URBAN SUFISME

Perkembangan kehidupan dunia dari masa ke masa tentu mengalami kemajuan yang sangat pesat baik itu dari segi sains maupun teknologinya yang memberikan kemudahan bagi penduduk dunia untuk melakukan aktivitas kehidupannya. Bahkan bukan hanya untuk memudahkan dalam pekerjaan akan tetapi menyediakan hiburan dengan segala gemerlapnya untuk memenuhi kebutuhan rileks bagi manusia.
Akan tetapi seiring berjalannya waktu ternyata perkembangan teknologi tetap saja tidak dapat memenuhi segala keinginan dan kebutuhan manusia terutama kebutuhan spiritual yang mana hal itu adalah kebutuhan untuk menerangi hati yang hampa yang terdapat pada diri manusia ditengah gemerlapnya kehidupan di kota-kota besar bahkan perkampungan.
Maka ditengah-tengah kekosongan hati, masyarakat perkotaan merasa perlu mencari ketenangan dengan kembali menghidupkan suasana-suasana religi, zikir, membaca al Quran dan ibadah lainnya agar hati merasa tenang karena lebih dekat dengan sang maha pemberi ketenangan yaitu Allah SWT. Gairah inilah yang dinamakan dengan urban sufisme.
Urban berarti masyarakat perkotaan sedangkan sufime berarti gerakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam prakteknya, uban sufisme menawarkan hal yang berbeda sufisme terdahulu. Jika pada awalnya sufisme selalu terkait dengan adanya ikatan erat atau atau dikenal dengan tarekat dengan seorang pembimbing yang disebut mursyid, maka sufisme perkotaan tidak mensyaraktkan hal itu. Masyarakat urban hanya perlu mengamalkan ibadah-ibadah yang telah diajarkan oleh guru biasa tanpa adanya baiat atau perjanjian.

“ Jika tarekat diartikan sebagai sekolah, maka sufi berarti belajar itu sendiri”
Demikian jawaban Ustadz Aliasyadi ketika ditanya apa perbedaan antara tarekat dan sufisme.jika disekolah terdapat sistemnya, tingkatannya dan lain sebagainya maka begitu juga tarekat yang terdapat mursyid sebagai pembimbing dan menuntun amalan-amalan yang harus dilakukan secara konsisten. Berbeda dengan sufisme, sufisme itu berarti gerakan untuk mendekatkan diri kepada Allah bagaimanapun caranya, apakah dia sendiri atau dilakukan bersama sama maka itu diartikan sebagai sufisme. Atau dengan cara merubah gaya hidupnya jadi lebih sederhana maka itu diartikan sufisme.
Pada masyarakat perkotaan inilah khususnya banyak bermunculan majelis-majelis zikir sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menenangkan hati. Tentu kita mengenal majelis zikir yang dipimpin oleh KH A. Shohibul Wafa Tajul Arifin di Suralaya di Jawa Barat, atau juga majelis zikir yang dipimpin oleh alm Ustadz Arifin Ilham dengan peminat dan pengikutnya yang sangat banyak. Tentu ini merupakan hal positif karena semakin banyak bermunculan majelis-majelis zikir maka tingkat spiritual masyarakat akan meningkat dan mampu menjadi benteng pertahanan iman dan moral dibalik serba-serbi kehidupan perkotaan,
Di Anwarul Quran sendiri, disini selalu mengamalkan zikir dari Syaikh Said Nursi, ciri khas dari Beliau adalah selalu mengajarkan kepada kita bahwa harus seimbang adalah antara zikir dan fikir, sehingga apabila keseimbangan itu terwujud maka akan tercipta insan yang kuat secara lahiriah dalam menjalani aktivitas duniawinya juga hatinya penuh dengan nilai-nilai spiritual dan ketaatan kepada Allah SWT.

• Hasil resensi yang disampaikan oleh Suendi Efendi, Habibu, dan Faiz serta tambahan materi dari Pembina pondok pesantren pada tanggal 26 April 2024.

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *