IMG_20211120_102113_1 - Copy

Manusia Ekologis

Oleh: Darlis

Dengarkan Jeritan Bumi! Demikian judul buku yang diterbitkan oleh Ultimus dan Kristen Hijau tahun 2017. Buku ini merupakan sebuah respon dan refleksi teologis Kristani terhadap krisis ekologis yang melanda dunia. Bumi sedang menjerit, menangis kesakitan. Bumi sedang berteriak, meminta pertolongan. Bumi juga punya rasa, ingin disayang dan dicintai. Namun, hari ini manusia kekeringan rasa dan kehilangan cinta.

Ini adalah awal segala kehancuran. Sumber segala kekerasan. Bumi menangis, semesta nestapa. Manusia tak ubahnya sebuah robot, tak lagi merasa. Ia hanya berpikir untuk dirinya dan hari ini. Ia melupakan makhluk lain dan hari esok. Bumi pun dijarah untuk memuaskan keserakahan nafsunya. Bumi untuknya, dan hanyalah sebatas materi. Karena itulah mereka dijuluki sebagai manusia promethean oleh Seyyed Hossein Nasr, seorang cendikiawan muslim kelahiran Iran (1933) yang vokal mengkritik manusia modern.

Manusia ekologis hakikatnya adalah manusia yang tidak hanya memikirkan dirinya, tapi juga memikirkan semesta. Tingkah dan pemikirannya berorentasi ekologis, berbasis nilai-nilai kebajikan (virtues). Ia merupakan citra manusia pontifikal dalam bahasa Nasr, atau khalifah menurut narasi Al-Qur’an.

Dalam Al-Qur’an, citra manusia ekologis terekam dalam QS. al-A’raf: 77.

وَاذْكُرُوْٓا اِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاۤءَ مِنْۢ بَعْدِ عَادٍ وَّبَوَّاَكُمْ فِى الْاَرْضِ تَتَّخِذُوْنَ مِنْ سُهُوْلِهَا قُصُوْرًا وَّتَنْحِتُوْنَ الْجِبَالَ بُيُوْتًا ۚفَاذْكُرُوْٓا اٰلَاۤءَ اللّٰهِ وَلَا تَعْثَوْا فِى الْاَرْضِ مُفْسِدِيْنَ

“Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu khalifah-khalifah setelah kaum ‘Ad dan menempatkan kamu di bumi. Di tempat yang datar kamu dirikan istana-istana dan di bukit-bukit kamu pahat menjadi rumah-rumah. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi”.

Dalam ayat tersebut, tergambar karakter utama manusia ekologis. Pertama, memanfaatkan sumber daya alam dengan bijak. Membangun istana dalam ayat tersebut adalah simbol keberlangsungan hidup. Hal ini sesuai dengan fakta pentingnya pembangunan berkelanjutan dewasa ini. Tradisi Nabi SAW juga mendukung hal tersebut. Rasulullah mendorong untuk menghidupkan lahan mati (ihya al-mawat) agar lebih produktif dan fungsional.

Kedua, mensyukuri nikmat Allah. Di sela-sela memanfatkan sumber daya alam, Allah meminta manusia untuk bersyukur. Syukur ekologis tidak hanya terbatas kepada sikap tunduk kepada Sang Khalik, tapi juga terjewantahkan dalam bentuk menyambung rasa dengan semesta. Syukur ekologis yang terakhir meniscayakan dua hal, yaitu memanfaatkan sumber daya alam sesuai dengan kebutuhan dan tidak berlebihan, serta tetap menjaga pelestarian untuk beberlangsungan hidupnya.

Ketiga, larangan melakukan kerusakan (ifsad). Dalam konteks ekologis, kerusakan yang dimaksud adalah krisis lingkungan, baik dalam bentuk penebangan pohon (deforestasi), pencemaran lingkungan, maupun konsumsi-produksi sampah plastik. Bentuk-bentuk krisis tersebut masih menjadi pemandangan umum di sekitar kita. Fakta ini tentu sangat bertentangan dengan spirit Al-Qur’an yang ramah lingkungan.

Oleh karena itu, membangun manusia ekologis penting dan mendesak. Tentu tidak mudah. Membutuhkan usaha dan komitmen yang kuat, mulai dari tiap individu, organisasi sampai pada pemerintah. Namun hal paling utama dari semua itu adalah membangun kesadaran (awareness) ekologis. Yaitu kesadaran tentang bahaya dan dampak krisis lingkungan. buy legal methandienone for sale online in usa Kesadaran bahwa bumi punya perasaan. Kesadaran bahwa semesta juga bertasbih. Kesadaran bahwa merusak semesta adalah merusak manusia.

Dan ketahuilah bahwa kesadaran tersebut muncul dan terbentuk jika melalui proses tazkiyah (penyucian diri) dan tafakkur (refleksi), baik tafakkur anfus (diri) maupun tafakkur ufuq (semesta)!

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *