Oleh: Muhammad Patri Arifin*

Bulan lalu, salah seorang cendekiawan muslim melontarkan pernyataan terkait Firaun. Ucapan beliau menuai perhatian setelah mengibaratkan Pak Presiden (entah sengaja atau tidak) sebagai Firaun, dan dua tokoh elit di negeri ini sebagai Qarun dan Haman. Sayangnya, alasan mencitrakan ketiga tokoh tersebut tidak dijelaskan, namun jika menganalisa isi video yang beredar, indikator utamanya adalah kekuasaan.
Dalam al-Qur’an, kekuasaan absolut Firaun memang ditopang oleh oligarki yang kuat, kekuatannya didukung oleh tiga kaum elit. Pertama, kekuatan militer oleh Haman (QS.28:6,8,38, QS.29:39, QS.40:36-37). Kedua, pemuka agama yang ilmunya hanya digunakan untuk kepentingan pribadinya oleh Bal’am (QS.7: 175-177). Ketiga, kekuatan finansial ditopang oleh hartawan yang diwakili oleh Qarun (QS.28:76-82).
Secara historis, Firaun merupakan gelar bagi penguasa Mesir, namun Firaun juga bisa menjelma menjadi suatu sifat ke dalam diri siapapun, terutama bagi mereka yang haus kekuasaan dan kesempurnaan diri. Kenapa kesempurnaan diri? Dalam banyak riwayat Firaun diketahui hidup dalam rentang usia yang sangat panjang, tanpa pernah kesusahan dan ditimpa sakit dalam hidupnya, kerongkongannya bahkan tidak pernah tersentuh panasnya dahaga. Ia diuji dengan luputnya ketidakberdayaan selama hidupnya, sayangnya hal itu disalah-artikan, disalah-sangkakan sebagai kesempurnaan dirinya.
Jangankan Firaun, manusia secara umum telah melukiskan dominasinya di bumi, bahkan melampaui batasan ketetapan Tuhan terhadap mereka. Hal itu mudah, mengingat kemampuan yang dimiliki melebihi makhluk lain di semesta. Potensi yang dilekatkan padanya sangat bisa mengantarnya pada pengukuhan diri sebagai penguasa dunia, tak ada yang tak bisa mereka tundukkan.
Pada titik ini, manusia kadang lupa akan keterbatasan potensinya, bahwa dalam kenyataannya kelebihan sepaket dengan kekurangan. Manusia bisa berkembang dan berkurang, ia bisa hidup dan tentu saja mati.
Masalahnya kemudian, banyak yang tak menyadari hal itu, mungkin saja kita. Sebab kitalah yang selama ini begitu terkesima dengan kemampuan bekerja sama yang kuat, mengubah wajah dunia, membangun koloni, mendirikan peradaban. Peradaban yang kita gunakan menyematkan diri sebagai penguasa, sesatnya bahkan sampai menuhankan diri. Alasannya sederhana, tuhan tentu saja tak mati, itu mustahil.
Setelah itu, kita dirasuki pelan-pelan anggapan kesempurnaan diri. Kita berubah, tak lagi menerima kenyataan saat menemukan cacat dalam perilaku dan diri, seperti Firaun yang memerangi siapa saja yang mencoba mewartakan kekurangannya (QS.2:49, QS.28:4, QS.40:37, QS.7:127) karena begitu leluasanya keujuban menggerogoti. Tak ada yang paling membuatnya begitu terkesan selain dirinya sendiri. Kisahnya menjadi salah satu bukti, cerita tentang seorang raja penuh ambisi, memproklamirkan diri sebagai ilahi (QS.79:23-24), meski tahtanya hanya berupa kursi, jauh bahkan tak akan pernah menyamai ‘arasy, tahta Tuhan yang pasti, Allah yang Maha Menguasai.
Mungkin memang ada benarnya, bahwa kesempurnaan diri hanyalah ekspektasi berlebihan dari seseorang yang selama ini terjebak oleh pujian dan kekuasaan. Walau sebenarnya, pujian itu hanya pemanis buatan yang dilontarkan bawahan sebagai modal ambisi lain, tetapi itu mampu membuat kita kehilangan keseimbangan, akan kekurangan dan kelebihan yang selama ini hidup berdampingan untuk mengontrol konsepsi manusia tentang dirinya, mengontrol ego. Serupa Firaun yang akhirnya tak mampu melawan deru ombak saat terjebak di antara dinding lautan yang dibelah Musa (QS.2:50, QS.20:77-78). Ia begitu lemah, penuh kekurangan, namun terjebak oleh keangkuhan yang selama ini ia besarkan. Begitulah buah dari obsesinya terhadap kesempurnaan diri.
Ia mati dalam penyesalan, kesengsaraan, meski akhirnya ia berserah diri mengakui ketuhanan Tuhan yang disembah Musa dan Harun (QS.10:90), namun tak membuahkan pengampunan. Jasadnya diselamatkan, tidak dengan jiwa dan keangkuhannya (QS.10:92). Ia lantas kaku membisu, memberitakan akhir kisahnya dalam kesunyian di lembah para raja, tepi barat Sungai Nil, Mesir.
Meski demikian, tak terpungkiri perubahan masa membentuk narasi baru kisah tersebut di zaman modern. Bukan lagi tentang rezim Firaun dan agresinya terhadap Musa dan kaumnya. Namun kita dan agresi ketamakan terhadap diri, tokohnya berbeda, alurnya sama. Sungguh kematian Firaun tak begitu saja mematikan watak yang pernah ia lahirkan. Ada yang tumbuh bersama kelahiran masa-masa baru, berkembang dan mengakar dalam diri, entah kita atau siapa. Kalaupun iya, kita mesti melepaskan diri dari belenggu keangkuhan yang selalu memberikan dorongan mengobsesikan kesempurnaan diri, ujub. Jika tidak, mungkin kitalah Firaun berikutnya.
Dengan cara itu, kita akan menciptakan jarak dengan segala hal yang merusak kesempurnaan sesungguhnya, kesempurnaan yang lahir dari pengakuan dan penghambaan diri kepada Allah, Tuhan dari yang mengaku-aku sebagai tuhan. Karena sejatinya,
اَلْعَجْزُ عَنْ دَرْكِ اْلإِدْرَاكِ إِدْرَاكٌ
“Kesadaran dan pengakuan diri akan ketidakmampuan mencapai kesempurnaan itulah KESEMPURNAAN”.
*pengasuh Pesantren Anwarul Qur’an, saat ini sedang studi S3 di Jakarta


Add a Comment