Kata ‘ekofeminisme‘ mungkin masih asing bagi sebagian orang. Istilah ini memang masih tergolong baru meskipun gagasannya telah lama ada. Ekofeminisme terdiri dari dua kata, yaitu ‘eko’ dan ‘feminisme’. Kata ‘eko’ berasal dari bahasa Yunani, yakni ‘Oikos’ rumah atau tempat tinggal khusus untuk makhluk hidup. Adapun ilmu yang mempelajarinya disebut dengan ekologi, yang mana mempelajari hubungan manusia dengan lingkungan maupun manusia dengan makhluk hidup lainnya. Sedangkan feminisme merupakan gerakan filososfis yang memperjuangkan kesetaraan gender, melindungi hak-hak wanita dan menghindari adanya penindasan.
Pimpinan Pesantren Anwarul Qur’an Palu, KH. Aliasyadi, Lc., MA. dalam kegiatan bedah artikel hari Ahad, 21 Januari 2024, beliau menyederhanakan arti ekofeminisme ini agar santri dapat paham dengan baik, bahwa eko berarti bumi dan feminisme adalah perempuan. Secara istilah, ekofeminisme ini dapat diartikan sebagai hubungan keterkaitan antara alam dan manusia. Lantas mengapa menggunakan istilah ekofeminisme? Mengapa tidak ekomaskulin atau ekohumanis? Hal ini dikarenakan alam dan perempuan mempunyai kesamaan sebagai sumber kehidupan dan kemampuannya untuk mereproduksi. Keterkaitan antara alam dan perempuan ini dapat terlihat bahwa keduanya mempunyai pengaruh sangat besar, alam sebagai pusat memperoleh makanan dan perempuan sebagai pusat yang memberikan kehidupan bagi anak-anaknya, memberikan kasih sayang, mempunyai sifat ingin selalu menjaga dan melindungi. Pada fitrahnya juga, laki-laki tidak terlalu peduli, sementara perempuan kepeduliaannya lebih besar dalam banyak hal.
Perempuan dan alam bisa dikatakan sama-sama memiliki rahim, yang mana menjadi pusat berlangsungnya reproduksi. Tidak akan ada kehidupan tanpa adanya perempuan, begitupun tidak akan ada kehidupan tanpa alam ini. Munculnya ekofeminisme pada tahun 1974 di Prancis, yang mana gerakan ini mengkritisi bahwa perempuan seringkali dijadikan objek semata, menjadi korban penindasan dan dizalimi. Sama halnya dengan alam yang seolah-olah dinomorduakan dan dieksplotiasi semaunya tanpa ada rasa tanggung jawab, alam banyak dirusak oleh perusahan-perusahaan. Paham ekofeminisme ini juga semakin marak setelah melandanya wabah covid-19. Fenomena yang mengejutkan banyak terjadi ketika itu, seperti bertambahnya penggunaan sampah plastik dikarenakan seringnya belanja secara online. Upaya yang dapat dilakukan dalam meminimalisir angkanya saat ini adalah dengan memberikan pemahaman kepada pelaku perusak lingkungan tersebut bahwa dampak yang diberikan akan sangat mengancam keberlangsungan hidup manusia.
Orang yang tidak paham ekofeminisme cenderung akan memposisikan diri sebagai subjek, berlagak penguasa di muka bumi dan berbuat kerusakan. Padahal alam juga berhak memiliki kehidupan. Ekofeminisme ini menuntut kepada perempuan untuk peduli pada alam. Tatkala perempuan tidak rela melihat anaknya kesusahan, begitupula perempuan tidak tega melihat alam ini dirusak. Ada sebuah film yang cukup menarik berjudul “Our Mothers’ Land” menggambarkan gerakan perempuan yang mampu berdaya dan tidak pernah lelah dalam menjaga Ibu Bumi tercinta. Sebagaimana yang terjadi di India, seorang perempuan bernama Vandana Shiva yang memfokuskan perhatian pada persoalan perempuan dan lingkungan. Gerakan-gerakan yang ia lakukan menginginkan agar terjadi pelestarian lingkungan dan upaya terlepas dari ketertindasan.
Ekofeminisme ini selanjutnya dapat menjadi jalan tengah atas isu ketidaksetaraan gender, mengembalikan hak-hak perempuan. Seperti pada Suku Kaili, dimana seorang laki-laki (Raja) yang menikahi perempuan cerdas, pintar, dan penuh kasih sayang. Hal ini menjadikan laki-laki tersebut hidup lebih arif dikarenakan besarnya pengaruh perempuan tersebut. Perempuan punya posisi yang setara dengan laki-laki, seperti dalam acara-acara adat sampai pada pengambilan keputusan. Orang-orang suku kaili lebih mempercayai perempuan dalam memelihara, baik harta maupun keluarga. Sebagaimana pula alam membutuhkan kita, kita juga membutuhkan alam. Sehingga tidak cukup hanya tau bagaimana menggunakan, tetapi kita juga harus bisa memelihara dan merawatnya.
Faktanya, banyak wanita yang tidak paham teori ekofeminisme, tetapi pada praktiknya sendiri sudah menunjukkan hal tersebut. Seperti yang ada di Pesantren Anwarul Qur’an Palu, secara tidak sadar santri-santri sudah menerapkan ekofeminisme ini sendiri, dimana besarnya perhatian santri-santri Anwarul Qur’an terhadap sampah di sekitarnya. Santri sudah terdidik untuk mencintai lingkungan, memilah dan mengelola sampah, dan tidak akan ada lagi santri yang berani membuang sampah sembarangan. Hal terpenting juga yaitu kita belajar baik-baik, agar kelak ketika kita punya posisi di Negara ini, kita dapat menciptakan perubahan yang lebih baik, menjadikan lingkungan yang asri dan lestari.
*Materi tersebut disampaikan dalam kegiatan bedah artikel mingguan di Pesantren Anwarul Qur’an Palu, tanggal 21 Januari 2024 oleh Mudzikatul Haqiqoh, A. Nihal Nursyafar, dan Balqis, serta tambahan dari Para Pembina Pesantren.
