Pendidikan era disrupsi menjadi perbincangan serius dalam kegiatan rutin beda artikel di Pesantren Anwarul Qur’an Kota Palu. Tepat pada hari Ahad, 03 Maret 2024 tema ini disampaikan oleh tiga pemateri. Masing-masing membahas isu utama dengan pendekatan yang berbeda-beda. Tema ini cukup mendalam. Perlu penguasaan dan ketajaman analisa. Inilah yang spesial dari Pesantren Anwarul Qur’an Kota Palu. Tradisi keilmuan bukan hanya disalurkan melalui pengajian kitab, tapi juga disalurkan melalui diskusi, dialogis yang merupakan tonggak lahirnya tradisi keilmuan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa ada banyak perubahan dan perkembangan yang positif membuat ilmu pengetahuan tersalurkan dengan mudah dengan kelebihan era disrupsi. Sehingga pertanyaan yang bisa kita ajukan adalah apa sebenarnya era disrupsi itu? dan bagaimana peluang dan tantangan pendidikan kita dalam menghadapi era tersebut.?
Era Disrupsi merupakan sebuah inovasi, menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara yang baru. Ia memungkinkan untuk menggantikan teknologi lama dengan teknologi baru dengan sistem digitalisasi dengan efesiensi dan efektif. Dengan kata lain disrupsi merubah paradigma lama menjadi lebih praktis, simple, kekinian, efektif, efesien dan mampu beradaptasi dengan perkembangan dan tuntunan perubahan zaman.
Secara sederhana KH. Aliasyadi menjelaskan bahwa disrupsi merupakan mengganti sesuatu secara total. Kalau ada sebuah bangunan, kemudian salah satu bagiannya diganti atau diperbaiki, maka menurut KH. Aliasyadi itu bukan disrupsi tapi itu adalah renovasi. Disrupsi artinya semua bagian dari bangunan mulai dari pondasi sampai bagian paling atas dihancurkan, kemudian dibangun bangunan baru yang tentunya berbeda dari bangunan sebelumnya. Inilah yang disebut disrupsi, yaitu mengganti sesuatu secara total.
Selanjutnya, era disrupsi bukan hanya berdampak terhadap aspek sosial saja, tapi juga berdampak pada aspek pendidikan. Tidak bisa dipungkiri bahwa ada banyak perubahan dan perkembangan yang membuat ilmu pengetahuan tersalurkan dengan mudah dengan kelebihan era disrupsi ini, seperti kuliah online, digitalisasi perpustakaan atau e- library, dan adanya aplikasi pendidikan berbasis smartphone mobile.
Disrupsi yang terjadi di dunia pendidikan, akan membuat sistem yang dibuat bertahun-tahun menjadi tidak relevan lagi. Abizar selaku presenter dalam diskusi kali ini menjelaskan bahwa ada lima disrupsi yang terjadi di dunia pendidikan, diantaranya: Disrupsi milenial, disrupsi teknologi, disrupsi kompetensi, disrupsi kurikulum, dan disrupsi pembelajaran dan asasemen. Kesemuanya itu merupakan bagian mendasar dalam pendidikan. Tak terkecuali dalam pendidikan Islam.
Era disrupsi juga memberikan peluang bagi lembaga pendidikan Islam untuk mendapatkan informasi dalam bentuk apapun. Syaiful mengemukakan, beberapa kalangan sudah menyadari bahwa masa depan yang serba cepat ini semakin dekat. Namun jumlah informasi yang lembaga pendidikan Islam terima akan berhubungan langsung dengan teknologi yang digunakan. Hal ini dilakukan agar lembaga pendidikan Islam lebih adaptif dan inovatif. Meskipun demikian, lembaga pendidikan Islam harus tetap mempertahankan nilai-nilai klasik, karena nilai tersebut menjadi pijakan utama dalam mendidik generasi-generasi bangsa.
Berkembangnya teknologi dalam pendidikan Islam juga menjadi bagian terpenting dalam menghadapi era disrupsi ini. Pendidikan Islam harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman khsusunya dengan adanya transformasi digital saat ini baik itu tenaga pendidik maupun peserta didik harus mampu beradaptasi sehingga mampu untuk pengembangan potensi yang dimiliki.
Transformasi digital di dalam dunia pendidikan era disrupsi juga menimbulkan peluang dan tantangan yang dirasakan oleh masyarakat khususnya para pendidik dan peserta didik. A. Nizar menegaskan bahwa ada banyak faktor yang mempengaruhi peluang dan tantangan transformasi digital di dunia pendidikan. Sala-satunya lanjut Nizar adalah faktor geografis yang menyebabkan masyarakat di sebagian wilayah Indonesia kesulitan dalam mengikuti transformasi digital yang terus berjalan dan ada juga sebagian masyarakat yang sangat diuntungkan dengan berjalannya transformasi digital dalam dunia pendidikan.
Ketidakmerataan transformasi digital di era disrupsi menjadi tantangan tersendiri dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam itu sendiri. Agar generasi muda dapat melek terhadap teknologi dan beradaptasi dengan perkembangan zaman di era disrupsi ini dengan memaksimalkan dampak positif dan meminimalisir dampak negatif agar menjadi smart and good citizenship, demikian A. Nizar menegaskan ketika memaparkan artikelnya.
Sementara itu selain menjadi sebuah tantangan juga dapat memberikan sebuah peluang bagi aplikasi-aplikasi yang mudah dipelajari, maka hal tersebut dapat membawa kemudahan di dalam proses pembelajaran. Kemudahan yang terjadi dalam pendidikan membuat proses penyaluran pengetahuan semakin mudah. KH. Aliasyadi menjelaskan bahwa dulu kalau kita mau belajar dengan ulama terkemuka, maka kita harus mendatangi secara langsung, belajar secara face to face. Namun lanjut KH. Aliasyadi, perkembangan teknologi yang menggantikan sistem lama dengan cara-cara yang baru membuat kita lebih mudah mengakses apa yang sebelumnya dianggap sulit.
Dalam konteks era disrupsi Pesantren Anwarul Qur’an juga berusaha mendisrupsi beberapa aspek. Seperti, persoalan lingkungan, sistem senior junior, absensi digital, kecakapan mengelolah IT, promosi lembaga serta beberapa aspek lainnya. KH. Aliasyadi juga menjelaskan bahwa tidak semua sistem harus didisrupsi, khususnya persoalan mutu pendidikan. Itulah mengapa di Pesantren Anwarul Qur’an Kota Palu melakukan klasifikasi terkait masalah disrupsi tersebut. Hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan karakter, seperti: kejujuran, kedisiplinan, kemandirian dan seterusnya, itu tidak bisa didisrupsi. Adapun lainnya lanjut KH. Aliasyadi itu boleh, selama perubahan itu mendukung serta membantu dalam peningkatan mutu pendidikan.
Materi tersebut disampaikan dalam kegiatan bedah artikel mingguan di Pesantren Anwarul Qur’an Kota Palu, tanggal 03 Maret 2024 oleh Muh. Syaiful, A. Nizar Nursyafar, dan Abizar serta penguatan dari para Pembina Pesantren.

Add a Comment