
Oleh: Ahmad Arief, Lc., M.H.I
Kecerdasan Buatan atau sering disebut Artificial Intelligence (AI) menjadi salah satu fokus pengembangan ahli yang berkecimpung dalam dunia teknologi informasi dan komunikasi. Jika ingin melihat AI dalam bentuk fiksi maka suara “Jarvis”dalam film Iron Man merupakan puncak AI yang diidamkan para ahli, sedangkan di dunia nyata sekarang bentuk AI bisa dengan mudah didapatkan di smartphone android atau apple dengan menyuarakan kalimat perintah “ok, Google” atau “hai, Siri” pada piranti seluler kita. Bentuk lainnya juga bisa dilihat dari situs web yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan yaitu openai.com atau lebih dikenal dengan nama ChatGPT.
ChatGPT seperti namanya merupakan robot virtual berbentuk chat yang didukung kecanggihan kecerdasan buatan (AI). Sederhananya, ketika seorang pengguna ingin bertanya satu hal, maka software akan bergerak mengumpulkan semua jawaban yang terkait, melakukan filterisasi secara cerdas dan menyajikan jawaban yang diminta oleh penanya melalui kolom chat.
Menariknya lagi selama menulis artikel ini, saya mencoba berinteraksi dengan ChatGPT. Saya bertanya dan ChatGPT pun menjelaskan kepada saya 5 poin kelemahan yang dimilikinya:
- Ketergantungan pada data yang telah ada sebelumnya, olehnya bisa saja data tersebut bersifat bias dan tidak mewakili seluruh variasi bahasa.
- Ketidaktahuan terjadi jika jawaban pertanyaan tidak ada dalam data yang telah dipelajari
- Kesalahan mengenali dan memahami, bisa disebabkan karena salah input pertanyaan atau ketidakjelasan pertanyaan atau keterbatasan dalam memahami bahasa pertanyaan.
- Kurangnya pemahaman akan konteks.
- Tidak dapat berpikir kreatif.
Lalu ketika saya tanyakan kelebihannya pada kolom chat, ChatGPT juga menjawab dengan 5 poin berikut:
- Kemampuan untuk memproses bahasa dengan cepat.
- Tersedia 24 jam
- Kemampuan mempelajari dan mengembangkan pemahaman terhadap bahasa baru
- Kemampuan beradaptasi dengan berbagai pengguna
- Menghemat waktu dan sumber daya.
Potongan diskusi di atas dapat menjadi parameter dalam menentukan posisi AI adalah lawan atau kawan, atau ternyata akan memunculkan posisi baru sebagai pihak yang menimbang di antara keduanya. Menjadikan AI sebagai lawan, kemungkinan adalah pandangan impulsif yang melawan kemajuan teknologi dalam memudahkan pekerjaan manusia, perkembangan AI ke depannya dipastikan akan mempermudah kehidupan, meskipun efek negatif seperti hilangnya banyak profesi yang dikerjakan manusia sekarang, akan menjadi efek domino. Menjadikannya sebagai kawan, ditinjau dari 5 kelemahan yang ada tadi, membuat ChatGPT menjadi kawan yang kurang asyik.
Sebagai seorang muslim yang berinteraksi dengan AI, kita tidak mesti menjadikan ia lawan atau kawan, tetapi kita perlu menimbang seluruh kelebihan dan kekurangan AI, dan menggunakan prinsip-prinsip dasar agama sebagai remnya. Salah satu prinsip asasi yang dapat digunakan adalah perintah Iqra’ yang menjadi kata pamungkas di saat pertama kali wahyu turun kepada Rasulullah saw. Iqra’ menjadi pondasi awal peradaban Islam untuk mencerahkan peradaban dunia, olehnya seorang muslim tidak bisa melupakan perintah tersebut, di manapun tempat dan waktu yang dilaluinya.
Prof. Quraish Shihab mengungkapkan Iqra’ merupakan pekerjaan menghimpun, merangkai huruf-huruf atau kata adalah pekerjaan menghimpun, tidak menjadi sebuah kewajiban menghimpun yang dimaksud adalah terbatas hanya pada teks tapi dapat digunakan pada maksud yang lebih luas, sehingga Iqra’ selalu dapat bermakna membaca, meneliti, menelaah, mendalami, dan menyampaikan.
Jika seorang muslim ingin melakukan Iqra’ maka setidaknya akan ada 3 langkah yang dijalankan yaitu merencanakan, memproses, lalu menyimpulkan. Pada 3 tahapan tersebut, posisi AI hanyalah sebagai alat bantu perencanaan dalam Iqra’, bukan sebagai alat tepat untuk memproses dan menyimpulkan pekerjaan Iqra’.
AI bukan mesin yang kreatif tanpa dukungan data yang telah diinput ke dalam databasenya. AI bukanlah mufti karena tidak dapat menggali konteks sebuah pertanyaan sebagaimana jika seorang awam meminta fatwa. Memproses dan menyimpulkan dalam pekerjaan Iqra’ adalah kerja akal dan hati yang telah ditanamkan kepada manusia sebagai rahmat dari Allah. Hanya manusia dengan seluruh kesadarannya yang dapat mengkreasikan kembali hasil rencana yang didapatkan dari AI, hanya manusia yang bisa menggali konteks yang ada pada setiap teks lalu menyesuaikan dengan realitasnya. Perintah Iqra’ bagi seorang muslim adalah pekerjaan mulia untuk membantu kemanusiaan dan menjadikannya sebagai kunci untuk meraih kemaslahatan di hari akhir nanti.
Yah, mungkin suatu saat akan ada masa di mana AI akan mampu mengkreasi dan membaca konteks, atau mungkin menggantikan seorang muslim dalam melakukan pekerjaan Iqra’. Ketika itu terjadi, mungkin saja seorang muslim telah kehilangan keislamannya karena telah mengkhianati perintah pamungkas Iqra’ sehingga tidak lagi bergairah untuk terus belajar. Yah, pada akhirnya tulisan ini akan saya tutup dengan wajangan Imam al-Syafii sebagai motivasi agar kita tidak berhenti ber Iqra’:
Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus menanggung perihnya kebodohan.
*Pengasuh Pesantren Anwarul Qur’an yang saat ini studi S3 di Makassar

Add a Comment