Oleh: Syaakir Sofyan*

Tulisan ini saya awali dengan kisah seseorang yang mengadu kepada Imam Syafi’i. Ia mengeluhkan kesempitan hidup yang dialaminya. Ia merupakan seorang pekerja yang diupah sebesar 5 dirham, namun ternyata gaji tersebut tidak mampu mencukupi kebutuhan dirinya beserta keluarganya.
Setelah menuangkan keluh-kesahnya, Imam Syafi’i menyuruhnya untuk menemui pimpinannya. Alangkah kagetnya ia, Imam Syafi’i justru menyarankan gajinya dikurangi menjadi 4 dirham! Ia pun pergi dan melaksanakan perintah Imam Syafi’i sekalipun ia sendiri tidak mengetahui maksud dan tujuan dari perintah tersebut.
Selang beberapa hari, orang itu kembali datang kepada Imam Syafi’i dan mengadukan kembali tentang kesempitan yang dialami. Ia merasa kehidupannya yang tidak kunjung mengalami membaik. Imam Syafi’i pun memerintahkannya kembali untuk menemui pimpinannya agar gajinya dikurangi menjadi 3 dirham. Orang itu pun berangkat dengan hati yang bertanya-tanya, namun ia tetap melaksanakan perintah Imam Syafi’i.
Beberapa hari kemudian, orang itu datang lagi menemui Imam Syafi’i. Ia tidak lagi mau mengeluh, tetapi bahkan berterima kasih atas petunjuk Imam Syafi’i. Rupanya uang 3 dirham justru bisa menutupi seluruh kebutuhan diri dan keluarganya, bahkan ia merasa lebih lapang. Ia pun menanyakan apa maksud dari semua perintah tersebut kepada Sang Ulama. Imam Syafi’i pun menjelaskan bahwa 3 dirham itulah yang menjadi hak atas usahanya. Adapun kelebihan 1-2 dirham selama ini justru itulah yang mencabut keberkahan atas harta yang ia peroleh ketika bercampur dengan 3 dirham tersebut.
Imam Syafi’i juga berkata: “Berkumpulnya yang haram dengan yang halal agar ia menjadi banyak, namun yang haram ketika masuk ke dalam yang halal itu, ia merusaknya…”.
Kisah di atas merupakan ibrah bagi kita semua bahwa gaji/pendapatan yang diperoleh haruslah menjadi cerminan atas pekerjaan yang kita lakukan. Jangan pernah berharap mendapatkan gaji yang besar dengan pekerjaan yang kecil. Kita juga jangan berbangga atas gaji yang besar, padahal etos kerja kita tidak sebanding dengan gaji yang diterima.
Angka hanyalah simbol matematis untuk mewakili nilai atau jumlah tertentu. Kita terkadang senantiasa melihat angka sebagai suatu tingkatan yang berdasarkan kuantitas. Semakin banyak jumlah yang diperoleh, maka akan semakin bagus. Paradigma semacam ini telah mengakar pada seluruh aspek kehidupan sosial, khususnya pada sisi ekonomi. Mengejar seberapa banyak harta kekayaan lantas menjadi tujuan hidup layak, bahkan sebagai standar untuk mencapai reputasi sosial.
Nyatanya, mengumpulkan harta yang berlimpah bukanlah jaminan mencapai kesejahteraan. Begitu banyak contoh di tengah kita, dengan harta yang berlimpah bahkan dengan reputasi yang sangat mentereng malah membawa ke jurang kehancuran yang tidak hanyak berdampak kepada kehancuran diri semata, namun juga kepada istri, anak, dan keluarga. Bahkan, tidak jarang kita menemukan orang yang mengejar pendapatan yang tinggi, namun berharap pekerjaan yang mudah dan jalur yang instan.
Dengan demikian, kita perlu menghidupkan kesadaran diri atas kepantasan yang kita peroleh, sesuai pekerjaan yang kita lakukan. Hal tersebut akan memberikan kualitas hidup yang tidak hanya orientasi pada aspek jasmani, namun insya Allah jiwa juga akan terasa damai dan tentram. Segalanya berujung kepada keberkahan atas yang kita peroleh.
*Santri Kehidupan, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Datokarama


Add a Comment