TEORI KONSPIRASI

Konspirasi bukan merupakan istilah baru. Kata konspirasi sendiri sudah sering kita dengar yang tafsirannya selalu merujuk pada persekongkolan dalam hal-hal negatif. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa masih sedikit masyarakat kita yang dapat memahami juga membedakan terkait dengan konspirasi dan teori konspirasi.

Konspirasi dan teori konspirasi pada umumnya terlihat sama, namun kenyataannya merupakan dua hal yang berbeda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia konspirasi merupakan persekongkolan yang dilakukan secara bersama-sama oleh dua orang atau lebih untuk menjalankan suatu rencana besar. Sedangkan teori konspirasi merupakan pandangan alternatif yang dibuat oleh kelompok tertentu tentang terjadinya suatu fenomena atau peristiwa.

KH. Aliasyadi Lc.,Ma selaku pimpinan Pondok Pesantren Anwarul Qur’an dalam kegiatan rutin bedah artikel, menjelaskan dengan sangat sederhana mengenai teori konspirasi.  Beliau berkata bahwa “konspirasi adalah hal yang reel terjadi, sedangkan teori konspirasi hal yang hanya ada dipikiran kita”. Misalnya terjadi kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seorang suami terhadap istri dengan bantuan orang ketiga yang merupakan selingkuhannya, perbuatan yang dilakukan oleh suami dan selingkuhannya ini yang disebut dengan konspirasi, dan polisi yang awalnya menduga adanya konspirasi dalam pembunuhan korban disebut sebagai teori konspirasi.

Ada beberapa jenis teori konspirasi yang sering menyebar di masyarakat, yaitu teori konspirasi agama dan teori konspirasi politik. Pak Yusuf Kalla sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia pada masa kepemimpinannya, pernah membuat program yang akan memperbaiki sound masjid agar tidak saling mengganggu. Namun karena keputusan ini, banyak orang yang mengkritik beliau, meskipun beliau adalah Ketua Dewan Masjid Indonesia, masyarakat malah beranggapan beliau telah melakukan konspirasi yang ingin menjatuhkan Islam.

Sama halnya dengan kasus Covid-19 tahun 2019 kemarin, banyak teori konspirasi bertebaran yang menyatakan bahwa Covid disebarkan dengan sengaja oleh orang kaya yang menginginkan kekayaannya bertambah dengan menjual kembali obatnya. Billgates menjadi orang pertama yang tertuduh melakukan konspirasi ini. Namun hingga kini tidak ada satupun yang dapat membuktikan kebenaran dari teori konspirasi tersebut.

Ustadz KH Aliasyadi juga memberikan contoh mengenai teori konspirasi dalam bidang politik. Dalam pemilu ada menang dan ada kalah, itu merupakan hal yang biasa, dan setiap pemilu selalu muncul teori konspirasi yang menyatakan adanya kecurangan dari pihak yang menang. Setiap pemilihan umum juga terjadi peristiwa dimana banyak Bawaslu yang meninggal maka selalu muncul teori konspirasi, padahal setelah diselidiki, petugas Bawaslu yang meninggal itu akibat dari kelelahan.

Dalam hal ini teori konspirasi sebenarnya tidak salah, Namun yang salah adalah ketika muncul pemikiran tentang konspirasi, kita tidak membuktikan kebenarannya tapi malah menyebarkannya pada orang luar atau di media sosial. Dan hal inilah yang menjadi masalah di dalam masyarakat kita khususnya dalam beragama. Masyarakat terlalu mudah menganggap adanya teori konspirasi yang terjadi, baik itu dari Yahudi maupun Syi’ah.

Ustadz KH Aliasyadi juga menambahkan penguatan dalam materi ini dengan berkata, “Kalau mencurigai itu sah-sah saja namun jangan disebar, kecuali dapat dibuktikan dengan bukti yang sangat kuat”. Beliau juga mengatakan bahwa kunci dari permasalahan ini adalah dengan memperkuat literasi.

*Materi tersebut disampaikan dalam kegiatan bedah artikel mingguan di Pesantren Anwarul Qur’an Palu, tanggal 10 Maret 2024 Oleh Zahra Tusyita, Faizatul Jannah serta Tambahan dari Pembina

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *