sandal ilustrasi

180 Derajat

Oleh: Mayyadah*

Beberapa bulan yang lalu, Pak Kiai merasa senang setiap kali ia melangkahkan kaki keluar masjid. Sepasang sandalnya sudah berbalik arah 180 derajat, searah jalan menuju rumahnya. Perasaan senangnya itu sama seperti ketika ia keluar dari sebuah warung makan dan motornya telah dituntun balik oleh tukang parkir menuju arah keluar. Pak Kiai juga mendadak terkenang saat pertama kali masuk sekolah dasar. Kekhawatirannya terhapus oleh rasa riang, melihat bapaknya sudah lebih dulu menjemputnya di gerbang sekolah.

Pak Kiai pun penasaran, siapakah orang yang selalu membalik-arahkan sandalnya. Ia berpikir, mungkin orang itu adalah santrinya, mungkin juga jamaah lain. Ia pun berkata kepada istrinya: “pastinya dia orang yang paling rajin ke masjid, tho, sama rajinnya dengan saya.” Istrinya yang suka curigaan itu menimpali: “pasti dia ndak pernah salat sunnah bakdiyah!” Istrinya berpikir kalau pun dia salat, salatnya secepat kilat karena harus keluar lebih dulu dari Pak Kiai. Setelah bermain detektif Conan, akhirnya Pak Kiai dan istrinya memastikan bahwa orang itu adalah seorang santri. Santri siapa, masih wallahu a’lam, investigasi masih dalam proses.

Obrolan Pak Kiai dan istrinya berlanjut bakda Isya. Dari semua hal yang bisa dilakukan seorang santri dalam pengabdiannya, kok dia menaruh perhatian ke alas kaki gurunya. Banyak santri yang berlomba-lomba ingin mengabdi pada Pak Kiai. Ada yang menawarkan diri mencuci motornya, ada yang membuatkan teh setiap pagi, ada yang ikhlas mengantar Pak Kiai kemana-mana tanpa dibayar layaknya sopir ojek online, adapula yang ingin jadi tukang pijat meski ditolak (tidak dapat acc dari istri Pak Kiai).

Tetapi santri yang satu itu memilih menyenangkan kiainya lewat sepasang sandal. Sepasang sandal sederhana yang paling rendah posisinya dari yang lain. Meski sedemikian sederhana, sandal itulah yang menjamin bahwa Pak Kiai bisa melangkah dengan nyaman ke masjid. Sandal itulah yang berjasa besar di setiap perjalanan Pak Kiai meski tak semenonjol sarung Pak Kiai atau kopiahnya.

Sandal itu bahkan tak pernah terlihat saat Pak Kiai bertemu jamaah, tak pernah diperkenalkan saat kiai menyambut tamu-tamu penting di pesantren. Sandal itu juga tidak pernah diungkit ketika Pak Kiai membagi ilmunya lewat pengajian. Sandal itu senantiasa setia menunggu, di sebuah tempat yang paling luar. Dia tidak perlu menonjolkan diri. Dia tahu tupoksinya sebatas alas kaki. Dia begitu tawadhu’ di tengah zaman serba pamer sekarang ini, meski dia juga tahu betapa Pak Kiai akan pusing jika kehilangan dirinya.

Bisa jadi, santri yang membalik sandalnya itu, sedang belajar meneladani sikap sang sandal. Sepasang sandal yang tahu diri, tahu menempatkan diri. Tidak seperti kucing-kucing kurang adab di pesantren, sukanya rebahan di atap mobil atau jok motor. Mungkin santri itu juga sudah susah mencari manusia yang layak diteladani. Demikianlah, santri itu akhirnya menjadi inti obrolan Pak Kiai dan istrinya saat makan malam. Beruntunglah dia, karena biasanya topik bincang-bincang makan malam Pak Kiai dan istrinya berkisar tentang Elon Musk, Messi, Jokowi, hingga Jonas Jonasson.

Belum terjawab teka-teki siapa santri itu, tiba-tiba keesokan hari, sandal Pak Kiai tidak lagi berubah posisi. Awalnya Pak Kiai masih positive thinking, mungkin santri itu sakit jadi tidak ke masjid. Atau mungkin dia sudah sadar akan keutamaan salat sunnah bakdiyah. Namun hari berganti hari, posisi sandal Pak Kiai masih seperti ketika ia melepasnya saat masuk masjid. Lha, kemana orang yang membalik sandalnya itu?

“Mungkin dia sudah lelah, Sayang, karena ndak pernah diapresiasi”, komentar istri Pak Kiai yang sebenarnya menyindir suaminya yang kurang peka. Seperti biasa, sindirannya selalu dibalut sapaan Sayang. Tadi pagi ia susah-payah membuat kue, yang tidak pernah dibuat seumur hidupnya, tapi Pak Kiai tidak memberikan nilai A.

“Apresiasi saya kan dengan cara berbeda…” sahut Pak Kiai. Ia berpikir bahwa jika terus bersikeras mencari siapa orangnya, lalu berterima kasih padanya, bisa-bisa penyakit riya’ menghinggapi hati santri itu. Apalagi seorang santri, yang kekuatannya menghadapi pujian masih level satu, apalagi kalau yang puji adalah kiainya.

“Mungkin dulu dia kurang kesibukan, mungkin sekarang dia sudah punya kesibukan baru.” Pak Kiai manggut-manggut mendengar ocehan istrinya. Ia diam seribu bahasa. Manusia begitu cepat berubah, jarang yang istiqomah. Ala kulli haal, bukan sandalnya yang menghilang.

*pengasuh Pesantren Anwarul Qur’an yang menyamar jadi dosen

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *