatu yang manusiawi, supaya kita bisa mengatakan ”Ya Rabbi, Ya Allah” ketika kita diuji dengan sakit itu. Sebagaimana Nabi Ayyub yang Allah uji dengan sakit yang belum pernah ada di muka bumi, ditambah ujian hilangnya harta dan anaknya. Kisah ini bukanlah sekedar potret kesabaran seorang Nabi, tetapi pelajaran buat umat setelahnya bahwa ketika Allah memberikan kita ujian, bukan karena Allah membenci kita, tetapi karena Allah mencintai dan memuliakan kita dan ingin mendengarkan rintihan, doa dan taubat kita.

Sakit, kehilangan, kekurangan adalah ujian dari Allah. Dan biasanya Allah akan mengambil sesuatu dari kita untuk menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Sebagaimana orangtua yang mengurangi uang jajan anaknya, untuk nantinya ditabung agar bisa membeli sepeda motor untuknya. Maka hal-hal yang menyedihkan kita secara zahir, hakikatnya nikmat besar yang tak terlihat. Begitupula sebaliknya, nikmat yang besar yang kita idam-idamkan bisa jadi hal berbahaya buat kita, maka Allah menahannya dan tidak diberikan ke kita. Sebagaimana firman Allah Swt.:

كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡقِتَالُ وَهُوَ كُرۡهٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ 

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Q.S. Al-Baqarah: 216)

Terkadang keterikatan dan ketertarikan kita dengan sesuatu, membuat ikatan kita dengan Allah menjadi renggang, maka Allah ambil sesuatu tersebut untuk melepaskan ikatannya, yang kemudian membuat kita menjalin ikatan yang lebih kuat hanya kepada Allah Swt. Kehilangan kita hakikatnya mendekat kepada Allah karena biasanya, seorang hamba akan merintih, menangis, mengadu, mendekat kepada Allah ketika kehilangan. Bukankah ini nikmat yang besar?

Saat Allah ingin menyadarkan orang yang tamak dengan dunia, Ia menguji dengan kehilangan harta; saat Allah ingin menyadarkan orang yang sibuk dengan dunia, Ia menguji dengan sakit; dan saat Allah ingin menyadarkan orang yang rakus kekuasaan, maka Ia menguji dengan kehilangan kedudukan. Oleh karena itu, ketika ujian hadir, apakah kita fokus dengan ujian dan kesedihannya? Ataukah kita fokus pada Dia (Allah) yang memberikan ujian dan mampu menolong kita melewati ujian tersebut?

Besar kecilnya ujian menjelaskan di mana kelas kita. Allah paling tahu kelas kita masing-masing, sehingga Allah tidak akan menguji seorang hamba di luar kemampuannya. Anak SD akan diuji dengan ujian tingkat SD, begitu juga anak SMP, SMA dan seterusnya. Tiap level punya ujiannya sendiri yang pasti dia akan mampu menghadapinya karena ia telah banyak belajar di level tersebut.

Dari Mush’ab bin Sa’id dari ayahnya, ia berkata: “Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau Saw. menjawab: “Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat, maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Perkataan Syekh Syuraih sebagaimana dikutip dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala’: “Sesungguhnya ketika aku tertimpa musibah, maka aku bersyukur kepada Allah sebanyak empat kali: (1) Aku bersyukur karena musibah yang lebih besar tidak menimpaku; (2) Aku bersyukur karena Allah masih memberiku kesabaran dalam menghadapinya; (3) Aku bersyukur karena Dia masih memberiku taufik untuk mengucap istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) yang bisa kuharapkan pahalanya; (4) Aku bersukur karena musibah itu bukan pada agamaku”.

Dari Aisyah ra. berkata: “Nabi Saw. ketika melihat (mendapatkan) sesuatu yang dia sukai, beliau mengucapkan Alhamdulillahillazi bi ni’matihi tatimmush shaalihat (segala puji hanya milik Allah yang dengan segala nikmatNya segala kebaikan menjadi sempurna). Dan ketika beliau mendapatkan sesuatu yang tidak ia sukai, beliau Saw. mengucapkan, Alhamdulillah ‘ala kulli hal (segala puji hanya milik Allah atas setiap keadaan).”(HR. Ibnu Majah).

Jadi, mari kita hadapi rasa sakit itu dengan lebih banyak bersyukur ketimbang banyak mengeluh. Dan ucapkan selalu Alhamdulillah dalam semua keadaan dan ketetapan. Izinkan tulisan ini diakhiri dengan mengutip perkataan Syekh ‘Aidh al-Qarni:

“Dengan ridha, akan datang ketenangan dan keteduhan dalam hati. Dengan ridha juga akan datang rasa damai dan aman, kesejahteraan dan kemudahan hidup, kegembiraan dan kesenangan. Orang yang ridha dengan Allah, oleh Allah hatinya akan dipenuhi dengan nur dan keimanan, keyakinan dan cinta kasih, rasa puas dan kerelaan, rasa cukup dan aman, taubat dan inabah.”

Wallahu A’la wa A’lam.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *